Kisah Mantan Senator Ben Sasse Melawan Kanker Pankreas: Refleksi Kehidupan, Iman, Dan Masa Depan Amerika

Table of Contents
Kisah Mantan Senator Ben Sasse Melawan Kanker Pankreas: Refleksi Kehidupan, Iman, Dan Masa Depan Amerika

*INFOLABMED.COM - Mantan Senator AS Ben Sasse, yang kini berjuang melawan kanker pankreas stadium lanjut, berbagi pandangan mendalamnya tentang kehidupan, iman, dan masa depan Amerika. Di usianya yang ke-54, Sasse menghadapi diagnosis terminal, namun sebuah obat baru memberikan kesempatan tambahan untuk menyuarakan pandangannya tentang rasionalitas di Washington dan pentingnya komunitas di tingkat lokal.

Sebagai seorang Republikan konservatif dengan pemikiran independen dan latar belakang sejarah Amerika, Sasse dikenal kritis terhadap politik saat ini, pernah menyatakan, "rakyat membenci kita semua… karena kita tidak melakukan pekerjaan kita." Terapi kankernya memang meninggalkan bekas luka fisik berupa kulit terbakar parah, namun semangatnya tetap membara, penuh wawasan, gairah, dan harapan.**

Sasse mengungkapkan kecintaannya pada Amerika dan keyakinannya bahwa ada banyak isu penting yang seharusnya didiskusikan dan masih bisa dibahas. Baginya, diagnosis terminal bukanlah hal yang unik, karena semua orang pada dasarnya "berada di bawah jam yang sama".

Namun, mengetahui waktu yang terbatas dan terdefinisi secara jelas memberinya kesempatan untuk merenungkan hal-hal yang lebih besar. "Aneh rasanya berada di awal 50-an dan menerima diagnosis terminal, lalu orang-orang tiba-tiba memperlakukan Anda seperti berusia 93 atau 94 tahun dan memiliki banyak kebijaksanaan.

Saya tidak tahu apakah saya punya banyak kebijaksanaan, tetapi saya punya banyak hal yang menurut saya harus kita renungkan bersama," ujarnya.

Refleksinya meliputi pembangunan kembali komunitas dari tetangga ke tetangga, regulasi kecerdasan buatan (AI) sebelum menguasai kita, dan perbaikan politik yang retak. Sasse melihat kurangnya visi jangka panjang dalam kedua partai politik utama, yang menurutnya gagal merumuskan ide-ide besar untuk tahun 2030 atau 2050, baik dari segi keamanan nasional, masa depan pekerjaan, maupun pembangunan institusi.

Kongres, menurutnya, saat ini tidak sedang bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan besar dan penting.

Dia menekankan bahwa kita sedang mengalami revolusi digital yang membawa kejayaan sekaligus horor. Revolusi ini mempercepat hampir setiap aspek pengalaman manusia, terutama aktivitas ekonomi yang dapat direduksi menjadi serangkaian langkah.

Hal ini akan membuat pekerjaan menjadi rutin, sangat murah, cepat, dan meresap di mana-mana. Sasse menyatakan bahwa generasi muda tidak lagi bisa berasumsi pekerjaan yang mereka miliki akan bertahan hingga pensiun, sebuah realitas yang tidak banyak dibicarakan di Kongres.

Disrupsi pekerjaan, baik positif maupun negatif, seharusnya menjadi fokus utama, namun Kongres bahkan tidak tahu bagaimana memulai percakapan tersebut.

Kisah Sasse di Senat dimulai pada tahun 2014 ketika ia masih menjabat sebagai presiden sebuah perguruan tinggi di Nebraska. Ia menjadi salah satu politikus paling populer di negara bagian itu, sebagian karena selama reses Senat, ia bekerja sebagai petugas kebersihan dan penjaga tiket di pertandingan olahraga lokal untuk tetap terhubung dengan kehidupan warga Nebraska.

Mengenai identitasnya sebagai seorang Republikan, Sasse mengacu pada "kontinum Lincoln-Reagan" yang menurutnya paling baik dalam membatasi pemikiran bahwa Washington adalah komunitas politik fundamental. Ia berpendapat bahwa komunitas politik fundamental seharusnya adalah lingkungan sekitar, balai kota, dan mungkin legislatif negara bagian, bukan suku politik di tingkat federal.

Menanggapi Administrasi Trump, Sasse, yang pernah berselisih paham dengannya, tidak banyak berkomentar tentang politik saat ini, karena ia merasa itu lebih merupakan gema dari apa yang terjadi. Ia melihat adanya komunitas yang sangat tipis dan dangkal, dan tanpa pemahaman yang kuat tentang komunitas lokal, sulit untuk memahami tujuan politik nasional.

Disfungsi politik nasional, menurutnya, adalah cerminan dari masalah yang lebih besar.

Perjuangannya di Senat mencapai titik kritis setelah insiden 6 Januari 2021, di mana Sasse mengkritik "para peneriak yang memonetisasi kebencian." Ia adalah salah satu dari tujuh Republikan yang memilih untuk mendakwa Trump atas pemakzulan. Tindakannya ini menyinggung Komite Republik Nebraska, yang ia tanggapi dengan mengatakan, "Kultus kepribadian bukanlah konservatif.

Teori konspirasi bukanlah konservatif. Berbohong bahwa pemilu telah dicuri, itu tidak konservatif.

Bertindak seolah-olah politik adalah agama, itu bukan konservatif."

Pada tahun 2023, dengan sisa masa jabatan empat tahun, Sasse mengundurkan diri untuk menjadi presiden University of Florida, merasa ada terlalu sedikit substansi di Senat dan terlalu banyak absen dari istri dan ketiga anaknya. Ia berargumen bahwa menjadi "Ayah" atau "Ibu" jauh lebih mulia daripada gelar Senator atau Anggota Kongres.

Meskipun meninggalkan Senat, suara Ben Sasse dirindukan oleh banyak pihak, baik dari kubu bipartisan, yang memuji pandangannya yang berfokus pada masa depan dan kurangnya gangguan dari "kebisingan" harian.

Sasse berpendapat bahwa Senat perlu menjadi "kurang seperti Instagram" dan "lebih deliberatif", dengan mengurangi "kebodohan smack-down". Ia mengkritik penempatan kamera di mana-mana di Washington D.C., yang menurutnya mengubah Senat menjadi platform untuk *sound bites* alih-alih lembaga yang "pelan, mantap, membosankan, dan terpercaya".

Menjawab pertanyaan tentang perkiraan waktu hidupnya, Sasse dengan blak-blakan menyatakan bahwa ia sudah berada di "waktu tambahan". Ia didiagnosis dengan kanker pankreas yang telah menyebar ke paru-paru, pembuluh darah, hati, dan bagian lain.

"Saya memiliki lima kanker," katanya. Ia saat ini berpartisipasi dalam uji klinis obat baru bernama daraxonrasib, yang bekerja dengan memblokir sinyal genetik yang membuat sel kanker tumbuh tak terkendali.

Hasil awal sangat menjanjikan, dengan pengurangan volume tumor yang signifikan dan perpanjangan harapan hidup median.

Berpegang teguh pada imannya yang Reformed atau Calvinis, di mana segala sesuatu diatur oleh Tuhan, Sasse melihat diagnosis kankernya sebagai sentuhan anugerah yang memaksanya untuk berkata jujur. Ia mengakui bahwa ia cenderung merasa sebagai pusat segalanya dan akan hidup selamanya, serta dapat menebus kerapuhannya sendiri.

Kanker, meskipun dibencinya, juga membuatnya bersyukur karena membantunya melihat kebenaran tentang keterbatasannya.

Refleksi Sasse tentang keluarga juga menyentuh. Ia sangat diberkati memiliki istri yang tangguh dan berakar pada teologi.

Ia ingin melihat putri-putrinya menikah dan membantu putranya yang berusia 14 tahun tumbuh dewasa, meskipun ia menyadari kemungkinan tidak dapat hadir di setiap momen penting. "Tidak ada molekul yang tersesat di alam semesta," katanya, merujuk pada keyakinannya akan rencana ilahi.

FAQ (Tanya Jawab)

Apa diagnosis Ben Sasse? Ben Sasse didiagnosis menderita kanker pankreas stadium lanjut yang telah menyebar ke paru-paru, pembuluh darah, hati, dan bagian tubuh lainnya. Ia memiliki lima jenis kanker.

Bagaimana pengobatan yang dijalani Ben Sasse? Ia sedang menjalani uji klinis untuk obat baru bernama daraxonrasib, yang dirancang untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dengan memblokir sinyal genetik.

Apa dampak diagnosis penyakit terminal terhadap pandangan hidup Ben Sasse? Diagnosis tersebut memberinya kesempatan untuk merenungkan hal-hal yang lebih besar, mendorong kejujuran pada dirinya sendiri, dan menekankan pentingnya komunitas serta refleksi mendalam tentang masa depan bangsa, terlepas dari keterbatasan waktu hidup.

Mengapa Ben Sasse mengundurkan diri dari Senat AS? Ia merasa ada terlalu sedikit substansi dalam pekerjaannya di Senat dan terlalu banyak absen dari keluarganya. Ia juga berpandangan bahwa peran keluarga dan komunitas lebih utama daripada gelar politik.

Bagaimana pandangan Ben Sasse tentang politik Amerika saat ini? Ia mengkritik kurangnya visi jangka panjang, fokus yang dangkal, dan disfungsi politik yang ia anggap sebagai cerminan dari masalah komunitas yang lebih luas. Ia juga menyoroti perlunya regulasi AI dan perbaikan pada hubungan antarwarga negara.

Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK
Imaduddin Badrawi, S.Tr.AK Founder infolabmed.com, bankdarah.com, buku pertama "Pedoman Teknik Pemeriksaan Laboratorium Klinik Untuk Mahasiswa Teknologi Laboratorium Medik". Content writer di atlm-edu.id, indonewstoday.com, eksemplar.com dan kumparan.com/catatan-atlm. Untuk kerjasama bisa melalui e mail : imadanalis@gmail.com. Media sosial : https://lynk.id/imaduddinbadrawi.

Post a Comment