Pengukuran Laju Endap Darah (Led): Prinsip, Metode, Interpretasi, Dan Nilai Rujukan
Ditulis oleh: Imaduddin Badrawi, S.Tr.Kes (Ahli Teknologi Laboratorium Medik)
Ditinjau oleh:
INFOLABMED.COM - Pengukuran Laju Endap Darah (LED) merupakan salah satu parameter laboratorium yang fundamental dalam evaluasi kondisi medis, khususnya yang berkaitan dengan proses inflamasi. LED, atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR), memberikan indikasi tentang kecepatan eritrosit (sel darah merah) mengendap di dasar tabung saat darah antikoagulan dibiarkan dalam posisi vertikal selama periode waktu tertentu.
Fenomena pengendapan ini dipengaruhi oleh komposisi protein dalam plasma, yang mana perubahan konsentrasinya seringkali berkorelasi dengan adanya inflamasi dalam tubuh. Oleh karena itu, peningkatan LED secara umum menandakan adanya proses peradangan, meskipun sifatnya yang non-spesifik memerlukan interpretasi yang cermat dalam konteks klinis pasien.
Prinsip Ilmiah di Balik Pengukuran LED
Prinsip dasar pengukuran LED terletak pada observasi fisik pengendapan eritrosit. Dalam kondisi normal, eritrosit cenderung saling menolak karena muatan negatif yang dimilikinya, sehingga laju pengendapannya relatif lambat.
Namun, ketika terjadi inflamasi, konsentrasi protein fase akut, seperti fibrinogen dan globulin, dalam plasma meningkat. Protein-protein ini memiliki kemampuan untuk mengikat permukaan eritrosit, membentuk agregat yang lebih besar dan berat.
Agregat eritrosit yang lebih berat ini kemudian akan mengendap lebih cepat di dasar tabung karena pengaruh gravitasi. Tinggi kolom plasma yang terpisah di atas lapisan eritrosit setelah satu jam pengukuran merupakan nilai LED, yang dinyatakan dalam satuan milimeter per jam (mm/jam).
Semakin tinggi kolom plasma yang terpisah, semakin cepat eritrosit mengendap, yang mengindikasikan adanya peningkatan proses inflamasi.
Alat dan Bahan yang Diperlukan untuk Pengukuran LED
Pelaksanaan pengukuran LED membutuhkan beberapa alat dan bahan spesifik untuk memastikan akurasi dan reliabilitas hasil. Metode yang paling umum digunakan adalah metode Westergren.
Peralatan yang esensial meliputi:
| Item | Deskripsi |
|---|---|
| Tabung-LED Westergren | Tabung kaca panjang dengan diameter dalam 2,5 mm, dilengkapi skala ukur dari 0 hingga 200 mm. Skala biasanya ditandai per 10 mm (misalnya, angka 1 mewakili 10 mm). |
| Penyangga Tabung Westergren | Alat untuk menahan tabung Westergren agar berdiri tegak lurus. |
| Tabung Reaksi / Botol | Wadah untuk mencampur darah dengan antikoagulan sebelum dimasukkan ke tabung Westergren. |
| Spuit Berskala (misalnya 5 ml) | Untuk mengambil darah vena dari pasien dan mengukur volumenya. |
| Pipet Berskala (misalnya 5 ml) | Untuk mengambil dan memindahkan antikoagulan serta darah ke dalam tabung Westergren. |
| Timer | Untuk menghitung durasi pengendapan selama 1 jam. |
| Antikoagulan | Larutan trinatrium sitrat 3,2% atau larutan dikalium EDTA 10%.
Penggunaan antikoagulan mencegah pembekuan darah, sehingga eritrosit dapat mengendap. |
Prosedur Pelaksanaan Metode Westergren
Teknik pelaksanaan pengukuran LED harus dilakukan dengan cermat untuk menghindari kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Persiapan Antikoagulan: Siapkan tabung reaksi atau botol dengan menambahkan 0,4 ml larutan trinatrium sitrat 3,2%.
2. Pengambilan Spesimen Darah: Lakukan pengambilan darah vena dari pasien.
Pemasangan tourniquet harus dilakukan selembut mungkin untuk menghindari hemolisis. Setelah pungsi vena dan pelepasan tourniquet, ambil 2 ml darah ke dalam spuit berskala.
3. Pencampuran Darah dan Antikoagulan: Lepaskan ujung spuit, lalu masukkan 1,6 ml darah ke dalam tabung reaksi yang berisi antikoagulan hingga mencapai volume total 2,0 ml (sesuai tanda batas).
Goyangkan tabung secara perlahan untuk mencampur darah dan antikoagulan secara homogen. Penting untuk diingat bahwa pengukuran LED harus dilakukan selambat-lambatnya 2 jam setelah pengambilan spesimen darah.
4. Pengisian Tabung Westergren: Gunakan pipet berskala (dengan karet pengisap) untuk mengisi tabung Westergren dengan campuran darah dan antikoagulan hingga mencapai tanda batas 0 mm.
5. Penempatan Tabung Westergren: Letakkan tabung Westergren yang telah terisi pada penyangganya.
6. Pastikan posisi tabung benar-benar tegak lurus (vertikal).
Verifikasi dan Kondisi Lingkungan: Periksa kembali apakah tidak ada gelembung udara yang terperangkap di dalam tabung. Pastikan penyangga tabung stabil di atas permukaan meja yang datar.
Letakkan tabung beserta penyangganya di tempat yang bebas dari getaran (misalnya, jauh dari mesin centrifuge), bebas angin, tidak berdekatan dengan sumber panas seperti radiator, dan tidak terpapar sinar matahari langsung. Kondisi lingkungan yang stabil sangat krusial untuk mendapatkan hasil yang akurat.
7. Periode Inkubasi dan Pembacaan Hasil: Atur timer untuk menunggu selama tepat 1 jam.
Setelah periode inkubasi selesai, ukur tinggi kolom plasma yang terpisah di atas lapisan eritrosit. Pembacaan skala dilakukan dari tanda batas 0 mm di bagian atas tabung ke arah bawah, mengikuti tinggi kolom plasma yang jernih.
Interpretasi Hasil LED dan Nilai Rujukan
Hasil pengukuran LED dilaporkan dalam satuan milimeter per jam (mm/jam). Nilai rujukan LED dapat bervariasi antar laboratorium, namun secara umum, kisaran normal pada orang dewasa dapat dilihat pada tabel referensi.
Penting untuk dicatat bahwa pada pasien yang mengalami dehidrasi, pengukuran LED mungkin tidak terlalu bermakna karena perubahan konsentrasi protein plasma dapat dipengaruhi oleh volume cairan tubuh.
| Kelompok Usia | Rentang Normal LED (mm/jam) |
|---|---|
| Wanita < 50 tahun | 0-20 |
| Wanita > 50 tahun | 0-30 |
| Pria < 50 tahun | 0-15 |
| Pria > 50 tahun | 0-20 |
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Peningkatan LED
Peningkatan nilai LED merupakan indikator adanya proses inflamasi dalam tubuh. Berbagai kondisi klinis dapat menyebabkan peningkatan LED, antara lain:
Infeksi: Baik infeksi akut maupun kronis merupakan penyebab umum peningkatan LED. Respon inflamasi terhadap patogen akan meningkatkan kadar protein fase akut dalam darah.
Penyakit Inflamasi Sistemik: Kondisi seperti artritis reumatoid, lupus eritematosus sistemik, vaskulitis, dan penyakit radang usus (inflammatory bowel disease) seringkali menunjukkan peningkatan LED yang signifikan. * Infark Miokardium: Pada fase awal infark miokardium, terjadi respon inflamasi yang dapat memicu peningkatan LED.
Keganasan (Kanker): Beberapa jenis keganasan, terutama yang disertai dengan peradangan atau nekrosis jaringan, dapat menyebabkan peningkatan LED. Nilai LED yang sangat tinggi terkadang ditemukan pada pasien dengan tuberkulosis, tripanosomiasis, dan keganasan tertentu.
Kehamilan: Selama kehamilan, terjadi perubahan fisiologis pada komposisi darah yang dapat menyebabkan peningkatan LED.
Anemia: Pada pasien dengan anemia, terutama yang berat, LED juga dapat meningkat.
Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rasio sel darah merah terhadap plasma yang berkurang, sehingga memungkinkan eritrosit mengendap lebih cepat.
Kondisi Lain: Cedera jaringan berat, pascaoperasi, dan kondisi lain yang memicu respon inflamasi juga dapat meningkatkan LED.
Pengukuran Laju Endap Darah (LED) adalah metode diagnostik laboratorium yang sederhana namun informatif, memberikan gambaran umum tentang keberadaan proses inflamasi dalam tubuh. Meskipun demikian, interpretasi hasil LED harus selalu dikombinasikan dengan riwayat klinis pasien, pemeriksaan fisik, dan hasil tes laboratorium lainnya untuk mencapai diagnosis yang akurat dan penatalaksanaan yang tepat.
Pemahaman yang mendalam mengenai prinsip, metode, dan interpretasi LED sangat penting bagi para profesional medis untuk memaksimalkan manfaat diagnostiknya.
Referensi:
PEDOMAN TEKNIK DASAR UNTUK LABORATORI1JM KESEHATAN, Ed. 2. 2003. Penerbit Buku Kedokteran EOC
Post a Comment