Kisah Audrey Leishman: Ibu Asal Virginia Beach yang Selamat dari Sepsis dan Kini Berjuang untuk Kesadaran Publik
INFOLABMED.COM - Pada tahun 2015, Audrey Leishman adalah seorang wanita berusia 31 tahun yang sehat dan menjalani kehidupan normal. Namun, apa yang awalnya ia kira sebagai flu musiman biasa berubah menjadi mimpi buruk yang mengancam jiwa. Kondisinya memburuk dengan cepat hingga ia harus dirawat di unit perawatan intensif (ICU) selama 10 hari, termasuk lima hari dalam kondisi koma yang diinduksi secara medis. Pengalaman traumatis ini menjadi titik balik hidupnya, mendorongnya untuk mendedikasikan diri dalam meningkatkan kesadaran publik mengenai sepsis.
Gejala Awal yang Menipu
Leishman, istri dari pegolf profesional Marc Leishman, menceritakan bahwa semuanya bermula saat ia merasa tidak enak badan ketika merawat kedua putranya yang masih kecil. Ia mengalami gejala seperti nyeri tubuh, demam, dan merasa kedinginan. Karena belum pernah menderita flu sebelumnya, ia mengasumsikan gejala tersebut adalah influenza. Namun, seiring berjalannya waktu, kondisinya justru memburuk secara drastis. Ia bahkan mengalami kebingungan mental, nyeri yang tak wajar pada siku dan jempol kakinya, serta mimisan hebat yang memaksa temannya untuk mendesak ia segera mencari bantuan medis.
Di fasilitas medis, dokter menemukan suhu tubuh dan detak jantungnya tidak normal, sementara tekanan darahnya berada pada tingkat yang berbahaya. Leishman kemudian dilarikan ke ruang gawat darurat. Pada masa itu, kesadaran rumah sakit terhadap sepsis belum semaju sekarang. Ia sempat salah didiagnosis dengan penyakit autoimun sebelum akhirnya tim medis menyadari bahwa ia menderita sepsis yang telah memicu Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS).
Perjuangan Panjang Menuju Kesembuhan
Setelah keluar dari koma, tantangan sesungguhnya bagi Leishman baru saja dimulai. Ia harus menjalani proses rehabilitasi yang panjang, termasuk belajar berjalan kembali dan menjalani terapi fisik di rumah. Ia juga harus menggunakan PICC line (peripherally inserted central catheter) untuk pengobatan jangka panjang. Tahun pertama pemulihannya digambarkan sangat sulit karena sistem kekebalan tubuhnya yang sangat terganggu, membuatnya sering jatuh sakit.
Meski kini telah pulih, Leishman mengakui bahwa kesehatannya tidak sepenuhnya kembali seperti semula; ia sering mengalami kelelahan dan penurunan daya ingat. Ia menyatakan bahwa meski penyebab pasti sepsisnya tetap tidak jelas, kemungkinan besar berkaitan dengan komplikasi pasca-pelepasan IUD, yang diperparah oleh berbagai kondisi infeksi lainnya seperti radang amandel, infeksi saluran kemih (ISK), dan pneumonia.
Misi Mulia melalui Begin Again Foundation
Pengalaman hampir kehilangan nyawa tersebut mendorong Leishman untuk mendirikan Begin Again Foundation. Melalui organisasi ini, ia bertekad membantu pasien lain yang berjuang melawan sepsis, terutama dalam hal beban biaya medis yang sangat tinggi. "Sepsis adalah tagihan rumah sakit paling mahal yang pernah ada," ujarnya. Ia tidak ingin orang lain mengalami penderitaan finansial yang sama saat sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Tak hanya itu, ia juga menulis buku anak-anak berjudul "Katie Koala's Biggest Bite" untuk membantu keluarga mengenali tanda-tanda peringatan sepsis sejak dini. Leishman menekankan bahwa langkah paling sederhana namun krusial bagi orang tua adalah berani bertanya kepada dokter, "Apakah ini mungkin sepsis?" Pertanyaan tersebut dapat memicu dokter untuk melakukan pemeriksaan laboratorium yang lebih spesifik dan mendeteksi kondisi ini sebelum terlambat.
Pentingnya Kesadaran Dini Terhadap Sepsis
Sepsis terjadi ketika tubuh bereaksi berlebihan terhadap infeksi, memicu peradangan yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan, kegagalan organ, dan kematian. Dr. Marc Siegel, analis medis senior, menjelaskan bahwa tubuh manusia bisa bereaksi berlebihan seperti mengirimkan seluruh pasukan bersenjata padahal hanya butuh sedikit perlawanan. Mengingat setiap jam penundaan pengobatan meningkatkan risiko kematian hingga 8%, kesadaran akan gejala sepsis—seperti demam tinggi, kebingungan, napas cepat, dan kulit berbintik—adalah kunci untuk menyelamatkan nyawa.
Sumber: https://www.foxnews.com/health/thought-flu-mom-nearly-died-dismissing-deadly-sepsis-symptoms

Post a Comment