Sampel Ikterik yang Mempengaruhi Pemeriksaan Laboratorium: Kenali Gangguan dan Cara Mengatasinya!

Table of Contents

Sampel Ikterik yang Mempengaruhi Pemeriksaan Laboratorium: Kenali Gangguan dan Cara Mengatasinya!


INFOLABMED.COM - Dalam praktik laboratorium klinik sehari-hari, kita sering menemukan sampel dengan warna kuning kecoklatan yang tidak biasa. Sampel ini dikenal sebagai sampel ikterik, yaitu kondisi dimana serum atau plasma berwarna kuning pekat akibat peningkatan kadar bilirubin (hiperbilirubinemia) dalam darah . Pertanyaan besar yang muncul kemudian adalah: sejauh mana sampel ikterik yang mempengaruhi pemeriksaan laboratorium?

Jawabannya: Sangat signifikan! Sampel ikterik dapat mengganggu berbagai pemeriksaan kimia klinik melalui dua mekanisme utama: interferensi spektrofotometri dan interferensi kimia. Jika tidak dikenali dan ditangani dengan tepat, hasil laboratorium bisa menjadi tidak akurat dan berpotensi menyesatkan diagnosis . Mari kita bahas secara mendalam.

Apa Itu Sampel Ikterik?

Sampel ikterik adalah spesimen darah yang mengandung kadar bilirubin sangat tinggi, sehingga memberikan warna kuning hingga coklat pada serum atau plasma . Kondisi ini mencerminkan hiperbilirubinemia pada pasien, yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi seperti:

  • Penyakit hati akut atau kronis
  • Sirosis bilier
  • Hepatitis
  • Alkoholisme
  • Kolestasis (penyumbatan saluran empedu)

Bilirubin sendiri ada dalam dua bentuk: bilirubin terkonjugasi (direk) dan tak terkonjugasi (indirek). Keduanya dapat menyebabkan interferensi, namun efeknya bisa berbeda tergantung jenis pengujian .

Mengapa Sampel Ikterik Mengganggu Pemeriksaan?

Sampel ikterik yang mempengaruhi pemeriksaan bekerja melalui dua mekanisme utama :

1. Interferensi Spektrofotometri

Bilirubin memiliki serapan maksimum pada panjang gelombang 440-470 nm . Banyak pemeriksaan kimia klinik menggunakan panjang gelombang di sekitar rentang ini untuk mengukur absorbansi produk reaksi. Ketika bilirubin tinggi, ia ikut menyerap cahaya pada panjang gelombang tersebut, sehingga absorbansi yang terukur menjadi tidak akurat.

Contoh klasik adalah pemeriksaan kreatinin dengan metode Jaffe. Pada metode ini, kompleks kreatinin-pikrat diukur pada sekitar 500 nm. Dalam kondisi alkali, bilirubin teroksidasi menjadi biliverdin yang menyebabkan penurunan absorbansi pada 500 nm, sehingga hasil kreatinin menjadi rendah palsu .

2. Interferensi Kimia

Bilirubin dapat bereaksi langsung dengan reagen pemeriksaan. Dalam reaksi yang menghasilkan hidrogen peroksida sebagai produk antara (misalnya pada pemeriksaan kolesterol, asam urat, dan trigliserida), bilirubin akan bereaksi dengan peroksida dan mengganggu reaksi warna, menyebabkan hasil negatif palsu .

Parameter Pemeriksaan yang Paling Rentan Terpengaruh

Penelitian terkini menunjukkan bahwa tidak semua pemeriksaan terpengaruh sama oleh sampel ikterik. Studi multicentre pada 4 platform analitik berbeda menemukan bahwa parameter dengan sensitivitas tertinggi terhadap gangguan ikterus adalah :

Tingkat SensitivitasParameter Pemeriksaan
Sangat TinggiTrigliserida, Kolesterol, Asam Urat (Urat)
TinggiKreatinin (metode Jaffe), Glukosa, Protein Total, Albumin, Globulin, Urea, SGOT (AST), SGPT (ALT), Alkali Fosfatase
RendahSebagian besar parameter lain memiliki sensitivitas rendah

Penelitian di Indonesia juga membuktikan adanya perbedaan signifikan pada hasil pemeriksaan kolesterol total, trigliserida, glukosa, protein total, albumin, globulin, kreatinin, urea, SGOT, SGPT, dan alkali fosfatase pada serum ikterik yang diberi perlakuan versus tanpa perlakuan .

Indeks Ikterus (I-Index): Deteksi Dini Gangguan

Laboratorium modern saat ini tidak lagi mengandalkan inspeksi visual semata. Sebagian besar alat otomatis dilengkapi dengan pengukuran serum indices, termasuk I-index (Indeks Ikterus) yang diukur secara spektrofotometri .

Setiap reagen memiliki nilai cut-off I-index yang ditetapkan oleh pabrikan dan tercantum dalam package insert . Jika I-index sampel melebihi batas tersebut, hasil pemeriksaan berisiko terganggu dan perlu tindakan lanjut.

Peringatan penting: I-index tidak selalu berkorelasi sempurna dengan konsentrasi bilirubin terukur, terutama pada konsentrasi tinggi. Pada beberapa platform, I-index justru underestimate terhadap kadar bilirubin sebenarnya . Selain itu, I-index tidak bisa membedakan bilirubin terkonjugasi dan tak terkonjugasi, padahal keduanya dapat memberikan efek interferensi berbeda .

Cara Mengatasi Sampel Ikterik

Ketika menemukan sampel ikterik yang mempengaruhi pemeriksaan, ada beberapa opsi penanganan yang dapat dilakukan:

1. Dilusi (Pengenceran)

Untuk analit yang memiliki matriks dilusi tervalidasi, sampel dapat diencerkan hingga I-index turun ke rentang yang dapat ditoleransi .

Contoh: Pada pemeriksaan kreatinin enzimatik dengan batas I-index 15, dapat dilakukan pengenceran 4x sehingga sampel dengan I-index hingga 60 masih bisa diperiksa. Namun perhatikan bahwa batas deteksi bawah (LLOQ) juga ikut meningkat 4x lipat .

2. Penambahan Zat Aditif

Beberapa metode kimia dapat digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi bilirubin:

  • Kalium Ferisianida (K₃Fe[CN]₆): Zat ini mengoksidasi bilirubin menjadi biliverdin dalam suasana basa, sehingga mengurangi gangguan serapan . Penelitian menunjukkan konsentrasi optimum 0,001 M efektif menurunkan kadar bilirubin total tanpa efek samping berlebih .
  • Barium Sulfat (BaSO₄): Bertindak sebagai adsorben untuk mengikat bilirubin. Penelitian pada serum ikterik ringan (bilirubin 4,0-6,0 mg/dL) menunjukkan penambahan BaSO₄ meningkatkan hasil kreatinin dari 0,74 mg/dL menjadi 0,93 mg/dL (lebih mendekati nilai sebenarnya) .

3. Fotoisomerisasi dengan Bilibox

Teknologi terbaru menggunakan paparan cahaya 500 nm pada suhu 37°C untuk mengisomerisasi bilirubin. Alat Bilibox mampu menurunkan I-index rata-rata 33,5% setelah 30 menit dan 47,6% setelah 60 menit. Total bilirubin turun 39,1% (30 menit) dan 63,7% (60 menit). Metode ini efektif mengatasi gangguan ikterus ketika dilusi tidak dapat dilakukan .

4. Melaporkan dengan Komentar

Jika tidak memungkinkan melakukan koreksi, hasil dapat dilaporkan dengan komentar: "Sampel sangat ikterik yang dapat mempengaruhi hasil. Direkomendasikan interpretasi dalam konteks klinis" .

5. Pembatalan (Cancel) Pemeriksaan

Untuk analit dengan batas I-index rendah dan tidak memiliki metode dilusi yang memadai (misalnya free T4 dan total T3), hasil sebaiknya dibatalkan karena risiko interferensi signifikan .

Studi Kasus: Kreatinin pada Sampel Ikterik

Pemeriksaan kreatinin adalah salah satu yang paling sering terganggu. Penelitian menunjukkan:

  • Metode Jaffe sangat rentan terhadap gangguan negatif bilirubin .
  • Metode enzimatik (kreatinase) lebih akurat pada kadar bilirubin normal hingga sedang .
  • Pada konsentrasi bilirubin tinggi, bahkan metode enzimatik pun bisa terganggu sehingga perlu koreksi.

Rekomendasi Praktis untuk Laboratorium

  1. Aktifkan pengukuran serum indices pada semua alat kimia klinik.
  2. Verifikasi klaim pabrikan mengenai batas interferensi ikterus di kondisi laboratorium Anda sendiri, karena interferensi bisa berbeda antar platform meski metode sama .
  3. Tetapkan SOP untuk penanganan sampel ikterik, termasuk kapan melakukan dilusi, kapan menggunakan aditif, dan kapan membatalkan hasil.
  4. Gunakan batas I-index terendah dari dua jenis bilirubin (terkonjugasi dan tak terkonjugasi) sebagai cut-off laboratorium .
  5. Dokumentasikan semua tindakan dan berikan komentar jelas pada laporan hasil.

Kesimpulan

Sampel ikterik yang mempengaruhi pemeriksaan laboratorium adalah tantangan nyata di laboratorium kimia klinik. Bilirubin dapat mengganggu melalui interferensi spektrofotometri dan kimia, terutama pada pemeriksaan trigliserida, kolesterol, asam urat, dan kreatinin metode Jaffe.

Dengan memahami mekanisme gangguan, memanfaatkan I-index untuk deteksi dini, serta menerapkan metode koreksi seperti dilusi, penambahan kalium ferisianida, barium sulfat, atau fotoisomerisasi, laboratorium dapat menghasilkan hasil yang akurat meskipun menghadapi sampel ikterik.

Ingat, keandalan hasil laboratorium dimulai dari ketelitian kita dalam mengenali dan menangani setiap gangguan, termasuk dari sampel ikterik. Jangan biarkan warna kuning pada serum menyesatkan diagnosis!

Tetap ikuti perkembangan terbaru seputar kimia klinik dan dunia laboratorium medis hanya di Infolabmed. Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment