Introduction to Skin & Soft Tissue Infections (SSTIs): Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi

Table of Contents

Introduction to Skin & Soft Tissue Infections (SSTIs): Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi



INFOLABMED.COMSkin and Soft Tissue Infections (SSTIs) atau infeksi kulit dan jaringan lunak adalah salah satu kondisi paling umum yang ditemui di praktik klinik, baik di rawat jalan maupun rawat inap. Spektrum SSTI sangat luas, mulai dari infeksi superfisial yang ringan (seperti impetigo, selulitis, erisipelas) hingga infeksi yang mengancam jiwa dan memerlukan tindakan bedah segera (seperti necrotizing fasciitis, myonecrosis/gas gangren) .

Memahami introduction to skin & soft tissue infections (SSTIs) sangat penting bagi dokter, perawat, dan tenaga kesehatan untuk dapat membedakan infeksi yang dapat ditangani secara rawat jalan dengan yang memerlukan rawat inap dan intervensi bedah.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif klasifikasi SSTI, manifestasi klinis masing-masing jenis, diagnosis, serta algoritma penanganan berdasarkan pedoman terbaru (IDSA 2025).

1. Anatomi Kulit dan Jaringan Lunak

Untuk memahami SSTI, penting untuk mengetahui lapisan-lapisan kulit dan jaringan di bawahnya yang dapat terinfeksi:

LapisanKomponenJenis Infeksi yang Terkait
EpidermisLapisan terluar kulit (tidak mengandung pembuluh darah)Impetigo, folikulitis superfisial
DermisLapisan di bawah epidermis, mengandung pembuluh darah, folikel rambut, kelenjar keringatErisipelas (dermis atas), selulitis (dermis dalam)
Jaringan SubkutanLemak bawah kulit (hipodermis)Selulitis dalam, abses
FasciaLapisan jaringan ikat yang membungkus ototFasciitis nekrotikans
MuskulaturOtot rangkaMiositis, myonecrosis (gangren gas)

Semakin dalam lapisan yang terinfeksi, semakin berat infeksi dan semakin tinggi morbiditas serta mortalitasnya .

2. Klasifikasi SSTI Berdasarkan Tingkat Keparahan

SSTI secara umum dibagi menjadi tiga kategori besar berdasarkan tingkat keparahan dan kebutuhan perawatan :

A. SSTI Uncomplicated (Ringan - Rawat Jalan)

KarakteristikKeterangan
DefinisiInfeksi superfisial pada pasien sehat tanpa komorbiditas signifikan
ContohImpetigo, erisipelas ringan, selulitis ringan, folikulitis, furunkel, abses kecil (< 5 cm)
TatalaksanaAntibiotik oral + drainase (jika ada abses) — rawat jalan
Durasi5-10 hari

B. SSTI Complicated (Sedang-Berat - Rawat Inap)

KarakteristikKeterangan
DefinisiInfeksi pada pasien dengan komorbiditas (diabetes, obesitas, imunosupresi) atau infeksi yang meluas
ContohSelulitis berat, abses besar (> 5 cm), infeksi luka pasca operasi, ulkus diabetikum yang terinfeksi
TatalaksanaAntibiotik intravena, rawat inap, kemungkinan debridemen bedah
Durasi7-14 hari

C. SSTI Necrotizing (Berat - Emergency)

KarakteristikKeterangan
DefinisiInfeksi yang menghancurkan fascia dan jaringan lunak; mengancam jiwa
ContohNecrotizing fasciitis (Fournier's gangrene), myonecrosis (gas gangren)
TatalaksanaDebridemen bedah emergensi + antibiotik intravena + perawatan intensif
Mortalitas20-50% jika terlambat ditangani

3. SSTI Superfisial (Uncomplicated)

A. Impetigo

Definisi: Infeksi superfisial pada epidermis, paling sering pada anak usia 2-5 tahun.

AspekKeterangan
PenyebabStaphylococcus aureus (80%), Streptococcus pyogenes (20%)
Gambaran klinisLesi vesikuler yang pecah membentuk krusta madu (honey-colored crust) di sekitar mulut, hidung, atau ekstremitas
DiagnosisKlinis (khas), kultur bila perlu
TerapiTopikal: Mupirocin 2% (lesi terbatas). Sistemik: Sefaleksin oral, klindamisin (jika MRSA dicurigai)

B. Folikulitis, Furunkel, Karbunkel

JenisDefinisiGambaranTerapi
FolikulitisInfeksi pada folikel rambut superfisialPapul eritematosa kecil di sekitar folikel rambut (sering di paha, bokong, area jenggot)Topikal (mupirocin) atau oral jika luas
Furunkel (bisul)Infeksi yang melibatkan seluruh folikel rambut + jaringan di sekitarnyaNodul merah, nyeri, berisi pus (mati), sering di leher, wajah, ketiakDrainase + antibiotik (jika besar atau multiple)
KarbunkelKumpulan furunkel yang saling terhubungNodul besar dengan multiple draining sinuses, sistemik (demam)Drainase bedah + antibiotik oral/IV

C. Erisipelas

AspekKeterangan
PenyebabStreptococcus pyogenes (Group A Strep) — dominan
GambaranPlak merah terang, batas tegas (well-demarcated), meninggi, teraba keras (indurated). Sering di wajah atau tungkai
Gejala sistemikDemam tinggi, menggigil (sering mendahului lesi)
TerapiPenisilin V (oral) atau Amoksisilin, rawat jalan jika ringan; rawat inap jika berat

D. Selulitis

AspekKeterangan
PenyebabStaphylococcus aureus (termasuk MRSA) + Streptococcus pyogenes
GambaranArea kemerahan difus, batas tidak tegas (poorly demarcated), tidak meninggi, lunak (spongy). Sering di tungkai
Gejala sistemikRingan hingga sedang (demam tidak selalu tinggi)
Terapi (rawat jalan)Sefaleksin 500 mg oral 4x/hari (7-14 hari). Jika risiko MRSA: Tambah Doksisiklin atau Klindamisin
Terapi (rawat inap)Sefazolin IV, atau Vankomisin (jika MRSA dicurigai)

4. SSTI Complicated (Sedang - Berat)

A. Ulkus Diabetikum yang Terinfeksi

AspekKeterangan
DefinisiUlkus pada kaki pasien diabetes dengan tanda infeksi (purulen, selulitis > 2 cm, nyeri, bau)
PatogenPolimikrobial: S. aureus, Streptococci, Enterococci, E. coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, anaerob
PemeriksaanKultur jaringan (swab permukaan kurang akurat), foto polos kaki (osteomielitis), probing to bone test
TerapiAntibiotik empiris spektrum luas (piperacillin-tazobactam, atau vankomisin + ceftazidime + metronidazole) + perawatan luka + kontrol gula darah + debridemen

B. Abses Kulit Besar (> 5 cm) atau Multiple

AspekKeterangan
Tatalaksana utamaIncision and Drainage (I & D) — drainase pus adalah terapi utama, kadang cukup tanpa antibiotik jika abses kecil pada pasien sehat
Indikasi antibiotikAbses besar (> 5 cm), multiple, lokasi di wajah/area genital, pasien imunokompromais, atau dengan selulitis meluas (> 5 cm)
Antibiotik pilihanTMP-SMX + Sefaleksin, atau Klindamisin (MRSA coverage)

C. Infeksi Luka Pasca Operasi (Surgical Site Infection / SSI)

AspekKeterangan
Superfisial (hanya kulit/subkutan)Drainase + antibiotik oral (sesuai kultur)
Deep (melibatkan fascia/otot)Debridemen operasi + antibiotik IV
PatogenS. aureus (termasuk MRSA), koagulase-negatif Staph, Enterobacteriaceae

5. SSTI Necrotizing (Emergency Bedah)

A. Necrotizing Fasciitis

Ini adalah infeksi yang paling berbahaya dan mengancam jiwa. Necrotizing fasciitis adalah infeksi yang merusak fascia (jaringan ikat yang membungkus otot) dan menyebar sangat cepat .

AspekKeterangan
JenisTipe I: Polimikrobial (aerob + anaerob) — paling umum, pada pasien dengan komorbid (diabetes, obesitas) . Tipe II: S. pyogenes saja — pada orang sehat (sering disebut "flesh-eating bacteria")
Gambaran klinisNyeri hebat yang tidak proporsional dengan gambaran fisik (nyeri >> tampak kemerahan). Kemudian muncul bullae (lepuh), krepitasi (gas di jaringan), area nekrotik hitam, disertai sepsis berat
DiagnosisLRINEC score (Laboratory Risk Indicator for Necrotizing Fasciitis) ≥ 6 → curiga NF; CT scan atau MRI menunjukkan gas di fascia; eksplorasi bedah adalah standar emas
TerapiDebridemen bedah emergensi (fasciotomy, eksisi semua jaringan mati) + antibiotik IV dosis tinggi (karbapenem atau piperacillin-tazobactam + klindamisin + vankomisin) + perawatan intensif
Angka kematian20-40% (60% jika terlambat > 24 jam)

B. Fournier's Gangrene (Necrotizing Fasciitis pada Perineum/Genitalia)

AspekKeterangan
DefinisiNecrotizing fasciitis yang melibatkan perineum, genitalia eksterna, dan perianal
Faktor risikoDiabetes, obesitas, alkoholik, imunosupresi
GambaranPembengkakan dan nyeri hebat di skrotum/vulva, krepitasi, krepitasi, area hitam/nekrotik
TerapiDebridemen bedah luas (sering multiple times), antibiotik IV, kolostomi (jika perianal terkena)

6. Tabel Klasifikasi SSTI Berdasarkan Kedalaman dan Kegawatan

KategoriContoh SSTIKedalamanKegawatanTatalaksana
Superfisial (ringan)Impetigo, folikulitisEpidermisRendahTopikal/oral
Superfisial (ringan-sedang)Erisipelas, selulitis ringanDermis atasRendah-sedangOral (penisilin/sefaleksin)
Dalam (sedang-berat)Selulitis berat, abses besar, ulkus diabetikum terinfeksiDermis + subkutanSedang-tinggiIV antibiotik + rawat inap
Necrotizing (emergensi)Necrotizing fasciitis, Fournier's gangrene, myonecrosisFascia, ototSangat tinggiBedah emergensi + IV + ICU

7. Diagnosis Banding SSTI

KondisiCiri Pembeda
Deep Vein Thrombosis (DVT)Bengkak tanpa kemerahan difus, Homan sign (+), nyeri hanya di vena
Stasis dermatitisKronis, bilateral, gatal, pada pasien insufisiensi vena kronis
Contact dermatitisGatal, batas tegas sesuai area kontak, tidak nyeri
GoutNyeri sendi akut (jempol kaki) dengan kemerahan terbatas pada sendi, hiperurisemia
Erythema migrans (Lyme disease)Lesi "bull's eye" (target) dengan area jernih di tengah
Abses (tanpa selulitis luas)Fluktuasi (+), drainase pus, tidak ada kemerahan difus luas
Fasciitis nekrotikansNyeri > tampak fisik, krepitasi, bullae, sistemik berat

8. Algoritma Tatalaksana SSTI (Singkat)

Apakah ada tanda necrotizing fasciitis? (nyeri hebat, krepitasi, bullae, nekrosis, sistemik berat)
├─ YA → **Debridemen bedah emergensi** + ICU + antibiotik IV spektrum luas
└─ TIDAK
├─ Apakah ada abses? (fluktuasi, pus)
│ │
│ ├─ YA → Drainase (I&D) → Antibiotik jika perlu (besar, multiple, MRSA risk)
│ │
│ └─ TIDAK → Selulitis / erisipelas
│ │
│ ├─ Selulitis ringan (non-purulen) → Sefaleksin oral (rawat jalan)
│ │
│ ├─ Selulitis purulen (MRSA risk) → TMP-SMX + Sefaleksin atau Klindamisin
│ │
│ └─ Selulitis berat / sistemik → Rawat inap → Antibiotik IV (Sefazolin atau Vankomisin)

9. Kesimpulan

Introduction to Skin & Soft Tissue Infections (SSTIs) memberikan pemahaman bahwa SSTI adalah spektrum luas infeksi yang melibatkan epidermis, dermis, subkutan, fascia, hingga otot. Klasifikasi menjadi SSTI uncomplicated (ringan), complicated (sedang-berat), dan necrotizing (emergensi) membantu klinisi menentukan tatalaksana yang tepat.

Hal terpenting yang harus diingat:

  1. Bedakan antara selulitis dan erisipelas (batas tegas vs tidak tegas, warna merah terang vs keunguan) — pilihan antibiotik berbeda.
  2. Abses → drainase adalah terapi utama, antibiotik hanya untuk indikasi tertentu.
  3. Necrotizing fasciitis → selalu curiga jika nyeri hebat tidak proporsional dengan tampak fisik + tanda sistemik + faktor risiko.
  4. MRSA (Community-acquired MRSA) harus selalu dipertimbangkan pada selulitis purulen, abses, atau infeksi pada populasi berisiko (atlet, narapidana, IV drug user, kontak MRSA sebelumnya).

Dengan algoritma dan panduan di atas, diharapkan klinisi dapat memberikan diagnosis dan penanganan yang optimal untuk pasien dengan SSTI.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA [Link : https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592].

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment