Perbedaan Mengejutkan Risiko Kesehatan Obesitas: Pria Vs. Wanita Terungkap

Table of Contents
Perbedaan Mengejutkan Risiko Kesehatan Obesitas: Pria Vs. Wanita Terungkap

INFOLABMED.COM - Sebuah temuan penelitian baru yang dipresentasikan di European Congress on Obesity (ECO) tahun ini di Istanbul, Turki, membuka tabir perbedaan signifikan dalam pola risiko kesehatan jantung, metabolik, dan inflamasi antara pria dan wanita yang hidup dengan obesitas.

Penelitian ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana para klinisi dapat menyesuaikan pendekatan penanganan secara spesifik.

Studi yang dipimpin oleh para peneliti di Dokuz Eylul University, Turki, menunjukkan bahwa pria dengan obesitas tampaknya lebih rentan terhadap penumpukan lemak perut (viseral).

Lemak viseral ini merupakan faktor kunci dalam mengembangkan risiko kesehatan jantung dan metabolik terkemuka.

Selain itu, pria dengan obesitas juga menunjukkan peningkatan kadar enzim hati, yang merupakan indikator kerusakan hati.

Sebaliknya, wanita dengan obesitas cenderung mengalami inflamasi sistemik yang lebih luas.

Mereka juga lebih berisiko mengalami kolesterol tinggi, kondisi yang dapat memicu penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

"Temuan kami mengungkap perbedaan menarik dalam cara pria dan wanita merespons obesitas," ujar penulis utama studi, Dr. Zeynep Pekel, dari Dokuz Eylul University, Izmir, Turki.

"Ini menunjukkan betapa pentingnya penelitian yang spesifik berdasarkan gender," tambahnya.

Dr. Pekel menjelaskan bahwa perbedaan jenis kelamin bukan hanya memainkan peran kuat dalam patologi dan perjalanan penyakit obesitas.

Hasil penelitiannya mengindikasikan bahwa perbedaan ini bisa menjadi batu loncatan untuk menemukan terapi yang ditargetkan dan berbasis jenis kelamin.

Hal ini bertujuan untuk membantu dalam pengelolaan individu yang hidup dengan obesitas.

Pada tahun 2023, diperkirakan sekitar 1,54 miliar orang dewasa di seluruh dunia hidup dengan sindrom metabolik.

Jumlah ini setara dengan sekitar 1 dari 3 wanita dan 1 dari 4 pria.

Sindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko paling berbahaya untuk penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

Faktor-faktor tersebut mencakup obesitas perut, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan kadar glukosa plasma puasa yang meningkat.

Obesitas sendiri merupakan penyakit kronis yang kompleks.

Penyakit ini ditandai oleh respons metabolik dan inflamasi yang beragam.

Jenis kelamin biologis mempengaruhi distribusi jaringan lemak (adipose).

Hal ini juga memengaruhi metabolisme hati (hepatik) dan aktivitas inflamasi sistemik.

Namun, profil berbasis jenis kelamin untuk penanda kardio-metabolik dan inflamasi pada orang dewasa dengan obesitas masih kurang.

Untuk mengisi kesenjangan pengetahuan ini, para peneliti menganalisis data dari 886 wanita dan 248 pria dengan obesitas.

Peserta berasal dari Klinik Obesitas di Departemen Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Dokuz Eylul University, antara tahun 2024 dan 2025.

Tujuannya adalah untuk membandingkan parameter antropometri, metabolik, dan inflamasi.

Selain itu, studi ini juga mengidentifikasi pola spesifik jenis kelamin.

Semua partisipan menjalani pengukuran fisik seperti tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh (BMI), dan tekanan darah.

Evaluasi ekstensif profil lipid darah juga dilakukan.

Hal ini untuk mengukur faktor risiko kardiovaskular, termasuk kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), trigliserida, dan glukosa darah puasa.

Penanda biokimia fungsi hati (kadar alanin aminotransferase [ALT] dan gamma-glutamyl transferase [GGT]) dan ginjal (kadar kreatinin) juga dinilai.

Parameter inflamasi seperti C-reactive protein, laju endap darah, jumlah sel darah putih, dan jumlah trombosit juga dievaluasi.

Hasil analisis menunjukkan rata-rata, pria memiliki indeks massa tubuh (BMI) yang sedikit lebih tinggi dibandingkan wanita (37,5 vs 36 kg/m²).

Namun, lingkar pinggang pria secara signifikan lebih besar (120 vs 108 cm).

Tekanan darah sistolik juga cenderung lebih tinggi pada pria (128 vs 122 mmHg).

Kedua faktor ini dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk penyakit kardiovaskular dan diabetes.

Selain itu, enzim hati (ALT dan GGT) serta kadar trigliserida ditemukan meningkat signifikan pada pria.

Kadar kreatinin yang lebih tinggi juga ditemukan pada pria, yang dapat menyebabkan berbagai komplikasi, termasuk penyakit hati.

Sebaliknya, wanita menunjukkan kadar kolesterol total yang secara signifikan lebih tinggi (215 vs 203 mg/dL).

Mereka juga memiliki kadar LDL atau kolesterol jahat yang lebih tinggi (130 vs 123 mg/dL) dibandingkan pria.

Lebih lanjut, penanda inflamasi seperti laju endap darah, C-reactive protein, dan jumlah trombosit juga secara signifikan lebih tinggi pada wanita.

Dr. Pekel menjelaskan bahwa perbedaan jenis kelamin dalam hormon, respons imun, dan distribusi lemak dapat menjelaskan pola yang diamati.

Sebagai contoh, hormon, terutama estrogen, memengaruhi cara lemak disimpan dan bagaimana tubuh merespons inflamasi.

Wanita cenderung menyimpan lebih banyak lemak di bawah kulit dan menunjukkan profil inflamasi yang berbeda.

Hal ini terlihat dari tingginya kadar penanda seperti C-reactive protein dan laju endap darah.

Wanita umumnya juga memiliki respons imun yang lebih kuat, sebagian terkait dengan faktor genetik seperti kromosom X.

Sebaliknya, pria lebih mungkin mengumpulkan lemak di sekitar organ dalam, yang lebih erat kaitannya dengan komplikasi metabolik.

"Masih tahap awal dan temuan ini perlu dikonfirmasi pada kelompok pasien lain, namun penelitian ini menawarkan wawasan penting tentang bagaimana obesitas dapat memengaruhi pria dan wanita secara berbeda," kata Dr. Pekel.

"Perbedaan-perbedaan ini kemungkinan dipengaruhi oleh faktor biologis seperti hormon, respons imun, dan distribusi lemak.

Langkah kami selanjutnya adalah memvalidasi temuan ini pada populasi yang lebih besar, lebih memahami proses biologis di balik perbedaan ini, dan mengeksplorasi bagaimana pola-pola ini berkaitan dengan risiko klinis," tambahnya.

Para penulis mengakui beberapa keterbatasan studi ini.

Termasuk desain studi yang bersifat potong lintang, yang tidak dapat menetapkan hubungan sebab akibat.

Studi ini juga berpotensi mengalami kesalahan pengganggu dan pembalikan kausalitas.

Selain itu, studi ini sebagian besar mencakup orang dewasa dari etnis Turki, sehingga generalisasi temuan ke etnis lain kurang pasti.

Studi yang lebih besar dapat mengkonfirmasi dan memperluas hasil penelitian ini.

FAQ: Memahami Perbedaan Risiko Obesitas Antara Pria dan Wanita

1. Apa perbedaan utama risiko kesehatan antara pria dan wanita dengan obesitas menurut penelitian terbaru?

Penelitian menunjukkan pria lebih rentan terhadap lemak perut viseral dan peningkatan enzim hati, indikator kerusakan hati.

Sementara wanita lebih cenderung mengalami inflamasi sistemik dan kolesterol tinggi yang berujung pada penyakit jantung dan diabetes tipe 2.

2. Mengapa ada perbedaan respons terhadap obesitas antara pria dan wanita?

Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor biologis seperti hormon (misalnya, estrogen pada wanita), respons imun, dan pola distribusi lemak.

Wanita cenderung menyimpan lemak di bawah kulit dan memiliki respons imun yang lebih kuat, sedangkan pria lebih mungkin mengakumulasi lemak di sekitar organ dalam.

3. Apa itu sindrom metabolik dan mengapa penting bagi penderita obesitas?

Sindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko kardiovaskular dan diabetes tipe 2, seperti obesitas perut, kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi, dan glukosa darah tinggi.

Penting karena meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes.

4. Bagaimana temuan penelitian ini dapat mengubah penanganan obesitas?

Penemuan perbedaan spesifik gender ini dapat mengarah pada pengembangan pendekatan penanganan yang lebih ditargetkan dan berbasis jenis kelamin.

Ini memungkinkan terapi yang lebih efektif dan personal untuk individu dengan obesitas.

5. Apa keterbatasan dari penelitian ini?

Penelitian ini bersifat potong lintang, sehingga tidak dapat membuktikan hubungan sebab akibat.

Studi ini juga mayoritas melibatkan partisipan etnis Turki, sehingga generalisasinya ke etnis lain mungkin terbatas.

Temuan ini perlu dikonfirmasi pada populasi yang lebih besar dan beragam.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment