Leukosit 149.000/µL pada Pasien dengan Dehidrasi, Anemia, dan Suspek Leukemia: Interpretasi Morfologi Darah Tepi
INFOLABMED.COM – Seorang pasien dengan diagnosa dehidrasi ec low intake + anemia + susp leukimia (suspek leukemia) dan CHF (Congestive Heart Failure) dilakukan pemeriksaan Morfologi Darah Tepi (MDT) setelah hasil Darah Lengkap menunjukkan temuan yang sangat mengkhawatirkan: leukosit berjumlah 149.000 sel/mikro liter (149 x 10⁹/L).
Angka ini jauh di atas batas normal leukosit (4.000 - 11.000/µL) dan masuk dalam kategori leukositosis ekstrem, yang dalam praktik klinik jarang ditemukan pada infeksi biasa. Kondisi ini memerlukan evaluasi morfologi darah tepi segera untuk membedakan antara leukemoid reaction (reaksi berlebihan tubuh terhadap infeksi/stres) versus leukemia (keganasan sel darah putih).
Artikel ini akan membahas langkah-langkah interpretasi morfologi darah tepi pada pasien dengan leukositosis ekstrem, faktor penyulit seperti dehidrasi dan CHF, serta bagaimana membedakan leukemia akut dari leukemia kronis berdasarkan gambaran sel.
1. Apa Arti Leukosit 149.000/µL?
Nilai normal leukosit: 4.000 - 11.000/µL
Klasifikasi leukositosis berdasarkan jumlah: | Tingkat Leukositosis | Jumlah (sel/µL) | | :--- | :--- | | Ringan (mild) | 11.000 - 20.000 | | Sedang (moderate) | 20.000 - 50.000 | | Berat (severe) | 50.000 - 100.000 | | Ekstrem (very high) | > 100.000 |
Dengan leukosit 149.000/µL, pasien ini berada pada kategori leukositosis ekstrem. Pada rentang ini, keganasan hematologi (leukemia) harus menjadi prioritas diagnosis banding utama, meskipun masih ada kemungkinan reaksi leukemia (leukemoid reaction) pada infeksi berat atau sepsis.
Perbedaan Leukemia vs Leukemoid Reaction (Pembeda Kunci)
| Parameter | Leukemoid Reaction (Reaktif) | Leukemia (Keganasan) |
|---|---|---|
| Jumlah leukosit | Sering < 50.000, jarang > 100.000 | Sering > 100.000 (bahkan > 500.000) |
| Morfologi sel | Sel matang, tidak ada blast, toksik granula, Döhle bodies | Ada sel blast (ledakan), sel muda berlebihan, hiatus leukemicus |
| Basofilia & eosinofilia | Tidak ada | Sering ada (khas CML) |
| LAP score | Tinggi | Rendah (pada CML) |
| Anemia & trombositopenia | Ringan atau tidak ada | Sering berat (akibat supresi sumsum tulang) |
| Splenomegali | Ringan atau tidak ada | Sering besar (massif pada CML) |
| Penyebab | Infeksi berat, sepsis, trauma, nekrosis jaringan | Mutasi genetik pada sel induk hematopoietik |
Pada kasus ini, leukosit yang sangat tinggi (149.000) disertai anemia dan curiga leukemia, maka leukemia (kemungkinan CML atau leukemia akut) lebih mungkin daripada sekadar reaksi leukemoid.
2. Morfologi Darah Tepi (MDT): Hal yang Harus Diperiksa
Morfologi darah tepi adalah pemeriksaan standar emas untuk membedakan jenis leukemia dan menilai keganasan hematologi. Berikut adalah komponen yang harus dievaluasi pada MDT pasien ini:
A. Hitung Jenis Leukosit (Differential Count)
| Jenis Sel | Nilai Normal (%) | Temuan pada Leukemia |
|---|---|---|
| Neutrofil segmen | 50-70 | Mungkin normal (CML kronis) atau rendah (leukemia akut) |
| Limfosit | 20-40 | Meningkat (ALL, CLL) |
| Monosit | 2-8 | Meningkat (CMML, AML-M4/M5) |
| Eosinofil | < 5 | Meningkat (CML, sindrom hipereosinofilik) |
| Basofil | < 1 | Meningkat (sangat khas untuk CML) |
| Blast (sel ledakan) | 0 | Positif → Leukemia akut atau krisis blast pada CML |
| Promielosit | 0 | Positif → Leukemia promielositik akut (APL) |
Pada CML (Leukemia Mieloid Kronis): Gambaran klasik adalah: leukositosis ekstrem dengan peningkatan neutrofil, metamyelosit, myelosit, promielosit, basofilia, dan eosinofilia. Blast < 10% pada fase kronik.
Pada Leukemia Akut (AML/ALL): Gambaran blast > 20% disertai sitopenia (anemia, trombositopenia) dan sel blast dengan nukleus besar, kromatin halus, nukleolus prominen.
B. Morfologi Eritrosit dan Trombosit
| Parameter | Temuan Normal | Temuan pada Leukemia |
|---|---|---|
| Anisositosis (variasi ukuran) | Minimal | Jelas (+), makrosit atau normositik |
| Poikilositosis (variasi bentuk) | Minimal | Dapat ditemukan (sel tetesan air mata/teardrop cells pada myelofibrosis) |
| Nukleasi eritrosit | 0 | Dapat ditemukan pada myelofibrosis atau leukemia lanjut |
| Trombosit | 150.000-400.000/µL | Trombositopenia (rendah) pada leukemia akut; dapat normal atau tinggi pada CML fase awal |
C. Sel Abnormal Lainnya
| Sel | Arti |
|---|---|
| Blast | Leukemia akut (AML/ALL) atau krisis blast pada CML |
| Sel Auer (Auer rods) | Leukemia mieloid akut (AML) — butiran berbentuk batang di sitoplasma blast. Patognomonik! |
| Hiatus leukemicus | Kehadiran sel blast dan sel matang tanpa fase intermediate. Khas leukemia akut |
| Granula toksik & Döhle bodies | Leukemoid reaction (infeksi berat) — dapat juga ditemukan pada leukemia sekunder akibat infeksi |
3. Peran Diagnosis Banding: Leukemia Akut vs Kronis pada Kasus Ini
Dengan leukosit 149.000/µL, kita perlu menentukan apakah pasien menderita leukemia akut atau kronis. Perbedaan ini sangat penting karena terapi dan prognosisnya sangat berbeda.
| Parameter | Leukemia Akut (AML/ALL) | Leukemia Kronis (CML/CLL) |
|---|---|---|
| Kecepatan onset | Hari – minggu (demam, perdarahan, infeksi) | Minggu – bulan (lelah, keringat malam, splenomegali) |
| Leukosit | Normal – sangat tinggi (bisa 100.000+ pada AML/ALL hiperleukositosis) | Sangat tinggi (sering 100.000-500.000 pada CML) |
| Blast di darah tepi | > 20% (WHO kriteria) | < 10% pada CML fase kronik; > 20% pada krisis blast |
| Anemia & trombositopenia | Berat (akibat supresi sumsum) | Ringan pada fase awal, berat pada fase akselerasi |
| Splenomegali | Ringan (kecuali ALL pada anak) | Massif (sering teraba sampai pusar) |
| Kelainan genetik | Mutasi beragam (NPM1, FLT3, IDH, BCR-ABL pada ALL Ph+) | BCR-ABL positif (kromosom Philadelphia) pada CML |
| Terapi | Kemoterapi intensif (induksi + konsolidasi) | TKI (imatinib, nilotinib) untuk CML |
Pada pasien dengan dehidrasi, anemia, CHF, dan susp leukimia, CML (Leukemia Mieloid Kronis) harus masuk dalam diagnosis banding utama karena:
- CML sering ditemukan pada dewasa (usia 40-60 tahun)
- Dapat muncul dengan gambaran kelelahan, splenomegali, dan leukositosis ekstrem > 100.000/µL
- Kadang-kadang disertai anemia ringan (tidak separah leukemia akut)
- Trombosit sering normal atau bahkan tinggi (berbeda dengan leukemia akut yang trombositnya sangat rendah)
Namun, leukemia akut (AML/ALL) juga mungkin jika terdapat anemia berat, trombositopenia, dan ditemukannya sel blast > 20% di darah tepi.
4. Pengaruh Dehidrasi dan CHF terhadap Hasil Darah Lengkap
A. Pengaruh Dehidrasi
Dehidrasi ec low intake (dehidrasi karena asupan cairan rendah) dapat menyebabkan hemokonsentrasi (darah menjadi lebih kental karena volume plasma berkurang). Akibatnya:
- Leukosit: Meningkat palsu (false elevation) karena jumlah sel per volume meningkat (bukan karena peningkatan produksi). Namun, kenaikan akibat hemokonsentrasi biasanya ringan (10-20%), tidak sampai 149.000/µL.
- Eritrosit, hemoglobin, hematokrit: Meningkat palsu (darah kental).
- Trombosit: Meningkat palsu.
Kesimpulan: Dehidrasi ringan tidak dapat menjelaskan leukositosis ekstrem hingga 149.000/µL.
B. Pengaruh CHF (Gagal Jantung Kongestif)
CHF tidak secara langsung menyebabkan leukositosis tinggi, namun pasien dengan CHF sering mendapat terapi kortikosteroid (untuk peradangan) atau diuretik (menyebabkan dehidrasi). Steroid dapat menyebabkan demarginalisasi leukosit (melepaskan leukosit dari dinding pembuluh darah), sehingga leukosit naik hingga 15.000-20.000/µL—tidak sampai 149.000/µL .
CHF yang dekompensata juga dapat menyebabkan hipoksia jaringan, yang merangsang produksi eritropoietin dan sel darah merah (bukan leukosit).
5. Rekomendasi Pemeriksaan Lanjutan untuk Kasus Ini
Setelah morfologi darah tepi selesai dilakukan, langkah diagnostik selanjutnya:
5.1 Aspirasi dan Biopsi Sumsum Tulang
Indikasi: Jika ditemukan blast > 10-20% di darah tepi, atau sitopenia berat (anemia + trombositopenia).
Tujuan:
- Menghitung persentase blast (diagnosis leukemia akut jika > 20%)
- Menilai morfologi sel dan arsitektur sumsum tulang
- Mengambil sampel untuk pemeriksaan sitogenetik dan molekuler.
5.2 Flow Cytometry (Imunofenotip)
Untuk membedakan jenis leukemia akut (Myeloid vs Limfoblastik) berdasarkan penanda permukaan sel: | Subtipe | Penanda Khas | | :--- | :--- | | AML | CD13, CD33, CD117, MPO | | B-ALL | CD19, CD79a, CD22, TdT | | T-ALL | CD3, CD7, TdT |
5.3 Sitogenetika (Karyotyping) dan PCR
- BCR-ABL (kromosom Philadelphia): Positif pada CML (>95% kasus), juga pada 20-30% ALL dewasa.
- Mutasi FLT3, NPM1, IDH1/2: Untuk stratifikasi risiko AML.
- Mutasi JAK2, CALR, MPL: Jika dicurigai sindrom mieloproliferatif lain.
5.4 Pemeriksaan Penunjang Lain
- LAP score (Leukocyte Alkaline Phosphatase): Rendah pada CML, tinggi pada reaksi leukemoid.
- Uji toleransi glukosa dan elektrolit (mengingat dehidrasi).
- Ekokardiografi ulang untuk menilai fungsi jantung sebelum kemoterapi (karena pasien sudah memiliki CHF).
6. Ringkasan Interpretasi MDT Berdasarkan Hasil Leukosit 149.000/µL
| Temuan Morfologi Darah Tepi | Kemungkinan Diagnosis |
|---|---|
| Hiperleukositosis + basofilia + eosinofilia + trombosit normal/tinggi + tidak ada blast | CML fase kronik |
| Hiperleukositosis + blast > 20% + anemia berat + trombositopenia | Leukemia akut (AML/ALL) |
| Hiperleukositosis + blast 10-20% + granula toksik + Döhle bodies | Leukemoid reaction (infeksi berat) → perlu kultur darah dan prokalsitonin |
| Limfositosis absolut dengan limfosit kecil, kromatin padat, "smudge cells" | CLL (leukemia limfositik kronik) |
Kesimpulan
Pasien dengan diagnosa dehidrasi ec low intake + anemia + susp leukemia dan CHF yang menunjukkan leukosit 149.000 sel/mikro liter harus segera menjalani Morfologi Darah Tepi (MDT) untuk menentukan penyebab leukositosis ekstrem.
Jumlah leukosit setinggi ini tidak dapat dijelaskan hanya oleh dehidrasi atau CHF. Diferensiasi kunci adalah antara:
- Leukemia Mieloid Kronis (CML): Leukositosis ekstrem dengan peningkatan neutrofil muda, basofilia, eosinofilia, trombosit normal/tinggi, splenomegali.
- Leukemia Akut (AML/ALL): Anemia berat, trombositopenia, ditemukan sel blast (>20%) di darah tepi.
- Leukemoid Reaction: Biasanya leukosit < 50.000/µL, ada granula toksik, Döhle bodies, LAP score tinggi.
Pemeriksaan lanjutan yang wajib dilakukan meliputi aspirasi sumsum tulang, flow cytometry, dan PCR BCR-ABL untuk konfirmasi diagnosis. Tatalaksana pada pasien dengan CHF dan dehidrasi harus memperhatikan keseimbangan cairan yang ketat serta fungsi jantung sebelum memulai kemoterapi (jika terbukti leukemia).
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA [Link : https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592].
Post a Comment