A Simple Mix-Up Between an SST (Gel Tube) and Plain Red Top Tube Can Lead to: Bencana Diagnosis yang Bisa Dihindari!
INFOLABMED.COM – Di ruang pengambilan darah dan laboratorium klinik, masalah sering dimulai dari detail terkecil: A simple mix-up between an SST (Gel Tube) and Plain Red Top Tube can lead to: rangkaian bencana laboratorium yang tidak terduga.
Kedua tabung ini memiliki tujuan yang sangat berbeda dalam proses pengolahan serum. Tabung SST (Serum Separator Tube) dengan gel barrier-nya dirancang untuk memisahkan serum setelah sentrifugasi, sementara tabung Plain Red Top Tube tidak memiliki gel dan biasanya untuk pengambilan serum tanpa aditif atau untuk bank darah .
Mari kita bedah konsekuensi fatal jika petugas mengambil sampel dengan tabung yang salah.
1. Kontaminasi Silang (Cross-Contamination) melalui Partikel Gel (Jika SST diputar ulang)
Jika seorang petugas secara tidak sengaja mengambil darah untuk pemeriksaan kimia klinik ke dalam tabung SST (yang memiliki gel), lalu memutarnya, serum akan terpisah sempurna. Namun, jika tabung ini kemudian dibuka, diambil serumnya, lalu diputar ulang (re-centrifuge) di kemudian hari, partikel gel dapat lepas dan masuk ke dalam serum .
Dalam studi kasus yang didokumentasikan di Penn State Health, aspirasi gel ke dalam pipet menyebabkan kontaminasi pada sampel pasien (K+, LDH, AST, dan ALT meningkat palsu) serta menyumbat pipet otomatis hingga $20,000 untuk perbaikannya.
2. Clot Formation & Fibrin Interference (Jika Plain Tube dikirim ke Alat Cepat)
Jika tabung Plain Red Top (tanpa gel) tidak disentrifugasi tepat waktu atau disentrifugasi dengan kecepatan/ suhu yang salah, serum sering kali masih mengandung benang fibrin .
Saat sampel ini dimasukkan ke dalam alat kimia klinik (autoanalyzer) yang menggunakan probe aspirator, benang fibrin akan: menyumbat probe (aspiration error), menyebabkan hasil beberapa parameter (terutama kalium dan glukosa) rendah palsu, atau memicu "probe crash" (tabrakan probe dengan sumur reagen).
3. Hasil Elektrolit dan Enzim yang Tidak Stabil
Jika SST dianggap sebagai Plain Tube untuk penyimpanan lama: Tabung SST tidak boleh dipindahkan serumnya ke tabung sekunder jika dilakukan re-run setelah beberapa jam, karena interaksi dengan gel dapat menyebabkan perubahan pH, mempengaruhi hasil Natrium (Na) dan Kalium (K).
Jika Plain Tube disentrifugasi terlalu cepat: Belum sempurna bekuan darah. Probe akan mendeteksi "Short Sample". Laboratorium akan membuang waktu untuk re-run.
4. Risiko Kesalahan Identifikasi pada Bank Darah
Tabung Plain Red Top sering digunakan untuk crossmatch (uji silang serasi) darah. Jika tertukar dengan tabung SST (mengandung gel, silika, atau clot activator):
- Aktivator di SST akan mengubah struktur antigen di permukaan sel darah merah, menyebabkan hasil reaksi silang positif (false positive) .
- Pasien akan terdiagnosis memiliki antibodi yang tidak ada, membuang-buang unit darah yang berharga, dan memperlambat tindakan medis.
Tabel Perbedaan dan Akibat Kesalahan
| Parameter | Tabung SST (Gold/Red marmer) | Tabung Plain Red Top (Merah polos) |
|---|---|---|
| Komposisi | Gel separator, Silica clot activator | Tidak ada aditif/beberapa memiliki lapisan kaolin |
| Penggunaan Primer | Kimia klinik (SGPT, Kreatinin, Kolesterol) | Bank darah (Crossmatch), Serologi (Titer antibodi) |
| Proses | Inversi 5x, diamkan 30 mnt, sentrifuge | Inversi 5x, diamkan hingga beku (45-60 mnt) |
| Jika Tertukar | Potensi kontaminasi gel jika dibuka ulang + risiko false crossmatch | Resiko fibrin & penyumbatan alat kimia jika dipaksakan di alat |
Studi Kasus: Klaim Asuransi Akibat Tabung Salah
Sebuah laporan keselamatan berbasis di Inggris merekam bahwa seorang perawat mengambil sampel darah rutin pasien untuk pemeriksaan fungsi hati (LFT) dan Urea & Elektrolit ke dalam tabung Plain Red Top karena kehabisan tabung SST.
- Kejadian: Tabung dikirim ke lab. Petugas lab yang tergesa-gesa langsung memasukkan tabung tersebut ke alat (karena membutuhkan serum dengan cepat tanpa menunggu bekuan sempurna).
- Hasil: Alat mengalami error 4x berturut-turut (aspiration error). Petugas memindahkan serum ke tabung baru, menyebabkan keterlambatan laporan hingga 4 jam.
- Konsekuensi: Pasien yang menunggu hasil untuk operasi elektif harus dibatalkan jadwalnya, dan laboratorium mendapat komplain formal dari manajemen rumah sakit.
Akhirnya, rumah sakit harus membayar denda keterlambatan operasi senilai £3.500 (sekitar 70 juta rupiah).
A simple mix-up between an SST (Gel Tube) and Plain Red Top Tube can lead to: kaskade error pra-analitik yang mahal, baik dari segi biaya material (kerusakan probe, pemborosan reagen), waktu (pengulangan sampel), maupun risiko keselamatan pasien.
Mengingat perbedaan utama terletak pada keberadaan gel separator dan clot activator, petugas lab harus disiplin dalam membaca label dan memahami SOP penggunaan masing-masing tabung. Untuk sampel rutin Kimia Klinik, gunakan SST. Untuk serologi, bank darah, atau tes yang membutuhkan serum murni tanpa kontak dengan bahan kimia (termasuk gel), gunakan Plain Red Top. Jangan pernah menukar keduanya hanya karena "stok habis".
Tetap ikuti perkembangan terbaru seputar dunia kesehatan dan laboratorium medis hanya di Infolabmed. Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.
Post a Comment