Cara Kerja Pemeriksaan Makanan yang Beracun di Kimia Klinik: Deteksi Formalin, Boraks, hingga Rhodamin B

Table of Contents

Cara Kerja Pemeriksaan Makanan yang Beracun di Kimia Klinik: Deteksi Formalin, Boraks, hingga Rhodamin B


INFOLABMED.COM - Kasus makanan mengandung bahan berbahaya seperti formalin, boraks, atau pewarna tekstil masih sering ditemukan di Indonesia. Data BPOM tahun 2024 menunjukkan bahwa dari 9.262 sampel yang diuji, masih ditemukan bahan tambahan pangan berbahaya seperti boraks (0,28%), formalin (0,53%), rhodamin B (0,30%), dan methanyl yellow (0,01%) .

Lantas, bagaimana sebenarnya cara kerja pemeriksaan makanan yang beracun di kimia klinik? Artikel ini akan mengupas tuntas prosedur standar yang dilakukan di laboratorium kesehatan untuk mendeteksi zat-zat berbahaya dalam makanan.

Tahap Awal: Persiapan dan Pengambilan Sampel

Sebelum pemeriksaan dimulai, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi:

1. Pengambilan Sampel yang Benar

Sampel makanan harus dimasukkan ke dalam wadah atau kantong plastik bersih dan tertutup . Untuk pemeriksaan total, semua sampel bisa dimasukkan dalam satu wadah (dicampur), tetapi jika ingin memeriksa setiap jenis makanan secara terpisah, setiap sampel harus dimasukkan ke wadah yang berbeda .

2. Identifikasi Sampel

Setiap sampel wajib diberi identitas lengkap meliputi:

  • Nama makanan
  • Lokasi/sumber sampel
  • Tanggal pengambilan
  • Jenis pemeriksaan yang diminta

3. Registrasi dan Administrasi

Pemohon mengisi lembar registrasi dan melakukan pembayaran sesuai tarif yang berlaku. Di beberapa laboratorium, tarif pemeriksaan bervariasi, misalnya formalin Rp80.000, boraks Rp75.000, pewarna Rp50.000, dan sakarin Rp50.000 .

Prinsip Dasar Pemeriksaan Makanan Beracun

Cara kerja pemeriksaan makanan yang beracun di kimia klinik umumnya menggunakan prinsip reaksi kimia spesifik. Setiap zat beracun atau berbahaya memiliki reagen khusus yang akan bereaksi dan menghasilkan perubahan warna atau endapan tertentu.

Pemeriksaan ini bersifat kualitatif (mendeteksi ada/tidaknya zat) dan dapat dilanjutkan dengan pemeriksaan kuantitatif (menentukan kadar) jika diperlukan.

Jenis Pemeriksaan dan Prosedur Deteksi

Berikut adalah beberapa parameter pemeriksaan yang umum dilakukan di laboratorium kimia klinik untuk mendeteksi makanan beracun:

1. Uji Formalin (Formaldehyde)

Formalin adalah larutan formaldehida yang digunakan sebagai pengawet mayat, tapi sering disalahgunakan untuk mengawetkan mie, tahu, bakso, dan ikan asin.

Prinsip Uji: Formalin bereaksi dengan reagen tertentu membentuk senyawa berwarna.

Prosedur:

  • Sampel makanan dihaluskan dan diekstrak dengan air
  • Ekstrak ditambahkan reagen KMnO₄ (kalium permanganat)
  • Interpretasi: Jika terjadi perubahan warna atau endapan tertentu, sampel positif mengandung formalin

Beberapa laboratorium menggunakan test kit formalin untuk skrining cepat .

2. Uji Boraks

Boraks atau asam borat sering ditambahkan ke bakso, kerupuk, atau jajanan anak sekolah untuk membuat tekstur lebih kenyal.

Prinsip Uji: Boraks bereaksi dengan pereaksi AgNO₃ (perak nitrat) membentuk endapan.

Prosedur:

  • Sampel diekstrak dengan air panas
  • Ekstrak diasamkan, kemudian ditetesi larutan AgNO₃
  • Interpretasi: Terbentuk endapan putih atau kuning menunjukkan adanya boraks

3. Uji Pewarna Berbahaya (Rhodamin B dan Methanil Yellow)

Rhodamin B dan methanil yellow adalah pewarna tekstil dan kertas yang dilarang untuk makanan karena bersifat karsinogenik .

Uji Rhodamin B:

  • Sampel diekstrak dengan alkohol atau air
  • Ekstrak diuji dengan media benang wol
  • Benang wol dimasukkan ke dalam ekstrak, kemudian dipanaskan
  • Interpretasi: Jika benang wol terwarnai merah dan tidak luntur saat dicuci, sampel positif mengandung rhodamin B

Uji Methanil Yellow:

  • Menggunakan prinsip yang mirip, dengan warna kuning yang khas

4. Uji Pemanis Buatan (Sakarin dan Siklamat)

Pemanis buatan berbahaya jika dikonsumsi berlebihan, terutama pada anak-anak.

