Highlighting Limitations Like the BCG Vaccine: Mengapa Vaksin Tertua untuk TBC Masih Punya Celah?

Table of Contents

INFOLABMED.COM – Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) telah digunakan selama hampir satu abad sebagai senjata utama melawan tuberkulosis (TBC). Setiap tahun, jutaan bayi di negara dengan beban TBC tinggi, termasuk Indonesia, menerima vaksin ini segera setelah lahir . Namun, di balik penggunaannya yang masif, ada keterbatasan signifikan yang perlu dipahami oleh tenaga kesehatan dan masyarakat.

Mengapa setelah dewasa seseorang masih bisa terkena TBC meskipun sudah mendapatkan vaksin BCG saat bayi? Highlighting limitations like the BCG vaccine adalah langkah awal untuk memahami mengapa kita membutuhkan vaksin dan strategi baru dalam perang melawan TBC.

1. Efektivitas BCG Sangat Tergantung Usia

Keterbatasan utama vaksin BCG adalah performa (efektivitasnya) yang menurun drastis seiring bertambahnya usia penerima .

Pada Bayi dan Anak-Anak (Efektif)

BCG sangat efektif pada bayi dan anak kecil. Vaksin ini memberikan perlindungan 60-80% terhadap bentuk TBC paling berat, yaitu TBC meningitis (radang selaput otak) dan TBC milier (TBC yang menyebar ke seluruh tubuh) . Inilah alasan utama mengapa vaksinasi BCG diberikan segera setelah lahir.

"BCG efektif pada bayi untuk mencegah komplikasi berat seperti TB meningitis," jelas edukator farmasi apt. Rahmat Hidayat, S.Farm., MSc .

Pada Remaja dan Dewasa (Tidak Efektif)

Sayangnya, perlindungan dari BCG tidak bertahan hingga dewasa. Setelah melewati masa kanak-kanak, efektivitasnya dalam mencegah TBC paru (jenis yang paling umum dan menular) menjadi sangat terbatas, bahkan tidak efektif sama sekali di beberapa wilayah .

"BCG tidak bisa mencegah fase laten menjadi aktif. Inilah mengapa vaksin baru seperti M72 sedang dikembangkan," kata Rahmat .

2. "The Chingleput Trial": Bukti Keterbatasan BCG di Lapangan

Salah satu bukti paling kuat tentang keterbatasan BCG berasal dari uji coba Chingleput di India, yang dimulai pada tahun 1968 .

Penelitian berskala besar ini melibatkan lebih dari 360.000 peserta dan menyimpulkan bahwa vaksin BCG tidak memberikan perlindungan signifikan terhadap TBC paru pada orang dewasa di populasi tersebut. Bahkan, dalam penelitian tersebut, angka kejadian TBC antara kelompok yang menerima vaksin dan plasebo hampir sama .

Temuan ini menjadi titik balik pemahaman bahwa vaksin BCG, meskipun penting untuk anak-anak, bukanlah solusi jangka panjang untuk mengendalikan TBC di tingkat populasi dewasa .

3. Mengapa BCG Gagal pada Orang Dewasa?

Ada beberapa alasan ilmiah di balik kegagalan ini:

  1. Penurunan Kekebalan (Waning Immunity): Efek perlindungan BCG diperkirakan hanya bertahan sekitar 10-15 tahun. Setelah itu, memori sel imun yang terbentuk oleh vaksin menurun drastis .
  2. Paparan Lingkungan: Orang dewasa di negara endemis TBC lebih sering terpapar oleh Mycobacterium tuberculosis (bakteri penyebab TBC) maupun mikobakteria lingkungan lainnya. Paparan ini dapat mengganggu atau "membingungkan" sistem imun yang telah diprogram oleh BCG .
  3. Infeksi Laten: BCG tidak mampu mencegah infeksi laten (TBC tidur) berkembang menjadi penyakit aktif (TBC paru menular) ketika sistem kekebalan tubuh seseorang melemah di usia dewasa .

4. Efek Samping dan Kontraindikasi (Side Effects & Contraindications)

Selain keterbatasan efektivitas, BCG memiliki risiko efek samping yang perlu diwaspadai :

  • Reaksi Lokal: Pembengkakan dan kemerahan di lokasi suntikan adalah hal yang umum.
  • Pembesaran Kelenjar Getah Bening (Limfadenitis): Umumnya ringan, tetapi bisa terjadi.
  • Infeksi BCG Terdiseminasi (Berat): Ini adalah risiko yang jarang namun sangat berbahaya. Infeksi ini dapat terjadi pada individu dengan sistem kekebalan yang lemah (imunokompromais), seperti penderita HIV/AIDS, pasien kanker yang menjalani kemoterapi, atau mereka yang mengonsumsi obat imunosupresan dosis tinggi .

Vaksin BCG tidak boleh diberikan kepada orang dengan sistem imun lemah, ibu hamil, atau mereka yang memiliki gejala infeksi akut .

Masa Depan: Vaksin dan Booster Baru untuk Mengatasi Keterbatasan BCG

Karena keterbatasan BCG inilah, para ilmuwan di seluruh dunia berlomba mengembangkan vaksin generasi baru yang dikhususkan untuk remaja dan dewasa .

1. Vaksin M72

Vaksin ini adalah kandidat paling maju. Berbeda dengan BCG yang menggunakan bakteri utuh, M72 hanya menggunakan bagian spesifik dari bakteri Mycobacterium tuberculosis.

  • Hasil Menjanjikan: Uji coba fase 2 menunjukkan bahwa M72 mampu mencegah infeksi laten menjadi aktif hingga 50 persen pada orang dewasa .
  • Status: Saat ini sedang memasuki uji klinis fase 3, dan Indonesia akan menjadi salah satu lokasi uji cobanya .

2. Booster Vaksin Inhalasi

Dikembangkan oleh CanSino Biologics, kandidat vaksin ini dirancang sebagai booster (penguat) untuk BCG yang diberikan melalui jalur inhalasi (hirup) .

  • Mekanisme Cerdas: Karena TBC adalah infeksi saluran pernapasan, memberikan vaksin langsung ke paru-paru diharapkan dapat memicu respons imun yang lebih kuat di tempat infeksi sebenarnya .
  • Status: CanSino telah mendapatkan izin dari BPOM Indonesia untuk memulai uji klinis pada orang dewasa berusia 18-49 tahun sebagai vaksin booster .

Kesimpulan

Highlighting limitations like the BCG vaccine bukanlah upaya untuk meremehkan vaksin ini, melainkan untuk memahami posisi dan keterbatasannya secara ilmiah.

Vaksin BCG tetap menjadi pahlawan bagi jutaan anak, melindungi mereka dari kematian akibat TBC berat. Namun, keterbatasannya pada orang dewasa menyadarkan kita bahwa kita tidak bisa selamanya hanya mengandalkan "pahlawan lama". Perkembangan vaksin baru seperti M72 dan Booster Inhalasi menawarkan harapan baru untuk memutus mata rantai penularan TBC untuk selamanya.

Tetap ikuti perkembangan terbaru seputar dunia kesehatan dan laboratorium medis hanya di Infolabmed. Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment