Gula Darah Tetap Tinggi Meski Hindari Nasi & Mi? Dokter Ungkap 3 Jebakan Diet Yang Wajib Anda Tahu!
INFOLABMED.COM - Banyak individu merasa frustrasi.
Mereka telah berusaha keras mengurangi konsumsi nasi dan mi.
Namun, kadar gula darah mereka tetap saja tinggi.
Pertanyaan ini sangat sering didengar oleh Dr. Wei Shih-hang, Direktur Klinik Hsinchu Chu-Ji.
Ia menambahkan bahwa banyak orang mencoba mengontrol diet mereka.
Tetapi, hasil pemeriksaan kesehatan mereka masih belum memuaskan.
Dalam situasi seperti ini, akar masalahnya seringkali terletak pada pilihan makanan yang salah.
Misalnya, ketika seseorang mengurangi makanan bertepung.
Namun, sebagai gantinya mereka mengonsumsi roti dan makanan penutup.
Hal ini mungkin dapat menurunkan berat badan.
Akan tetapi, kadar gula darah dan lipid darah justru bisa menjadi tidak terkontrol.
Kondisi ini dapat memicu stres metabolik dan ketidakseimbangan pada usus.
Dr. Wei Shih-hang menyarankan penggantian yang lebih bijaksana.
Ia merekomendasikan untuk mengganti sebagian nasi putih.
Ganti dengan nasi merah dan ubi jalar.
Penting juga untuk memprioritaskan asupan protein.
Serta mengurangi konsumsi 'makanan berkalori kosong'.
Contohnya adalah berbagai jenis makanan penutup.
Ia menekankan sebuah poin krusial.
Mengonsumsi makanan yang tepat untuk mengurangi asupan gula.
Ini sebenarnya jauh lebih penting daripada sekadar mengurangi porsi makan.
Dr. Wei Shih-hang membagikan pandangannya melalui platform digital.
Ia memposting di halaman penggemar Facebooknya 'Cofit My Personal Nutritionist'.
Juga di saluran YouTube-nya 'Cofit x Dr. Sung Yen-jen - Chu Ri Medical'.
Banyak orang beranggapan bahwa mengurangi karbohidrat otomatis lebih sehat.
Namun, seringkali mereka justru beralih dari nasi.
Dan kemudian mengonsumsi lebih banyak roti serta makanan penutup.
Berat badan mereka memang mungkin berkurang.
Tetapi, kadar gula darah dan lipid darah menjadi semakin tidak stabil.
Ini adalah sebuah 'titik buta' umum.
Sebuah kesalahan yang sering dialami dalam upaya penurunan berat badan.
Tiga Kesalahan Umum Saat Mencoba Mengurangi Asupan Gula
Menurut Dr. Wei Shih-hang, mengurangi konsumsi nasi dan mi belum tentu membawa manfaat kesehatan.
Kunci utamanya bukanlah apa yang Anda kurangi.
Melainkan apa yang Anda jadikan penggantinya.
Banyak orang yang berusaha mengurangi asupan gula.
Mereka justru seringkali makan sangat sedikit nasi.
Namun, mereka mengonsumsi banyak camilan.
Contohnya biskuit atau aneka makanan penutup.
Sumber protein mereka pun cenderung berasal dari makanan olahan.
Seperti sosis dan bacon.
Pendekatan yang keliru dalam pengurangan gula ini.
Dapat menimbulkan tiga perubahan negatif pada tubuh Anda:
- Gula Darah Lebih Tidak Stabil: Kurangnya serat dalam makanan yang dikonsumsi.
Ditambah lagi dengan konsumsi makanan berindeks glikemik tinggi.
Hal ini membuat kadar gula darah lebih rentan mengalami fluktuasi yang tajam.
- Peningkatan Stres Metabolik: Kombinasi gula olahan dengan daging olahan.
Dapat memicu peningkatan peradangan dalam tubuh.
Dan juga berkontribusi pada resistensi insulin.
- Usus Mulai Menjadi Tidak Seimbang: Asupan sayuran dan biji-bijian utuh yang tidak memadai.
Menyebabkan berkurangnya populasi bakteri baik di usus.
Dan pada akhirnya menurunkan fungsi metabolisme secara keseluruhan.
Dr. Wei Shih-hang merujuk pada sebuah studi jangka panjang.
Studi ini melacak hampir 200.000 partisipan.
Hasilnya menunjukkan bahwa pengurangan gula yang tidak sehat.
Misalnya menggabungkan pati olahan dengan daging olahan.
Dapat meningkatkan risiko diabetes sebesar 39% hingga 44%.
Sebaliknya, pengurangan gula yang sehat.
Seperti mengonsumsi biji-bijian utuh, protein nabati, dan lemak sehat secara bersamaan.
Justru terbukti mampu mengurangi risiko diabetes.
Dengan kata lain, makan lebih sedikit.
Tetapi mengonsumsi makanan yang salah.
Bahkan bisa lebih berbahaya daripada tidak mengurangi gula sama sekali.
Tiga Poin Kunci untuk Mengurangi Gula dalam Diet Anda
Dr. Wei Shih-hang menjelaskan lebih lanjut.
Banyak orang mengabaikan fakta penting ini.
Berat badan yang normal tidak selalu menandakan metabolisme yang normal.
Secara khusus, di kliniknya sering ditemui individu yang tampak langsing.
Namun memiliki kadar lemak visceral yang tinggi.
Dan massa otot yang rendah.
Mereka ini dikenal sebagai 'orang gemuk' (obesitas sarkoptotik).
Kondisi ini membuat mereka lebih rentan terhadap masalah terkait gula darah.
Jika Anda benar-benar ingin menurunkan lemak.
Dan menstabilkan kadar gula darah Anda.
Dr. Wei Shih-hang menyarankan tiga penyesuaian praktis untuk memulai:
1.
Jangan sepenuhnya menghentikan konsumsi nasi putih.
Ganti sebagian nasi putih dengan nasi merah dan ubi jalar.
2.
Pilihlah untuk memprioritaskan asupan protein.
Pilih sumber protein seperti ikan, tahu, atau susu kedelai.
3.
Kurangi asupan 'kalori kosong'.
Kategori ini meliputi makanan penutup, minuman manis, dan makanan olahan lainnya.
Dr. Wei Shih-hang mengingatkan kita.
Bahwa mengurangi gula dan lemak tidak harus dilakukan secara ekstrem.
Namun, arah penyesuaiannya haruslah tepat.
Banyak orang merasa terjebak dalam upaya diet mereka.
Bukan karena mereka tidak berusaha.
Tetapi karena mereka disesatkan oleh anggapan umum.
Bahwa makan lebih sedikit sama dengan sehat.
Inti sejati dari diet bukanlah 'apa yang Anda kurangi'.
Melainkan 'apakah makanan yang Anda konsumsi bermanfaat bagi tubuh Anda'.
Karena pada akhirnya, makan dengan benar jauh lebih penting.
Dan lebih berdampak positif daripada sekadar makan lebih sedikit.
FAQ: Pertanyaan Umum Seputar Pengelolaan Gula Darah
1. Mengapa gula darah saya masih tinggi meskipun sudah mengurangi nasi dan mi?
Kadar gula darah yang masih tinggi meskipun mengurangi nasi dan mi bisa disebabkan oleh beberapa faktor. Seringkali, penggantian karbohidrat sederhana seperti nasi dan mi dilakukan dengan makanan lain yang ternyata sama atau bahkan lebih tinggi indeks glikemiknya, seperti roti putih, kue, atau minuman manis. Selain itu, kurangnya asupan serat dari sayuran dan biji-bijian utuh, serta konsumsi protein dan lemak yang tidak seimbang, juga dapat memengaruhi stabilitas gula darah.
2. Apa yang dimaksud dengan 'kalori kosong' dan mengapa harus dihindari?
'Kalori kosong' adalah makanan atau minuman yang tinggi kalori tetapi memiliki kandungan nutrisi penting yang sangat sedikit, seperti vitamin, mineral, dan serat. Contohnya termasuk makanan penutup (kue, es krim), minuman bersoda, permen, dan makanan ringan olahan lainnya. Makanan ini dapat menyebabkan lonjakan gula darah, menambah berat badan tanpa memberikan manfaat nutrisi, dan berpotensi meningkatkan risiko masalah kesehatan jika dikonsumsi berlebihan.
3. Benarkah nasi merah dan ubi jalar lebih baik daripada nasi putih?
Ya, nasi merah dan ubi jalar umumnya dianggap lebih baik daripada nasi putih dalam konteks pengelolaan gula darah. Nasi merah adalah biji-bijian utuh yang kaya serat, vitamin, dan mineral, sehingga memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan nasi putih. Serat membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam aliran darah. Ubi jalar juga merupakan sumber karbohidrat kompleks yang baik, kaya serat, vitamin A, dan nutrisi lainnya, serta umumnya memiliki indeks glikemik yang lebih rendah daripada nasi putih.
4. Apa itu 'obesitas sarkoptotik' dan mengapa ini berbahaya bagi kadar gula darah?
Obesitas sarkoptotik, atau yang sering disebut 'skinny fat', merujuk pada kondisi seseorang yang memiliki berat badan normal atau tampak kurus di luar, tetapi memiliki persentase lemak tubuh yang tinggi (terutama lemak visceral di sekitar organ) dan massa otot yang rendah. Kondisi ini sangat berbahaya karena lemak visceral dapat melepaskan zat-zat inflamasi yang mengganggu fungsi insulin, sehingga meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2, meskipun tidak terlihat gemuk secara keseluruhan.
Post a Comment