Prinsip Uji: Sakarin dan siklamat dideteksi melalui reaksi warna spesifik setelah ekstraksi dengan pelarut organik.

Metode Instrumentasi untuk Analisis Lebih Lanjut

Untuk pemeriksaan yang lebih akurat dan kuantitatif, laboratorium kimia klinik modern menggunakan instrumen canggih:

1. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT/HPLC)

Metode ini sangat sensitif untuk mendeteksi berbagai senyawa kimia dalam makanan, termasuk pengawet, pemanis, dan pewarna . HPLC mampu memisahkan komponen-komponen dalam sampel dan mengukur kadarnya dengan presisi tinggi.

2. Spektrofotometri Serapan Atom (AAS)

Digunakan khusus untuk mendeteksi logam berat seperti timbal (Pb), kadmium (Cd), merkuri (Hg), dan arsen (As) dalam makanan . Logam-logam ini sangat beracun meskipun dalam jumlah kecil.

3. Spektrometri Massa (MS)

Sering digabungkan dengan kromatografi (GC-MS atau LC-MS/MS) untuk analisis mikotoksin seperti aflatoksin yang dihasilkan jamur Aspergillus . Metode ini sangat sensitif dan spesifik.

4. ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay)

Metode imunologi yang digunakan untuk skrining cepat aflatoksin dan kontaminan biologis lainnya dalam makanan .

Prosedur Lengkap di Laboratorium

Secara berurutan, cara kerja pemeriksaan makanan yang beracun di kimia klinik meliputi:

  1. Penerimaan Sampel: Petugas loket mengkonfirmasi identitas sampel dan jenis pengujian yang diajukan
  2. Registrasi: Pemohon mengisi lembar registrasi dan melakukan pembayaran
  3. Preparasi Sampel: Sampel dipersiapkan sesuai jenis pemeriksaannya (dihaluskan, diekstrak, dll.)
  4. Analisis: Pengujian dilakukan sesuai SOP setiap parameter
  5. Verifikasi: Hasil diverifikasi oleh petugas verifikator
  6. Pelaporan: Hasil ditandatangani dan diberi stempel basah, hanya diberikan kepada pemohon yang bersangkutan

Jaminan Mutu Pemeriksaan

Agar hasil pemeriksaan akurat, laboratorium menerapkan beberapa langkah pengendalian mutu:

  • Menggunakan larutan kontrol positif untuk memastikan reagen berfungsi baik
  • Evaluasi internal rutin oleh Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan
  • Evaluasi hasil pemantapan mutu eksternal
  • Survei kepuasan pelanggan

Waktu dan Biaya Pemeriksaan

Hasil pemeriksaan umumnya dapat keluar dalam waktu 1x24 jam . Untuk biaya, beberapa laboratorium menetapkan tarif:

  • Formalin: Rp80.000
  • Boraks: Rp75.000
  • Pewarna (Rhodamin B/Methanil Yellow): Rp50.000
  • Pemanis (sakarin): Rp50.000

Interpretasi Hasil

Hasil pemeriksaan dinyatakan dalam:

  • Negatif: Tidak terdeteksi adanya zat berbahaya dalam sampel
  • Positif: Terdeteksi adanya zat berbahaya, biasanya disertai keterangan kualitatif atau kuantitatif

Jika hasil positif, laboratorium biasanya menyarankan untuk tidak mengonsumsi produk tersebut dan melaporkan ke pihak berwenang seperti BPOM atau Dinas Kesehatan.

Kesimpulan

Cara kerja pemeriksaan makanan yang beracun di kimia klinik melibatkan serangkaian prosedur standar mulai dari pengambilan sampel, uji kualitatif dengan reagen spesifik, hingga analisis kuantitatif dengan instrumen canggih seperti HPLC, AAS, atau LC-MS/MS.

Pemeriksaan ini sangat penting untuk melindungi masyarakat dari bahaya bahan tambahan pangan ilegal seperti formalin, boraks, rhodamin B, serta cemaran logam berat dan mikotoksin. Dengan memahami prosedurnya, kita bisa lebih waspada dan ikut berperan dalam pengawasan keamanan pangan di lingkungan sekitar.

Bagi Anda yang mencurigai adanya makanan beracun, jangan ragu untuk memeriksakan sampel ke laboratorium kesehatan terdekat. Investasi kecil untuk pemeriksaan bisa menyelamatkan kesehatan banyak orang.

Tetap ikuti perkembangan terbaru seputar pemeriksaan laboratorium dan keamanan pangan hanya di Infolabmed. Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link : https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link : https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link : https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment