As Tawarkan 'Kesepakatan Getir': Bantuan Hiv Untuk Akses Mineral Kritis Zambia
INFOLABMED.COM - Zambia menghadapi dilema pelik terkait kelangsungan program bantuan kesehatan vital.
Lebih dari satu juta penduduk negara ini hidup dengan HIV, menjadikannya salah satu negara di Afrika yang sangat bergantung pada program PEPFAR Amerika Serikat.
Selama lebih dari dua dekade, PEPFAR telah menjadi tulang punggung pembiayaan pengobatan HIV yang menyelamatkan jiwa di Zambia.
Negara di Afrika bagian selatan ini telah menunjukkan kemajuan luar biasa dalam memerangi HIV.
Angka infeksi HIV baru dilaporkan turun drastis, dari 63.000 menjadi 30.000 antara tahun 2010 dan 2025, menurut data PBB.
Namun, kini Zambia dilaporkan enggan menandatangani kesepakatan baru dengan AS.
Perjanjian baru ini dikabarkan mengaitkan bantuan kesehatan krusial dengan tuntutan akses yang lebih besar terhadap cadangan mineral kritis negara tersebut.
Sebuah memo yang diperoleh The New York Times pada akhir Maret menguraikan potensi penarikan dukungan kesehatan AS dalam skala masif.
Tujuannya adalah untuk memaksa Zambia dan negara lain agar tunduk pada persyaratan AS.
Pendekatan ini merupakan bagian dari strategi 'America First Global Health Strategy' era Trump.
Administrasi sebelumnya telah berupaya mengganti bantuan puluhan tahun dengan perjanjian bilateral baru yang disebut Memorandum of Understanding (MOU).
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa mereka bertujuan bermitra dengan negara-negara tertentu untuk bertransisi dari model bantuan asing ke paradigma investasi dan pertumbuhan.
Meskipun detailnya belum sepenuhnya diungkap, MOU ini dikabarkan mewakili lebih dari $20,6 miliar pendanaan kesehatan baru.
Pendanaan ini ditujukan untuk memerangi HIV/AIDS, malaria, tuberkulosis, dan penyakit menular lainnya.
Sebanyak 23 negara di seluruh Afrika telah menandatangani kesepakatan bilateral semacam ini dengan AS.
Namun, Zimbabwe dan Zambia menjadi dua negara yang menolak.
Conor Savoy, seorang fellow di Center for Global Development, berpendapat bahwa pendekatan ini sangat berbeda dari kebijakan AS sebelumnya.
Zimbabwe sendiri telah menarik diri dari negosiasi.
Mereka menyebut tuntutan AS terkait data dan sampel biologis sebagai 'berat sebelah' dan 'pelanggaran kedaulatan yang tidak dapat ditoleransi'.
Di Kenya, pemerintah menerima kesepakatan tersebut.
Namun, para aktivis yang memiliki kekhawatiran serupa mengenai privasi data telah membawanya ke jalur hukum.
Selama berbulan-bulan, AS telah berusaha keras mencapai kesepakatan dengan Zambia.
Pada Februari lalu, pemerintah Zambia menyatakan proposal AS tidak sejalan dengan kepentingan nasional mereka.
AS mengusulkan pendanaan kesehatan sebesar $1 miliar selama lima tahun.
Jumlah ini kurang dari setengah dari apa yang Zambia terima sebelum Trump menjabat.
Zambia juga diwajibkan berkomitmen $340 juta untuk pengeluaran kesehatan baru.
Selain itu, AS menuntut akses data biologis dan sampel selama 25 tahun.
Dilaporkan Zambia memiliki tenggat waktu hingga Mei untuk menandatangani kesepakatan tersebut atau berisiko kehilangan pendanaan.
Pemerintah Zambia sebenarnya telah meningkatkan kontribusi kesehatan mereka, termasuk untuk beberapa program HIV.
Namun, Savoy menekankan bahwa peningkatan pengeluaran kesehatan tidak bisa terjadi dalam semalam.
Sistem kesehatan mereka belum siap untuk sepenuhnya memikul tanggung jawab pendanaan kesehatan.
Permintaan lain yang dilaporkan dari AS adalah akses terhadap mineral kritis Zambia.
Zambia memiliki cadangan nikel dan kobalt yang signifikan.
Negara ini juga merupakan salah satu produsen tembaga terbesar di dunia.
Awal tahun ini, pemerintahan Trump meluncurkan 'Project Vault' untuk melawan dominasi China dalam mineral langka.
Namun, laporan tentang pertukaran bantuan kesehatan untuk mineral ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan para ahli.
Savoy memperingatkan bahwa tindakan ini ibarat 'bermain api'.
Hal ini dapat semakin mengikis kepercayaan dan kredibilitas AS di benua Afrika.
HealthGAP, sebuah organisasi advokasi kesehatan di Zambia, melaporkan bahwa para aktivis menuntut penolakan kesepakatan yang mengkondisikan akses pendanaan dengan pertambangan.
Banyak negara Afrika telah menandatangani MOU dengan AS.
Savoy mengakui ada negara yang menginginkan investasi semacam ini dan bersedia menerimanya.
Sulit untuk memastikan apakah mineral kritis menjadi syarat dalam kesepakatan lain.
Contohnya, Republik Demokratik Kongo telah menandatangani perjanjian kesehatan dan perjanjian mineral terpisah dengan AS.
Beberapa negara mungkin menyambut baik perjanjian mineral dengan AS.
Savoy menyebutkan bahwa banyak negara di kawasan ini berusaha menjauh dari ketergantungan pada China.
Namun, ia berargumen bahwa kesepakatan kesehatan dan ekonomi dengan AS seharusnya tetap terpisah.
Upaya ini, terutama di Zambia, berpotensi merusak kredibilitas AS secara serius.
Pada akhirnya, AS berisiko melakukan hal yang sama seperti yang mereka tuduhkan kepada China selama dua dekade terakhir di Afrika.
Tanya Jawab Seputar Kesepakatan AS-Zambia
1. Mengapa AS mengaitkan bantuan kesehatan dengan mineral kritis di Zambia?
AS tampaknya menerapkan strategi 'America First' dengan berupaya mendapatkan keuntungan ekonomi dari negara-negara penerima bantuan.
Permintaan akses mineral kritis di Zambia, seperti nikel dan kobalt, sejalan dengan upaya AS untuk menyaingi pengaruh China dalam pasokan mineral penting global.
2. Apa dampak dari penolakan Zambia terhadap kesepakatan AS?
Jika Zambia menolak kesepakatan tersebut, mereka berisiko kehilangan pendanaan kesehatan vital dari program PEPFAR.
Hal ini dapat berdampak pada kelangsungan pengobatan HIV/AIDS dan program kesehatan lainnya, yang bisa mengancam jutaan jiwa.
3. Bagaimana posisi negara-negara Afrika lainnya terkait kesepakatan serupa?
Sebagian besar negara Afrika telah menandatangani MOU bilateral dengan AS, yang mengindikasikan adanya keinginan untuk menjalin kemitraan investasi.
Namun, Zimbabwe dan Zambia menunjukkan adanya perlawanan terhadap persyaratan yang dianggap terlalu memberatkan atau mengancam kedaulatan.
4. Apakah ada kekhawatiran terkait privasi data dalam kesepakatan ini?
Ya, tuntutan AS untuk akses data biologis dan sampel selama 25 tahun menimbulkan kekhawatiran serius tentang privasi data dan potensi penyalahgunaan.
Aktivis di Zambia dan Kenya telah menyuarakan keprihatinan serupa, bahkan hingga menggugat kesepakatan tersebut di pengadilan.
5. Apa argumen utama para ahli mengenai strategi AS ini?
Para ahli, seperti Conor Savoy, berpendapat bahwa strategi AS ini berisiko merusak kredibilitasnya di Afrika.
Dengan mengaitkan bantuan kesehatan dengan keuntungan ekonomi, AS berpotensi dicap melakukan praktik yang sama seperti yang mereka kritik dari China.
Hal ini bisa memperburuk hubungan diplomatik dan kepercayaan jangka panjang.
Post a Comment