Cellulitis vs. Erysipelas — A Clinical Comparison: Perbedaan, Diagnosis, dan Penanganan

Table of Contents

Cellulitis vs. Erysipelas — A Clinical Comparison: Perbedaan, Diagnosis, dan Penanganan


INFOLABMED.COMCellulitis dan erysipelas adalah dua jenis infeksi kulit yang sering membingungkan karena keduanya melibatkan peradangan pada lapisan kulit dan menimbulkan kemerahan, bengkak, serta nyeri. Meskipun keduatau sering digunakan secara bergantian dalam praktik sehari-hari, kedua kondisi ini memiliki perbedaan mendasar dalam hal kedalaman infeksi, organisme penyebab, gambaran klinis, serta penanganannya.

Memahami cellulitis vs. erysipelas — a clinical comparison sangat penting bagi dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya untuk menegakkan diagnosis yang tepat dan memberikan terapi yang optimal. Artikel ini akan membahas secara komprehensif perbedaan antara selulitis dan erisipelas, mulai dari definisi, etiologi, manifestasi klinis, hingga penatalaksanaan.

1. Definisi dan Anatomi: Kedalaman Infeksi

Perbedaan paling mendasar antara selulitis dan erisipelas terletak pada lapisan kulit yang terkena .

KarakteristikErisipelasSelulitis
Lapisan kulitSuperfisial (dermis atas dan limfatik superfisial)Lebih dalam (dermis dalam dan jaringan subkutan/lemak bawah kulit)
Batas lesiTegas / Jelas (well-demarcated)Tidak tegas / Diffus (poorly demarcated)
Permukaan lesiElevasi (menonjol) seperti plak, sering dengan batas meninggiDatar atau sedikit meninggi, tidak setegas erisipelas
TeksturKeras / padat seperti kulit jeruk (peau d'orange)Lunak / spongy

Ilustrasi Sederhana:

  • Erisipelas → infeksi "lapisan atas" kulit (dermis superfisial). Infeksi limfatik superfisial menyebabkan batas yang jelas.
  • Selulitis → infeksi "lapisan bawah" kulit (subkutan), sehingga menyebar lebih difus tanpa batas yang tegas.

Pesan kunci: Erisipelas adalah superficial cellulitis dengan keterlibatan limfatik, sementara selulitis adalah deep cellulitis tanpa keterlibatan limfatik yang dominan.

2. Etiologi (Penyebab)

Erisipelas

AspekKeterangan
Patogen terseringStreptococcus pyogenes (Group A Streptococcus / GAS) — >80% kasus
Patogen lainStreptococcus grup B, C, G, Staphylococcus aureus (jarang)
Pintu masukSering melalui luka kecil yang tidak terlihat (seperti lecet, fisura, ulkus), atau melalui infeksi saluran napas/THT yang menyebar ke kulit wajah

Selulitis

AspekKeterangan
Patogen terseringStaphylococcus aureus (termasuk MRSA) dan Streptococcus pyogenes
Patogen lainStreptococcus agalactiae (grup B), Haemophilus influenzae (pada anak), Pasteurella multocida (gigitan hewan), Vibrio vulnificus (air laut), Pseudomonas aeruginosa (pada luka diabetes)
Pintu masukTrauma jelas: luka terbuka, ulkus diabetikum, gigitan serangga, post-operasi, IV drug use, tinea pedis (kutu air)

Pembedaan klinis: Erisipelas hampir selalu disebabkan oleh Streptococcus pyogenes, sementara selulitis dapat disebabkan oleh berbagai bakteri (Staphylococcus dan Streptococcus dominan).

3. Faktor Risiko

Faktor RisikoErisipelasSelulitis
Usia ekstremAnak dan lansiaSama
Lymphedema+++ (sangat kuat)++
Obesitas++++
Diabetes melitus+ (risiko ringan)+++ (risiko kuat)
Insufisiensi vena kronis++++
Tinea pedis (kutu air)++ (sumber strep dari sela jari kaki)+++
Imunosupresi+++++
Trauma/luka+ (luka mikro)+++ (luka nyata)
Alkoholik, malnutrisi++++
Riwayat erisipelas/selulitis berulang+++ (sangat tinggi)+++

4. Gambaran Klinis

Erisipelas

ParameterGambaran Khas
OnsetAkut (jam hingga 1-2 hari)
Gejala sistemikDemam tinggi (sering >38.5°C), menggigil, malaise — sering mendahului lesi kulit
Lokasi terseringWajah (pipi, hidung, telinga) dan ekstremitas bawah (tungkai)
DistribusiSering unilateral (satu sisi)
Batas lesiJelas / tegas (well-demarcated), teraba meninggi
Warna lesiMerah terang (bright red), mengilap (shiny)
TeksturPadat / indurated, keras pada palpasi
PermukaanElevasi seperti plak, kadang peau d'orange (kulit jeruk) karena edema limfatik
Vesikel / bulaDapat terjadi pada kasus berat (erisipelas bulosa)
NyeriNyeri terbakar (burning pain), sensasi panas
Pembesaran kelenjar getah bening+++ (limfadenopati regional, nyeri tekan)

Selulitis

ParameterGambaran Khas
OnsetSubakut (2-5 hari) — lebih lambat dari erisipelas
Gejala sistemikRingan hingga sedang; demam tidak selalu tinggi
Lokasi terseringEkstremitas bawah (tungkai) — paling sering; jarang di wajah
DistribusiUmumnya unilateral
Batas lesiTidak tegas / diffus (poorly demarcated), tidak meninggi
Warna lesiMerah keunguan (erythema yang tidak terang)
TeksturLunak / spongy saat dipalpasi
PermukaanDatar, tidak menonjol
Vesikel / bulaDapat terjadi pada selulitis berat (bula hemoragik pada Vibrio vulnificus)
NyeriNyeri dalam (deep pain), lebih intens saat gerakan
Pembesaran kelenjar getah bening+ (terkadang)

5. Diagnosis

Diagnosis Klinis

Diagnosis erisipelas dan selulitis terutama berdasarkan gambaran klinis, bukan tes laboratorium .

Pembedaan utama: | Parameter | Erisipelas | Selulitis | | :--- | :--- | :--- | | Batas lesi | Tegas (well-demarcated) | Tidak tegas (diffuse) | | Elevasi lesi | Menonjol (plak) | Datar | | Warna | Merah terang | Merah keunguan | | Tekstur | Keras (indurated) | Lunak (spongy) | | Lokasi | Wajah + tungkai | Tungkai dominan | | Gejala sistemik | Berat, demam tinggi | Ringan |

Pemeriksaan Penunjang

PemeriksaanIndikasiHasil
Kultur darahPasien dengan demam tinggi, sepsis, imunokompromaisPositif pada <5% selulitis, <10% erisipelas
Aspirasi / Biopsi kulitUntuk kultur bila dicurigai patogen atipikal (MRSA, Pasteurella, Vibrio)Sensitivitas hanya 20-30%
UltrasonografiMembedakan selulitis dengan Deep Vein Thrombosis (DVT) atau absesSelulitis: edema difus tanpa cairan; DVT: trombus di vena; Abses: koleksi cairan
CRP / PCTMembedakan infeksi bakteri vs non-bakteriCRP ↑ (bakteri); PCT ↑ pada infeksi sistemik berat
Foto polos / CT scanDicurigai fasciitis nekrotikans (gas di jaringan lunak)Gas subkutan → fasciitis nekrotikans (emergensi bedah)

6. Diagnosis Banding (Differential Diagnosis)

KondisiCiri Pembeda
Deep Vein Thrombosis (DVT)Bengkak tanpa kemerahan difus, Homan sign (+), USG Doppler menunjukkan trombus
Stasis dermatitisKronis, bilateral, gatal, tidak nyeri, pada pasien dengan insufisiensi vena
Contact dermatitisGatal, batas tegas sesuai area kontak (jamu, plester, kosmetik)
Gout / artritis goutNyeri sendi akut (biasanya jempol kaki), kemerahan terbatas pada sendi, tidak difus
Abses kulitFluktuasi (+), krepitasi tidak ada, drainase pus mungkin
Necrotizing fasciitisNyeri hebat melebihi gambaran fisik, krepitasi (gas), sistemik berat, emergensi bedah
Erythema migrans (Lyme disease)Lesi "bull's eye" (target lesion) dengan area jernih di tengah, onset bertahap

7. Tatalaksana (Penanganan)

Prinsip Umum

LangkahKeterangan
Elevasi ekstremitasUntuk mengurangi edema
Kompres hangatUntuk meningkatkan sirkulasi dan mengurangi nyeri
ImobilisasiIstirahatkan area yang terkena
AnalgesikParacetamol atau ibuprofen (jika tidak ada kontraindikasi)

Terapi Antibiotik

Untuk Erisipelas

KondisiRegimen AntibiotikDurasi
Ringan (rawat jalan)Penisilin V 500 mg oral 4x/hari ATAU Amoksisilin 500 mg oral 3x/hari7-10 hari
Alergi penisilinKlindamisin 300-450 mg oral 3x/hari atau Makrolida (eritromisin, azitromisin)7-10 hari
Berat (rawat inap)Penisilin G (Crystalline) 2-4 juta IU IV setiap 4-6 jam ATAU Ceftriaxone 1 g IV 1x/hari (jika alergi penisilin)7-14 hari

Untuk Selulitis

KondisiRegimen AntibiotikDurasi
Ringan (rawat jalan)Sefaleksin 500 mg oral 4x/hari (Staphylococcus dan Streptococcus)7-14 hari
MRSA risiko tinggi (IV drug use, luka tembus, kontak MRSA)Doksisiklin 100 mg oral 2x/hari atau Klindamisin 300-450 mg oral 3x/hari atau TMP-SMX DS 2x/hari (kombinasi dengan sefaleksin jika perlu)7-14 hari
Berat (rawat inap)Sefazolin 1-2 g IV setiap 8 jam atau Sefalosporin generasi 3 (ceftriaxone) atau Vankomisin (jika MRSA dicurigai)7-14 hari

Terapi Khusus untuk Patogen Spesifik

PatogenTerapi Pilihan
Pasteurella multocida (gigitan hewan)Amoksisilin-klavulanat (doksisiklin atau TMP-SMX jika alergi)
Vibrio vulnificus (air laut)Doksisiklin + ceftazidime IV
Pseudomonas aeruginosa (luka diabetes, imunosupresi)Piperacillin-tazobactam, cefepime, atau meropenem
Haemophilus influenzae (pada anak)Amoksisilin-klavulanat atau sefalosporin (cefotaxime, ceftriaxone)

8. Komplikasi

KomplikasiErisipelasSelulitisPenanganan
AbsesJarang+++ (lebih sering)Drainase bedah + antibiotik
Lymphedema kronis+++ (pasca erisipelas berulang)++Kompresi, fisioterapi, pencegahan infeksi ulang
Fasciitis nekrotikansJarang++ (terutama pada diabetes, imunosupresi)Emergency debridement bedah + antibiotik IV
Sepsis++ (pada kasus berat)++Resusitasi cairan, vasopresor, antibiotik IV
Endokarditis / artritis septikJarangJarangAntibiotik jangka panjang (4-6 minggu)
Recurrence (kekambuhan)+++ (sangat tinggi, terutama jika faktor risiko tidak dikoreksi)++Koreksi faktor risiko (tinea pedis, edema), profilaksis antibiotik (penisilin oral)

9. Ringkasan Tabel Perbandingan Cellulitis vs Erysipelas

ParameterErisipelasSelulitis
KedalamanDermis superfisial & limfatikDermis dalam & subkutan
Batas lesiJelas / tegasTidak tegas / difus
WarnaMerah terangMerah keunguan
TeksturKeras (indurated)Lunak (spongy)
ElevasiPlak meninggiDatar
Lokasi terseringWajah, tungkaiTungkai
OnsetAkut (jam - 2 hari)Subakut (2-5 hari)
Gejala sistemikDemam tinggi, menggigilRingan hingga sedang
Penyebab utamaStreptococcus pyogenesStaphylococcus aureus + S. pyogenes
Antibiotik pilihan (rawat jalan)Penisilin V / AmoksisilinSefaleksin
Antibiotik untuk MRSATidak diperlukan (kecuali co-infeksi)Doksisiklin, Klindamisin, TMP-SMX
Durasi terapi7-10 hari7-14 hari
Recurrence rateTinggiSedang

10. Kesimpulan

Cellulitis vs. Erysipelas — A Clinical Comparison menunjukkan bahwa kedua infeksi kulit ini memiliki perbedaan mendasar yang dapat dikenali secara klinis:

  • Erisipelas → infeksi superfisial pada dermis atas dan limfatik, batas lesi tegas, warna merah terang, plak meninggi, sering di wajah, onset akut dengan demam tinggi, hampir selalu disebabkan oleh Streptococcus pyogenes → terapi: penisilin .
  • Selulitis → infeksi lebih dalam pada dermis bawah dan subkutan, batas lesi tidak tegas, warna merah keunguan, tekstur lunak, onset subakut, penyebab campuran (Staphylococcus aureus dominan) → terapi: sefaleksin (atau tambahan untuk MRSA) .

Klinisi harus mampu membedakan keduanya karena pilihan antibiotik yang optimal berbeda. Pada kasus yang tidak jelas, atau pada pasien dengan faktor risiko dan komorbiditas, rawat inap dan pemberian antibiotik intravena diperlukan. Jangan lupa untuk selalu menyingkirkan diagnosis banding seperti fasciitis nekrotikans (emergensi bedah) pada pasien dengan nyeri hebat yang tidak proporsional dengan gambaran fisik.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA [Link : https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592].

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment