Jejak Psikedelik: Studi Terbaru Ungkap Perubahan Otak Pasca "Trip" Yang Mengubah Persepsi
INFOLABMED.COM - Sebuah studi berskala kecil namun signifikan baru-baru ini memberikan wawasan mendalam mengenai cara kerja pengalaman psikedelik di dalam otak manusia.
Penelitian ini berfokus pada psilocybin, senyawa psikedelik yang dikenal terkandung dalam jamur ajaib.
Temuan awal menunjukkan bahwa satu sesi pengalaman psikedelik, yang dikenal sebagai "trip", berpotensi menimbulkan perubahan fisik pada otak.
Perubahan ini diduga dapat menjelaskan mengapa sebagian orang melaporkan manfaat psikologis yang positif setelah mengonsumsinya.
Artikel ini mengupas lebih dalam temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah terkemuka, Nature Communications.
Secara spesifik, studi ini menginvestigasi bagaimana psilocybin memengaruhi konektivitas antara berbagai area otak yang krusial untuk regulasi emosi.
Tingkat ketertarikan ilmiah terhadap mekanisme kerja psikedelik memang terus meningkat pesat.
Bahkan, isu ini telah menarik perhatian pemerintah, terbukti dengan adanya perintah eksekutif yang bertujuan mempercepat penelitian psikedelik, termasuk psilocybin dan ibogaine.
Food and Drug Administration (FDA) juga memberikan tinjauan dipercepat untuk dua perusahaan yang sedang meneliti psilocybin untuk pengobatan depresi.
Para peneliti umumnya terbagi menjadi dua kubu mengenai efek psikedelik.
Ada yang berpendapat bahwa pengalaman "trip" itu sendiri merupakan kunci utama manfaat terapeutik dan perubahan otak.
Sementara kubu lain berargumen bahwa senyawa psikedelik itu sendiri, terlepas dari pengalaman trip, yang berperan lebih dominan.
Studi terbaru ini cenderung mendukung pandangan yang pertama, menekankan bahwa intensitas pengalaman psikedelik memiliki dampak yang berarti.
Robin Carhart-Harris, penulis senior studi ini dan profesor neurologi di University of California, San Francisco School of Medicine, menjelaskan lebih lanjut.
"Kami menemukan bahwa semakin tinggi skor wawasan psikologis yang dilaporkan, semakin besar pula perbaikan respons terapeutik yang terlihat," ujarnya.
Penelitian ini melibatkan 28 partisipan dari London, dengan usia rata-rata 41 tahun.
Semua partisipan belum pernah mengonsumsi zat psikedelik sebelumnya dan tidak memiliki riwayat kondisi psikiatris.
Pada tahap awal, setiap partisipan menerima dosis 1 miligram psilocybin.
Dosis ini dianggap terlalu kecil untuk memicu "trip" dan berfungsi sebagai plasebo dalam studi ini.
Selama pemberian dosis plasebo, aktivitas otak partisipan direkam menggunakan EEG (elektroensefalogram).
Selanjutnya, dilakukan pemindaian otak tambahan, termasuk MRI, selama empat minggu berikutnya.
Satu bulan setelah menerima dosis plasebo, seluruh partisipan kemudian diberikan dosis 25 miligram psilocybin.
Dosis ini dianggap sebagai standar industri untuk terapi psikedelik dan umum digunakan oleh perusahaan farmasi yang mengejar persetujuan FDA.
Psilocybin yang digunakan dalam studi ini disuplai oleh salah satu perusahaan yang mendapat tinjauan dipercepat, yaitu Compass Pathways.
Beberapa penulis studi ini juga diketahui memiliki keterkaitan profesional sebagai penasihat ilmiah bagi perusahaan-perusahaan riset psikedelik.
Para peneliti memantau aktivitas otak partisipan pada satu jam, dua jam, dan satu bulan setelah pemberian dosis 25 mg.
Sebelum perawatan dan satu bulan setelahnya, partisipan juga menjalani jenis MRI khusus yang disebut Diffusion Tensor Imaging (DTI).
Teknik DTI digunakan untuk mengukur pergerakan air di sepanjang serat saraf yang menghubungkan berbagai bagian otak.
Temuan menarik muncul ketika para peneliti mengamati adanya pengurangan aliran air pada beberapa "traktus" saraf.
Traktus ini menghubungkan korteks prefrontal (yang berperan dalam regulasi emosi dan kontrol impuls) dengan area otak bagian tengah.
Pengurangan aliran air ini mengindikasikan kemungkinan adanya perubahan struktural pada area-area otak tersebut pasca-pengobatan.
Albert Garcia-Romeu, direktur asosiasi di Center for Psychedelic and Consciousness Research di Johns Hopkins School of Medicine, memberikan perspektif.
"Masyarakat umum cenderung berpikir ini adalah restrukturisasi jalur saraf di otak," katanya.
"Apa yang sebenarnya mereka temukan adalah cara air bergerak di sepanjang serat saraf tampaknya berubah," tambahnya.
Garcia-Romeu menambahkan bahwa temuan studi ini bersifat eksploratif dan belum definitif.
"Ini menunjukkan ada beberapa perubahan struktural yang terbentuk setelah paparan obat, tetapi beberapa jenis perubahan ini tidak selalu dianggap positif; beberapa justru mirip dengan apa yang terlihat pada cedera otak traumatis (TBI)," jelasnya.
Studi ini juga menemukan bahwa pengalaman "trip" yang lebih kuat cenderung menghasilkan perubahan yang lebih besar.
Meskipun tidak ada yang melaporkan "trip" pada dosis plasebo, mayoritas partisipan melaporkan perubahan kesadaran yang signifikan saat menerima dosis 25 mg.
Partisipan yang mengalami "trip" lebih mendalam, yang juga berkorelasi dengan aktivitas otak yang lebih tinggi selama "trip", serta melaporkan wawasan yang lebih besar setelahnya, menunjukkan perubahan aliran air yang lebih besar pada traktus saraf satu bulan pasca-perawatan.
"Kami belum sepenuhnya memahami apa artinya, tetapi traktus saraf menjadi lebih padat," kata Carhart-Harris.
Ia menambahkan bahwa beberapa perubahan yang didokumentasikan oleh timnya justru berlawanan dengan apa yang biasanya terlihat pada otak penderita penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, di mana traktus saraf menjadi lebih menyebar.
Meskipun tujuan utama studi ini adalah untuk menyelidiki perubahan otak, sekitar 70% partisipan melaporkan peningkatan kesejahteraan dua hingga empat minggu setelah menerima dosis 25 mg.
Dr. Joshua Siegel, asisten profesor psikiatri di NYU Langone Health, berpendapat mengenai korelasi ini.
"Kemungkinan besar ada hubungan penting antara berada dalam kondisi kesadaran yang sangat berubah dan laporan orang tentang kemampuan mereka untuk mengubah pola pikir," tuturnya.
Carhart-Harris mengemukakan kemungkinan bahwa pengalaman psikedelik dapat mengacak jalur neurologis di otak.
Hal ini kemudian memberikan kesempatan bagi jalur saraf untuk mengatur ulang atau keluar dari pola yang stagnan setelah "trip" berakhir.
Dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan tertarik untuk lebih memahami bagaimana psikedelik dapat memicu plastisitas otak, yaitu kemampuan otak untuk merestrukturisasi koneksi saraf.
Studi sebelumnya menunjukkan bahwa psikedelik dapat meningkatkan jumlah sinapsis, yang memfasilitasi komunikasi antar neuron, di area otak yang terkait dengan regulasi emosi dan depresi.
Siegel, yang juga merupakan peneliti di NYU Center for Psychedelic Medicine, mencatat bahwa penelitian ini sebagian besar dilakukan pada hewan pengerat.
"Masih ada pertanyaan besar mengenai apa artinya ini pada manusia dan apakah itu berkorelasi dengan hasil terapeutik," katanya.
Para peneliti pada manusia juga harus bergantung pada pengukuran tidak langsung seperti pemindaian otak, karena mereka tidak dapat membedah otak manusia di akhir studi, berbeda dengan penelitian hewan.
Carhart-Harris, Garcia-Romeu, dan Siegel sepakat bahwa penelitian lebih lanjut, terutama studi berskala lebih besar, diperlukan untuk mereplikasi temuan ini.
Mereka juga menekankan pentingnya mengeksplorasi apakah perubahan otak yang teramati memiliki efek terapeutik.
Garcia-Romeu menyambut baik studi ini sebagai informasi baru yang berharga.
"Ini melanjutkan lintasan pemahaman kita tentang mengapa obat-obatan ini tampaknya berpotensi memiliki efek jangka panjang pada manusia," ujarnya.
Umumnya, ketika seseorang menerima obat, manfaatnya cenderung hilang setelah efek obat mereda.
Namun, dengan psikedelik, orang sering melaporkan efek yang berkelanjutan, baik dalam hal perubahan depresi maupun kecemasan.
"Ini memberi kita pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana kita harus mempelajari ini pada manusia, dan jika memang terapeutik, mengapa," simpul Garcia-Romeu.
FAQ (Tanya Jawab) tentang Perubahan Otak Akibat Psikedelik
1. Apa temuan utama dari studi terbaru tentang psikedelik dan otak?
Studi ini menemukan bahwa satu sesi penggunaan psilocybin (senyawa dalam jamur ajaib) dapat menyebabkan perubahan struktural pada otak, terutama pada konektivitas antara area yang mengatur emosi dan kontrol impuls.
2. Bagaimana cara peneliti mengukur perubahan otak ini?
Peneliti menggunakan teknik pencitraan otak seperti EEG dan MRI, khususnya Diffusion Tensor Imaging (DTI), untuk mengukur pergerakan air di sepanjang serat saraf.
3. Apakah perubahan otak yang diamati selalu positif?
Tidak selalu. Beberapa perubahan aliran air mengindikasikan traktus saraf yang lebih padat, yang berpotensi positif, namun beberapa juga menunjukkan pola yang mirip dengan cedera otak traumatis (TBI).
4. Apakah pengalaman "trip" yang lebih kuat menghasilkan perubahan otak yang lebih besar?
Ya, studi ini menunjukkan korelasi antara intensitas pengalaman "trip" dan besarnya perubahan yang teramati pada pergerakan air di traktus saraf.
5. Kapan manfaat psikologis dari psikedelik dapat mulai terlihat setelah pengalaman "trip"?
Meskipun studi ini berfokus pada perubahan otak, sekitar 70% partisipan melaporkan peningkatan kesejahteraan dua hingga empat minggu setelah menerima dosis psilocybin terapeutik.
Post a Comment