Deteksi Pemeriksaan Laboratorium Virus Nipah: Metode, Sampel, dan Surveilans di Indonesia

Table of Contents

Deteksi Pemeriksaan Laboratorium Virus Nipah, RT-PCR Nipah, sampel virus Nipah, surveilans Nipah Indonesia, pemeriksaan serologis Nipah


INFOLABMED.COM - Virus Nipah (NiV) adalah patogen prioritas WHO dengan tingkat fatalitas tinggi, termasuk dalam famili Paramyxoviridae, dan merupakan zoonosis yang masuk dalam Risk Group 4. 

Deteksi pemeriksaan laboratorium virus Nipah menjadi sangat krusial mengingat Indonesia memiliki reservoir alami berupa kelelawar genus Pteropus yang tersebar luas, serta risiko spillover ke manusia melalui interaksi langsung atau hewan perantara seperti babi. 

Pemeriksaan laboratorium yang akurat dan cepat tidak hanya penting untuk diagnosis kasus klinis, tetapi juga untuk surveilans dini, terutama karena belum ada laporan kasus manusia di Indonesia meskipun risiko geografis dan ekologisnya tinggi.

Target Gen dan Metode RT-PCR untuk Deteksi Nipah

Deteksi pemeriksaan laboratorium virus Nipah yang paling sensitif dan direkomendasikan WHO adalah uji RT-PCR (real-time reverse transcription polymerase chain reaction). Target utama yang digunakan adalah gen N (Nucleocapsid) karena memiliki sensitivitas 95-100% dan spesifisitas >99%. 

Untuk konfirmasi sekunder, digunakan gen M (Matrix), dan gen P (Phosphoprotein) sebagai target alternatif. Salah satu contoh primer dan probe yang digunakan dalam deteksi adalah forward primer 5-CTGGTCTCTGCAGTTATCACCATCGA-3, reverse primer 5-ACGTAYTTAGCCCATCTTCTAGTTTCA-3, dan probe dengan label FAM-BHQ1. 

Amplifikasi dilakukan dengan kondisi cycling: 45°C selama 10 menit, 95°C selama 10 menit, dilanjutkan 40 siklus pada 95°C (15 detik) dan 60°C (45 detik). Metode ini optimal untuk sampel yang diambil pada hari ke-1 hingga ke-10 setelah onset penyakit.

Jenis Sampel dan Prosedur Pengambilan

Keberhasilan deteksi pemeriksaan laboratorium virus Nipah sangat bergantung pada jenis dan kualitas sampel. Untuk manusia, sampel yang direkomendasikan meliputi swab nasofaring, urin, cairan serebrospinal (CSF), dan serum

Sementara untuk kelelawar sebagai reservoir, digunakan swab orofaring dan rektal. Semua sampel harus disimpan dalam viral transport medium (VTM) inaktif, dikirimkan pada suhu 2-8°C, dan menggunakan sistem triple packaging untuk mencegah kebocoran. 

Deteksi dini sangat dianjurkan karena waktu terbaik untuk mendeteksi RNA virus adalah pada fase akut infeksi. Selain sampel klinis, surveilans juga dapat dilakukan pada sampel lingkungan seperti air limbah, air permukaan di bawah tempat bertengger kelelawar, dan nira mentah yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar.

Pemeriksaan Serologis sebagai Konfirmasi

Selain deteksi molekuler, pemeriksaan serologis berperan penting dalam deteksi pemeriksaan laboratorium virus Nipah, terutama pada fase konvalesen atau untuk studi seroprevalensi. ELISA IgM/IgG dapat mendeteksi IgM yang muncul pada hari ke-5 infeksi, serta IgG yang menandakan infeksi lanjut. 

Namun, uji netralisasi (neutralization test) tetap menjadi gold standard meskipun memerlukan fasilitas BSL-4 sehingga tidak digunakan untuk pemeriksaan rutin. Serokonversi dari negatif menjadi positif atau peningkatan titer antibodi sebanyak 4 kali lipat bersifat konfirmatoris. 

Sampel serum menjadi andalan dalam pemeriksaan ini, terutama untuk mendeteksi infeksi masa lalu atau respons imun pasca pajanan.

Surveilans Nipah di Indonesia dan Tantangannya

Indonesia telah melakukan berbagai upaya surveilans molekuler virus Nipah. Studi pada Pteropus hypomelanus di Jawa Tengah mendeteksi dua ekor kelelawar positif Nipah. 

Penelitian lain di Sumatera Utara pada Pteropus vampyrus juga melaporkan deteksi pertama virus Nipah di wilayah tersebut. 

Meskipun demikian, deteksi lingkungan seperti pada air limbah atau tanah yang terkontaminasi urin kelelawar masih menghadapi tantangan interpretasi karena deteksi RNA tidak selalu berarti virus infeksius atau menandakan infeksi aktif pada manusia. 

Namun, surveilans lingkungan berperan sebagai early warning system di hulu, terutama ketika kasus klinis jarang terjadi. 

Ke depan, diperlukan integrasi pendekatan One Health yang melibatkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk memperkuat deteksi pemeriksaan laboratorium virus Nipah di Indonesia.*

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment