Terbongkar! Bukan Hanya Radang, 'Sentakan Fisik' Ternyata Jadi Biang Kerok Pembentukan Jaringan Parut Di Usus Kronis

Table of Contents
Terbongkar! Bukan Hanya Radang, 'Sentakan Fisik' Ternyata Jadi Biang Kerok Pembentukan Jaringan Parut Di Usus Kronis

INFOLABMED.COM - Penyakit radang usus kronis, seperti penyakit Crohn dan kolitis ulserativa, seringkali disertai dengan kondisi usus yang mengeras dan menyempit akibat terbentuknya jaringan parut atau fibrosis.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa fenomena 'fibrosis usus' ini tidak dapat sepenuhnya dijelaskan hanya dari respons peradangan semata.

Studi ini mengindikasikan bahwa rangsangan fisik, seperti aliran cairan pencernaan di dalam usus, dapat menjadi pemicu utama terbentuknya fibrosis.

Tim peneliti dari Cleveland Clinic di Amerika Serikat, dipimpin oleh Dr. Kim Hyun-joong, menggunakan teknologi canggih 'Gut-on-a-chip' untuk memodelkan lingkungan usus manusia secara miniatur.

Mereka membandingkan sel usus dari individu sehat dengan sel usus dari pasien kolitis ulserativa yang parah.

Hasil perbandingan ini memberikan bukti kuat mengenai peran rangsangan fisik.

Temuan riset ini dianggap sangat penting karena menawarkan perspektif baru terhadap proses awal fibrosis usus yang sulit dijelaskan sebelumnya.

Para ilmuwan kini melihat 'rangsangan fisik' dan 'kerusakan lapisan pelindung' sebagai kunci baru dalam memahami kondisi ini.

Dalam eksperimennya, tim peneliti merekayasa simulasi aliran cairan pencernaan dan gerakan peristaltik usus (kontraksi dan relaksasi) di dalam 'Gut-on-a-chip'.

Mereka kemudian membandingkan dampak rangsangan fisik ini pada sel usus ketika lapisan mukosa pelindung usus dalam kondisi utuh versus kondisi yang rusak.

Hasilnya menunjukkan reaksi yang berlawanan antara sel usus sehat dan sel usus pasien kolitis ulserativa terhadap rangsangan fisik.

Sel usus sehat ternyata sangat rentan terhadap stimulasi fisik berupa aliran cairan pencernaan.

Setelah terpapar rangsangan ini selama 32 jam, lebih dari 70% sel sehat mati.

Angka proliferasi atau pembentukan sel baru juga anjlok dari 5,5% menjadi di bawah 2,3%.

Sebaliknya, sel-sel dari pasien kolitis ulserativa menunjukkan ketahanan yang kuat terhadap rangsangan yang sama.

Bahkan, sel-sel ini mengalami proliferasi abnormal.

Ketebalan jaringan usus mereka meningkat hingga 2,13 kali lipat.

Produksi protein bekas luka, seperti kolagen, yang membuat usus mengeras, meningkat hingga 2,46 kali lipat.

Sel-sel yang telah berubah akibat peradangan ini tampaknya mempersepsikan rangsangan fisik sebagai 'sinyal pertumbuhan'.

Hal ini secara bertahap menyebabkan usus semakin mengeras.

Tim peneliti juga menyelidiki lebih lanjut mengapa sel-sel sehat mengalami kerusakan.

Mereka menemukan bahwa aliran cairan pencernaan memicu aktivasi berlebihan enzim tertentu yang dapat memecah jaringan.

Akibatnya, sel-sel tersebut hancur dari dalam.

Namun, ketika lapisan pelindung mukosa usus tetap utuh, rangsangan fisik yang sama tidak menimbulkan masalah bagi sel-sel di dalamnya.

Ini berarti, jika 'mukosa usus' telah rusak akibat peradangan, aliran cairan pencernaan atau gerakan usus yang biasanya tidak berbahaya, dapat berubah menjadi pemicu yang menghancurkan sel dan mengeraskan usus.

Para peneliti menamai kondisi sel yang berubah akibat rangsangan fisik ini sebagai 'kondisi adaptasi mekanis'.

Mereka menjelaskan bahwa ini bukanlah perubahan sementara, melainkan berfungsi seperti benih yang memperkeras seluruh usus dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, tim peneliti menekankan bahwa pengobatan peradangan saja tidak cukup untuk mencegah fibrosis usus.

Strategi kunci yang harus difokuskan adalah pemulihan dan pemeliharaan mukosa usus yang rusak.

Dr. Kim Hyun-joong, pemimpin penelitian, menyatakan bahwa fibrosis usus bukanlah semata-mata hasil dari peradangan.

Tanpa memahami karakteristik fisik usus, kita hanya melihat setengah dari masalahnya.

Ia menambahkan bahwa pemulihan dan pemeliharaan sawar mukosa usus bisa menjadi strategi pencegahan fibrosis yang krusial.

Jalur sinyal yang mendeteksi kekuatan mekanis juga berpotensi menjadi target pengembangan obat baru di masa depan.

Tanya Jawab (FAQ)

1. Apa itu 'fibrosis usus' dan mengapa ini menjadi masalah pada penyakit radang usus kronis?

Fibrosis usus adalah kondisi di mana jaringan usus mengeras dan menyempit akibat pembentukan jaringan parut berlebih.

Pada penderita penyakit radang usus kronis seperti Crohn dan kolitis ulserativa, fibrosis ini dapat memperburuk gejala, menyebabkan penyumbatan usus, dan mengurangi efektivitas pengobatan.

2. Selain peradangan, faktor fisik apa yang terbukti memicu fibrosis usus?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa rangsangan fisik seperti aliran cairan pencernaan dan gerakan peristaltik usus (kontraksi dan relaksasi) dapat memicu fibrosis, terutama jika lapisan pelindung mukosa usus sudah rusak.

3. Bagaimana cara mencegah atau mengobati fibrosis usus jika peradangan bukan satu-satunya penyebab?

Fokus pengobatan dan pencegahan harus bergeser untuk tidak hanya mengobati peradangan, tetapi juga memulihkan dan menjaga integritas lapisan pelindung mukosa usus.

Memahami bagaimana sel usus merespons rangsangan mekanis juga penting untuk pengembangan terapi baru.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment