HANTAVIRUS — A Silent Yet Serious Zoonotic Threat: Kenali HPS dan HFRS di Indonesia

Table of Contents

HANTAVIRUS — A Silent Yet Serious Zoonotic Threat: Kenali HPS dan HFRS di Indonesia


INFOLABMED.COM - HANTAVIRUS — A silent yet serious zoonotic threat yang sering terabaikan di negara tropis seperti Indonesia. Hantavirus adalah genus virus dari keluarga Bunyaviridae yang ditularkan melalui rodensia (tikus dan mencit). Infeksi pada manusia dapat menyebabkan dua sindrom berat yang mengancam jiwa:

  1. Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) – terutama di Amerika (Sin Nombre virus, Andes virus) – ditandai dengan demam, myalgia, gagal napas akut (ARDS) dengan mortalitas 30-50%.
  2. Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) – terutama di Eropa dan Asia (Hantaan, Seoul, Puumala virus) – ditandai dengan demam, perdarahan, dan gagal ginjal akut. Seoul virus (SEOV) yang dibawa oleh tikus got (Rattus norvegicus) tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Meskipun laporan kasus HPS/HFRS di Indonesia masih jarang (underdiagnosed), potensi ancamannya nyata karena populasi tikus got yang tinggi di pemukiman padat dan rendahnya kesadaran tenaga kesehatan tentang hantavirus.

Artikel ini akan membahas epidemiologi, patogenesis, gejala, diagnosis laboratorium, tatalaksana, dan pencegahan hantavirus.

Dua Sindrom Utama Hantavirus

SindromVirus UtamaVektor TikusDistribusi GeografisMortalitas
Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)Sin Nombre (SNV), Andes (ANDV), Bayou (BAYV)Peromyscus maniculatus (deer mouse), dllAmerika (AS, Kanada, Chile, Argentina, Brazil)30-50%
Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)Hantaan (HTNV), Seoul (SEOV), Puumala (PUUV), Dobrava (DOBV)Tikus sawah (Apodemus), tikus got (Rattus norvegicus), bank vole (Myodes)Eropa, Asia (Cina, Korea, Rusia), dunia (SEOV)1-15% (tergantung virus)

Yang relevan untuk Indonesia: Seoul virus (SEOV) yang dibawa tikus got (Rattus norvegicus) dan Rattus rattus (tikus rumah) telah dideteksi di Asia Tenggara, termasuk Thailand, Vietnam, Malaysia, dan kemungkinan Indonesia. Belum ada laporan resmi kasus HFRS di Indonesia, tetapi antibodi terhadap hantavirus pernah ditemukan pada tikus di pelabuhan Jakarta (penelitian terbatas).

Patogenesis: Bagaimana Hantavirus Menimbulkan Penyakit Berat?

Hantavirus masuk ke tubuh manusia melalui inhalasi aerosol dari urine, feses, atau saliva tikus yang terinfeksi (bukan melalui gigitan tikus langsung). Virus menginfeksi sel endotel pembuluh darah (kapiler), menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskular (kebocoran plasma) tanpa merusak sel (non-cytolytic). Akibatnya:

  • Pada HPS: Kebocoran plasma ke alveoli paru → edema paru non-kardiogenik (ARDS) → gagal napas.
  • Pada HFRS: Kebocoran plasma ke jaringan retroperitoneal dan ginjal → syok hipovolemik, gagal ginjal akut, perdarahan (trombositopenia).

Gejala Klinis (Tahapan)

Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS)

FaseGejalaDurasi
ProdromalDemam, menggigil, myalgia (nyeri otot berat, terutama di punggung dan paha), sakit kepala, mual, muntah, diare3-6 hari
KardiopulmonerBatuk non-produktif, sesak napas (dispnea), takipnea, hipoksia, gagal napas progresif (ARDS) → memerlukan ventilator1-4 hari
KonvalesenPerbaikan fungsi paru secara perlahan (bisa berminggu-minggu)

Fase kardiopulmoner adalah kegawatdaruratan. Pasien dapat jatuh dalam syok kardiogenik (kegagalan jantung kanan akibat hipertensi pulmonal) dalam hitungan jam.

Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS)

HFRS memiliki 5 fase khas:

FaseGejalaDurasiTemuan Laboratorium
1. DemamDemam tinggi (39-40°C), sakit kepala, nyeri punggung, flushing wajah dan leher, injeksi konjungtiva3-7 hariLeukopenia, trombositopenia, proteinuria
2. HipotensiPenurunan tekanan darah, syok, perdarahan (petekie, ekimosis, epistaksis)Beberapa jam - 2 hariHemokonsentrasi (hematokrit ↑), trombosit ↓↓, kreatinin ↑
3. OliguriaProduksi urin menurun (<400 mL/hari), gagal ginjal akut, edema, hipertensi3-7 hariKreatinin ↑↑ (10-20 mg/dL), ureum ↑↑, hiperkalemia, asidosis
4. DiuresisProduksi urin meningkat (3-6 L/hari), hipovolemia, hipokalemia, dehidrasi1-2 mingguKreatinin mulai turun, tetapi hati-hati hipokalemia
5. KonvalesenPemulihan fungsi ginjal (bisa berbulan-bulan)Minggu ke - bulan

Diagnosis Laboratorium Hantavirus

Diagnosis hantavirus ditegakkan berdasarkan riwayat epidemiologi (paparan tikus dalam 1-6 minggu) + gejala klinis + pemeriksaan laboratorium spesifik.

1. Pemeriksaan Hematologi dan Kimia (Non-Spesifik)

PemeriksaanHPSHFRS
LeukositNormal / leukositosis (bandemia, sel imatur)Leukopenia fase demam → leukositosis fase oliguria
Trombosit↓↓ (trombositopenia berat, sering < 50.000/µL)↓↓
Hematokrit↑ (hemokonsentrasi akibat kebocoran plasma)
Kreatinin, ureumNormal / sedikit ↑↑↑ (meningkat tajam pada fase oliguria)
LDH↑↑ (tinggi)↑ (sedang)
AST, ALT↑ (2-5x normal)↑ (2-5x)
Protein urin+ (ringan)+++ (proteinuria berat)
CRP / prokalsitoninNormal atau rendah (tidak seperti sepsis bakterial)Normal / rendah

Pola Khas HPS: Trombositopenia + hemokonsentrasi (hematokrit tinggi) + LDH tinggi + leukositosis dengan bandemia (tanda "shift to left") → curiga hantavirus pada pasien dengan ARDS akut tanpa penyebab jelas.

2. Pemeriksaan Spesifik (Serologi & Molekuler)

MetodeMendeteksiWaktuKeterangan
IgM ELISAAntibodi IgM anti-hantavirus1-2 hariPositif mulai hari ke 3-5 sakit. IgM positif = infeksi baru (hantavirus).
IgG ELISAAntibodi IgG (infeksi lampau)1-2 hariIgG muncul kemudian (hari ke 7-14), menetap bertahun-tahun.
RT-PCRRNA hantavirus (genom)4-6 jamSensitif pada fase awal (demam, sebelum muncul antibodi). Dapat mengidentifikasi spesies virus (Seoul, Hantaan, dll).
Immunohistochemistry (IHC)Antigen hantavirus di jaringan (paru, ginjal)Hari (post-mortem)Untuk konfirmasi pada kasus fatal (otopsi).

Catatan: Di Indonesia, pemeriksaan serologi hantavirus tidak tersedia secara rutin. Sampel harus dikirim ke laboratorium rujukan seperti Litbangkes Kemenkes RI atau Eijkman (sekarang BRIN) untuk konfirmasi.

Tatalaksana (Tidak Ada Antivirus Spesifik)

SindromTatalaksana Utama
HPSICU: Intubasi, ventilasi mekanik dengan PEEP tinggi, manajemen cairan ketat (jangan overhidrasi karena akan memperburuk edema paru). Terapi suportif. ECMO untuk kasus refrakter.
HFRSICU: Manajemen cairan fase hipotensi (cairan kristaloid), fase oliguria (hemodialisis jika perlu), fase diuresis (koreksi elektrolit). Ribavirin intravenous (kontroversial, mungkin efektif jika diberikan dini).

Ribavirin: Beberapa studi menunjukkan ribavirin (antiviral) dapat mengurangi mortalitas jika diberikan dalam 5-7 hari pertama gejala pada HFRS, tetapi tidak terbukti untuk HPS.

Pencegahan: Tidak Ada Vaksin Manusia

IntervensiEfektivitas
Kontrol tikus di lingkungan pemukiman (sanitasi, penutup lubang, perangkap)Paling penting.
Hindari kontak dengan urine/feses tikusSaat membersihkan sarang tikus, gunakan masker N95, sarung tangan, dan desinfektan (pemutih 1:10).
Jangan menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering (aerosol)Basahi dengan desinfektan sebelum dibersihkan.
Simpan makanan dalam wadah kedap tikus
Vaksin (Tersedia di Cina dan Korea untuk HFRS, tidak di Indonesia)Belum tersedia secara global.

Hantavirus di Indonesia: Fakta dan Mitos

Klaim / FaktaStatus
"Tidak ada hantavirus di Indonesia"Tidak benar. Seoul virus (SEOV) telah dideteksi pada tikus di Asia Tenggara, termasuk Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina. Indonesia kemungkinan memiliki SEOV, tetapi surveilans belum masif.
"HFRS dilaporkan di Indonesia"Belum ada laporan kasus klinis HFRS yang terkonfirmasi di Indonesia. Namun, studi serologi pada pasien dengan demam dan gagal ginjal akut (penyebab tidak diketahui) pernah menunjukkan beberapa sampel positif IgM anti-hantavirus (data internal, belum dipublikasi luas).
"Petani dan pekerja perkebunan berisiko"Ya. Kontak dengan tikus sawah atau tikus got meningkatkan risiko.
"HPS tidak mungkin di Indonesia karena vektor tikus deer mouse tidak ada"Benar. HPS (Sin Nombre) hanya ditemukan di Amerika. Namun, Seoul virus (penyebab HFRS ringan) dapat menyebabkan demam dengan trombositopenia dan gagal ginjal, yang mungkin salah didiagnosis sebagai demam berdarah dengue (DBD).

Potensi underdiagnosis di Indonesia: Gejala HFRS (demam, trombositopenia, perdarahan, proteinuria, kreatinin meningkat) mirip dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) yang sangat endemik di Indonesia. Banyak kasus HFRS mungkin salah didiagnosis sebagai DBD berat (dengue shock syndrome) tanpa dilakukan pemeriksaan serologi hantavirus.

Kesimpulan

HANTAVIRUS — A silent yet serious zoonotic threat adalah penyakit virus yang ditularkan tikus, menyebabkan dua sindrom berat: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) (mortalitas 30-50%) di Amerika, dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) (mortalitas 1-15%) di Eropa dan Asia. Di Indonesia, Seoul virus (SEOV) kemungkinan ada pada tikus got (Rattus norvegicus) di pemukiman padat, tetapi laporan kasus klinis HFRS masih sangat jarak (underdiagnosed), sering tertukar dengan demam berdarah dengue.

Gejala HFRS: demam, trombositopenia, perdarahan, proteinuria, dan gagal ginjal akut (oliguria). Diagnosis laboratorium dengan IgM ELISA (serologi) atau RT-PCR. Tatalaksana suportif di ICU (ventilator untuk HPS, dialisis untuk HFRS). Pencegahan dengan kontrol tikus, sanitasi lingkungan, dan penggunaan masker saat membersihkan sarang tikus.

Tenaga kesehatan di Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, terutama pada pasien dengan demam + trombositopenia + gagal ginjal akut yang tidak memenuhi kriteria DBD atau leptospirosis. Kirim sampel ke laboratorium rujukan untuk konfirmasi serologi/molekuler.

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment