Pengakuan Jujur Ryan Libbey: Setelah Trauma Melahirkan, Louise Thompson Dan Suami Pilih Jalur Surrogasi Demi Anak Kedua

Table of Contents
Pengakuan Jujur Ryan Libbey: Setelah Trauma Melahirkan, Louise Thompson Dan Suami Pilih Jalur Surrogasi Demi Anak Kedua

INFOLABMED.COM - Louise Thompson, bintang acara "Made In Chelsea" yang kini berusia 35 tahun, bersama suaminya Ryan Libbey, baru-baru ini membagikan pembaruan menyentuh tentang rencana mereka untuk memperluas keluarga.

Dalam penampilan emosional di acara "This Morning" pada Selasa (3/3), pasangan ini secara terbuka membahas keputusan berat mereka untuk menempuh jalur surrogasi.

Perjalanan Berat Louise Thompson: Melawan Trauma dan Penyakit

Kisah ini bermula dari pengalaman melahirkan putra mereka, Leo, pada November 2021 yang nyaris merenggut nyawa Louise.

Louise terpaksa menjalani operasi caesar darurat setelah kepala Leo terjebak di panggulnya.

Para dokter berjuang selama lebih dari tiga jam untuk menghentikan pendarahan hebat, di mana Louise kehilangan tiga setengah liter darah.

Sumber pendarahan kemudian diketahui berasal dari rahimnya yang robek, menyebabkan Louise harus dirawat inap dalam waktu yang lama.

Tragedi ini meninggalkan Louise dengan PTSD parah, sebuah kondisi yang masih ia perjuangkan hingga kini.

Perjalanan kesehatannya terus diuji, termasuk pada Februari 2024, ketika ia harus mempersingkat liburan di Antigua dan segera kembali ke rumah karena mengalami pendarahan hebat setiap 20 menit.

Louise kemudian menjalani operasi darurat sebelum akhirnya mengalami syok septik pada bulan November di tahun yang sama.

Tahun lalu, ia juga dirawat di rumah sakit London dan menjalani operasi pemasangan kantung stoma "penyelamat hidup" setelah didiagnosis kolitis ulseratif pada tahun 2018.

Langkah Berani Menuju Anak Kedua: Kesiapan Setelah Penyembuhan

Meski menghadapi cobaan bertubi-tubi, Louise dan Ryan kini merasa siap untuk memiliki anak kedua.

Mereka telah membagikan perjalanan kesuburan mereka kepada para pengikut di media sosial.

Dalam wawancara dengan Ben Shephard dan Cat Deeley di ITV, Louise mengungkapkan rasa syukur atas posisi mereka saat ini.

"Ryan dan saya berada di titik yang sangat baik," kata Louise.

"Kami jelas telah melalui sesuatu yang traumatis, tetapi empat tahun kemudian kami siap untuk melangkah maju dan menatap masa depan setelah melakukan banyak terapi, banyak pekerjaan pada diri kami sendiri dan hubungan kami."

Ia juga merasa bersemangat menyambut babak baru kehidupan mereka.

Louise berbagi kisah inspiratif tentang seorang wanita yang ia temui, yang juga berjuang setelah melahirkan anak kedua.

Pertemuan itu memberinya "dorongan untuk terus maju dan melanjutkan pesan bahwa ada harapan di ujung terowongan."

Ia menekankan betapa beratnya dampak fisik, mental, dan emosional dari trauma tersebut terhadap seluruh unit keluarga dan hubungan mereka.

"Kami sangat bersatu, tetapi Ryan melihat hal-hal yang seharusnya tidak pernah ia lihat," kenang Louise.

"Ia harus mencuci saya, menerima panggilan telepon untuk saya, dan menjadi perawat penuh waktu untuk saya dan juga putra kecil kami."

Pengakuan Jujur Ryan Libbey tentang Surrogasi

Ryan Libbey mengakui bahwa tahun pertama setelah kelahiran Leo sangatlah traumatis.

"Tahun pertama itu sangat traumatis, butuh waktu lama bagi kami untuk kembali ke posisi sekarang," kata Ryan.

Ia menggambarkan Louise sebagai sosok yang sangat tidak sehat dalam segala hal, bahkan sulit untuk memahami keadaan karena tingkat trauma yang dialaminya.

Upaya untuk menstabilkan kondisi Louise dan terus bergerak maju "menguras banyak energi" darinya.

Ryan dengan jujur menyatakan perasaannya yang bercampur aduk tentang surrogasi.

"Mungkin dalam beberapa hal saya masih menerima jalur yang kami jelajahi sekarang untuk memperluas keluarga kami," ungkapnya.

"Tidak ada yang terasa benar di hati saya, tetapi saya tahu kami sebagai keluarga, dan Anda [Louise] khususnya, pantas mendapatkan kesempatan itu untuk melakukannya dengan cara yang benar."

Pernyataan ini menyoroti kedalaman cinta dan dukungan Ryan untuk Louise, meskipun ia sendiri harus melewati pergolakan emosional.

Menjelajahi Jalur Surrogasi: Sebuah Pilihan Penuh Tantangan

Louise menjelaskan bahwa perjalanan menuju surrogasi adalah "proses yang panjang" dan mereka telah "menjelajahi semua area," termasuk berbicara dengan seorang pria yang melakukan transplantasi rahim.

Namun, karena pengalaman melahirkan traumatisnya, beberapa opsi tidak tersedia baginya.

"Surrogasi bukanlah kata yang saya pikir akan masuk dalam lingkup dunia kami," aku Louise.

Ia melihatnya sebagai jalur yang "diberikan kepada orang-orang seperti kami yang tidak punya pilihan lain."

Pasangan ini merasa sangat berterima kasih kepada orang-orang yang memungkinkan hal ini.

Proses ini seperti "pekerjaan penuh waktu" dengan begitu banyak hal yang harus dipelajari dan diurus.

Ada pekerjaan administratif yang masif, termasuk konseling surrogasi yang wajib mereka jalani.

Kerangka hukum yang kompleks juga harus dipertimbangkan, terutama jika mereka memutuskan untuk melakukannya di luar negeri, di mana pengacara Inggris tidak dapat meninjau dokumen tersebut.

"Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan, kami masih cukup awal dalam perjalanan ini," kata Louise.

Ia mengakui bahwa banyak pasangan tidak sampai sejauh ini, dan jika Ryan benar-benar menentangnya, mereka mungkin tidak akan memperluas keluarga mereka.

Louise menekankan bahwa ini bukan masalah "menyerahkan pada keberuntungan dan memiliki hubungan seksual dan melihat apa yang terjadi."

Aspek Hukum dan Etika Surrogasi

Di Inggris, surrogasi memang legal, tetapi perjanjian surrogasi tidak dapat diberlakukan oleh hukum.

Ketika seorang ibu pengganti digunakan, ia akan menjadi orang tua sah anak tersebut saat lahir.

Jika ibu pengganti sudah menikah atau dalam kemitraan sipil, pasangannya akan menjadi orang tua kedua anak tersebut saat lahir, kecuali mereka tidak memberikan izin.

Kewenangan hukum dapat dialihkan melalui perintah orang tua atau adopsi setelah anak lahir.

"Ini adalah sesuatu yang membutuhkan banyak perencanaan dan juga ada beban finansial," Louise menambahkan.

Ia menyadari bahwa banyak pasangan tidak mampu bertahan dalam percakapan seperti ini.

"Saya benci bahwa kami ditempatkan dalam posisi ini," ujarnya.

Namun, ia percaya bahwa mereka "lebih kuat bersama" dan bersedia bergerak perlahan melalui perjalanan ini.

"Kami sangat bersyukur atas apa yang kami miliki, kami memiliki anak yang cantik di rumah dan ingin memberinya seorang saudara," kata Louise penuh harap.

"Kami tidak bersedia membiarkan apa yang terjadi menjadi akhir segalanya.

Saya pikir kami pantas untuk mengembangkan keluarga kami dan memiliki bayi lagi."

Menanggapi pertanyaan Ben Shephard tentang "kontroversi" seputar surrogasi, Louise mengakui adanya "banyak dilema etika."

Setelah "mempertimbangkan semuanya," ia dan Ryan mencapai kesimpulan bahwa mereka harus melakukannya dengan cara di mana "surrogasi diperlakukan secara adil."

"Ada begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan," ujarnya.

"Saya mengerti dari mana orang-orang berasal. Sampai Anda berjalan di posisi kami, Anda tidak bisa benar-benar menilai proses pengambilan keputusan kami."

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment