Saham Moderna Tergelincir: Euforia Hantavirus Meredup, Regulator Tegaskan Bukan Pandemi Berikutnya
INFOLABMED.COM - Gairah investor terhadap saham Moderna (MRNA) dan perusahaan sejenisnya mulai menguap.
Pergerakan saham yang sempat melonjak pada Senin lalu, kini berbalik arah.
Awalnya, investor optimis akan potensi wabah Hantavirus global.
Namun, euforia tersebut mereda seiring pernyataan pejabat kesehatan yang meragukan risiko pandemi.
Saham Moderna, yang sempat menyentuh level tertinggi $59.48 di awal sesi Senin, akhirnya tergelincir.
Penurunan signifikan terjadi, membuat sahamnya anjlok 3.6% menjadi $52.39.
Kenaikan awal ini dipicu oleh kabar seorang penumpang asal AS yang positif Hantavirus Andes strain di kapal pesiar M.V. Hondius.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi enam kasus terkait strain Andes pada Kamis sebelumnya.
Virus ini diketahui menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi.
Wilayah penyebarannya meliputi Chili dan Argentina, titik awal pelayaran kapal pesiar tersebut.
Pihak regulator dan badan pengawas internasional berulang kali menyatakan bahwa Hantavirus kecil kemungkinannya mencapai skala risiko kesehatan masyarakat seperti Covid-19.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menekankan bahwa Hantavirus bukanlah 'Covid berikutnya'.
Ia menegaskan, risiko kesehatan publik saat ini dari Hantavirus masih rendah.
Meskipun demikian, investor tetap memantau kemampuan Moderna untuk mengulang kesuksesannya.
Kesuksesan tersebut diraih saat pandemi Covid-19, di mana Moderna berhasil menghadirkan vaksin kedua yang disetujui di AS.
Moderna sendiri baru-baru ini mengumumkan telah melakukan riset praklinis terhadap Hantavirus.
Penelitian ini dilakukan bekerja sama dengan U.S. Army Medical Research Institute of Infectious Diseases.
Proyek ini merupakan bagian dari inisiatif lebih luas Moderna untuk menangani penyakit menular yang muncul.
Wabah Hantavirus juga menarik perhatian pada perusahaan lain yang melakukan riset serupa.
Saham Inovio Pharmaceuticals (INO) sempat melonjak pada sesi pra-pasar.
Namun, saham perusahaan bioteknologi asal Pennsylvania ini akhirnya turun 3.1% pada Senin.
Pada tahun 2011, Inovio menerima dana dari Departemen Pertahanan AS.
Dana tersebut ditujukan untuk pengembangan perangkat pengiriman vaksin DNA.
Teknologi ini dirancang untuk pengujian terhadap virus Hantaan dan patogen lainnya.
Pada tahun 2015, beberapa karyawan Inovio menerbitkan makalah yang mengevaluasi efektivitas perangkat tersebut.
Studi tersebut menyimpulkan bahwa perangkat itu adalah alat yang murah dan mudah digunakan untuk vaksinasi massal yang cepat.
Namun, Inovio hingga kini belum berhasil memproduksi produk komersial.
Oleh karena itu, pergerakan saham terbaru mereka lebih bersifat spekulatif.
Pengembang vaksin Novavax (NVAX) juga mengalami tren serupa.
Sahamnya sempat naik sebelum akhirnya memangkas kenaikan dan anjlok 5.4%.
Meskipun Novavax tidak memiliki program Hantavirus aktif, perusahaan ini sempat menjadi sorotan selama pandemi Covid-19.
Mereka merupakan satu-satunya penyedia vaksin non-mRNA yang disetujui.
Namun, baik Inovio maupun Novavax tampaknya tidak sepenting Moderna dalam upaya imunisasi Hantavirus.
Hanya Moderna yang secara eksplisit mengindikasikan potensi pengembangan vaksin.
Perusahaan mencantumkan 'Hantaan virus' dan 'Hantaviruses causing Hanta Pulmonary syndrome' sebagai 'izin patogen' di situs web program mRNA Access-nya.
Program ini memungkinkan para peneliti untuk memanfaatkan teknologi Moderna guna mengembangkan vaksin.
Keberhasilan mempercepat pengembangan pengobatan akan menjadi validasi bagi platform mRNA Moderna.
Hal ini berlaku bahkan jika jumlah kasus Hantavirus tetap rendah.
Namun, para analis memperingatkan bahwa potensi pendapatan Moderna dari vaksin Hantavirus sangat kecil.
Sebelas belas warga Amerika kembali ke AS pada Senin setelah berminggu-minggu berada di kapal M.V. Hondius.
Satu penumpang dalam penerbangan repatriasi tersebut dinyatakan 'positif ringan' Hantavirus.
Penumpang lain dilaporkan mengalami 'gejala ringan', demikian disampaikan oleh Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS.
Kedua penumpang tersebut dibawa ke AS dalam unit biokontainmen.
Tindakan pencegahan ini diambil 'demi kehati-hatian', tambah badan tersebut.
Opini mengenai tingkat risiko kesehatan masyarakat semakin terpecah seiring munculnya informasi baru tentang penyebaran virus.
Dalam sebuah unggahan di platform X, Ashish Jha, seorang dokter yang memimpin respons Covid-19 pemerintahan Biden, menyoroti 'bukti yang berkembang dari kapal'.
Bukti tersebut menunjukkan bahwa pasien tidak memerlukan kontak dekat yang berkepanjangan untuk menularkan virus.
Padahal, para pakar kesehatan masyarakat berpendapat kontak semacam itulah yang diperlukan untuk penularan.
Jha merujuk pada postingan media sosial dari Joseph Allen, seorang profesor kesehatan masyarakat dari Harvard.
Allen mengklaim telah berbicara dengan seorang ahli onkologi di kapal pesiar tersebut.
Ahli onkologi itu dikabarkan turun tangan merawat penumpang setelah dokter kapal jatuh sakit.
Berdasarkan percakapan tersebut, Allen menulis di X bahwa banyak penumpang yang positif tidak memiliki kontak fisik langsung satu sama lain.
Mereka hanya berbagi waktu di beberapa area kapal tempat orang berkumpul.
Para regulator terus bersikeras bahwa Hantavirus tidak menimbulkan ancaman pandemi.
Posisi ini didukung oleh penelitian puluhan tahun terhadap strain yang sudah ada, termasuk virus Andes.
Familiaritas ini sangat kontras dengan SARS-CoV-2, patogen baru yang baru terdeteksi pada tahun 2019.
FAQ: Tanya Jawab Seputar Hantavirus dan Dampaknya pada Saham Bioteknologi
1. Apa itu Hantavirus dan bagaimana penyebarannya?
Hantavirus adalah sekelompok virus yang umumnya ditularkan kepada manusia melalui kontak dengan urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Penyakit yang disebabkan oleh Hantavirus bisa serius, dengan dua bentuk utama yang dikenal adalah sindrom paru Hantavirus (HPS) dan demam berdarah Hantavirus dengan sindrom ginjal (HFRS). Hantavirus Andes strain, yang menjadi perhatian saat ini, dapat menyebar melalui kontak dengan tikus yang terinfeksi.
2. Mengapa kasus Hantavirus di kapal pesiar memicu pergerakan saham Moderna?
Munculnya kasus Hantavirus, terutama yang melibatkan penumpang dari negara maju yang kembali ke AS, memicu kekhawatiran akan potensi wabah. Investor secara historis bereaksi cepat terhadap potensi penyakit menular baru, terutama perusahaan seperti Moderna yang berhasil mengembangkan vaksin Covid-19. Mereka berharap Moderna dapat kembali memanfaatkan platform mRNA-nya untuk mengembangkan vaksin Hantavirus, yang berpotensi mendongkrak harga saham.
3. Apa pandangan regulator dan WHO mengenai risiko Hantavirus saat ini?
Baik regulator maupun WHO menekankan bahwa Hantavirus saat ini tidak menimbulkan risiko kesehatan masyarakat global yang setara dengan Covid-19. Mereka menyatakan bahwa virus ini tidak 'pandemi berikutnya' dan risiko aktualnya masih rendah. Pandangan ini didasarkan pada pengetahuan yang lebih luas tentang Hantavirus dibandingkan dengan SARS-CoV-2 saat pertama kali muncul, serta data awal dari kasus-kasus yang ada.
4. Seberapa besar potensi komersial bagi Moderna jika mereka mengembangkan vaksin Hantavirus?
Meskipun Moderna memiliki platform teknologi yang memungkinkan pengembangan cepat, potensi pendapatan dari vaksin Hantavirus diperkirakan kecil. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa jumlah kasus Hantavirus secara global relatif rendah jika dibandingkan dengan pandemi seperti Covid-19. Investasi pasar lebih didorong oleh prospek teknologi dan kemampuan perusahaan dalam menanggapi ancaman kesehatan yang muncul, daripada potensi keuntungan finansial langsung dari vaksin ini.
5. Apa perbedaan utama antara Hantavirus dan SARS-CoV-2 dalam konteks pandemi?
Perbedaan mendasar terletak pada sifat patogen dan tingkat ancaman yang ditimbulkannya. SARS-CoV-2 adalah virus novel yang menyebabkan pandemi global dengan tingkat penularan dan morbiditas yang tinggi. Sebaliknya, Hantavirus telah dikenal lebih lama, dan strain seperti Andes, meskipun serius, umumnya tidak menyebar secepat atau seluas virus penyebab pandemi seperti Covid-19. Selain itu, metode penularan dan pencegahan Hantavirus sebagian besar terkait dengan pengendalian populasi hewan pengerat, berbeda dengan penularan antarmanusia yang menjadi ciri khas SARS-CoV-2.
Post a Comment