Terkuak! Mikroplastik Mengintai Di Balik Tumor Prostat: Menguak Potensi Ancaman Kesehatan Pria
INFOLABMED.COM - Sebuah penelitian terbaru kembali mengguncang dunia medis, mengungkapkan temuan mengejutkan yang berpotensi memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan manusia.
Partikel-partikel mikroplastik, polutan mikroskopis yang kini tersebar di mana-mana, telah ditemukan jauh di dalam tumor kanker prostat.
Penemuan ini memicu pertanyaan mendalam mengenai peran yang mungkin dimainkan oleh zat-zat asing ini dalam proses perkembangan tumor.
Studi awal ini, meskipun melibatkan jumlah peserta yang kecil, menyoroti prevalensi mikroplastik yang lebih tinggi secara signifikan dalam jaringan tumor dibandingkan dengan jaringan non-kanker di sekitarnya.
Temuan yang mengkhawatirkan ini dipresentasikan pada hari Senin di Simposium Kanker Genitourinari American Society of Clinical Oncology.
Penting untuk dicatat bahwa hasil penelitian ini belum dipublikasikan dalam jurnal yang telah ditinjau sejawat.
Mengupas Lebih Dalam Temuan Penelitian
Dalam penelitian tersebut, para peneliti menganalisis sampel jaringan yang diambil dari sepuluh pria yang didiagnosis menderita kanker prostat.
Usia rata-rata para partisipan adalah 65 tahun, dan mereka telah menjalani prosedur pengangkatan prostat sebagai bagian dari penanganan penyakit mereka.
Selain itu, para ilmuwan juga menganalisis sampel jaringan non-kanker yang diambil dari sisi organ yang berlawanan dari setiap pasien.
Hasil analisis menunjukkan bahwa mikroplastik terdeteksi pada 90% dari sampel tumor.
Sementara itu, 70% dari sampel jaringan non-kanker juga mengandung mikroplastik.
Yang paling mencolok, jaringan kanker mengandung jumlah plastik rata-rata 2,5 kali lebih banyak dibandingkan jaringan non-kanker.
Secara spesifik, sekitar 40 mikrogram plastik ditemukan per gram jaringan kanker.
Reaksi Para Ahli dan Implikasi Awal
Dr. Stacy Loeb, penulis utama studi dan seorang ahli urologi di NYU Langone Health, menyatakan keterkejutannya atas konsentrasi yang lebih tinggi di jaringan tumor.
"Ini sangat mengejutkan dan mengkhawatirkan," ujar Dr. Loeb.
Temuan ini menimbulkan pertanyaan serius tentang apakah ada asosiasi antara mikroplastik dengan perkembangan kanker prostat.
Dr. Loeb menegaskan bahwa penelitian lebih lanjut dengan jumlah kasus yang lebih banyak akan terus dilakukan.
Di sisi lain, Dr. Michael Eisenberg, seorang profesor urologi di Stanford University School of Medicine yang tidak terlibat dalam studi ini, mengingatkan bahwa penelitian ini belum menetapkan hubungan sebab-akibat.
Namun, Dr. Eisenberg menulis dalam sebuah email bahwa "kami menemukan banyak sinyal tentang prevalensi mikro/nanoplastik yang mencengangkan dan asosiasi yang mengkhawatirkan dengan masalah kesehatan."
Ia menekankan perlunya lebih banyak data untuk memahami implikasi dari temuan ini.
Memastikan Akurasi di Tengah Tantangan Kontaminasi
Penelitian ini bukanlah yang pertama kali menemukan mikroplastik di dalam tumor kanker prostat.
Sebuah studi yang diterbitkan di The Lancet pada tahun 2024, oleh peneliti dari Tiongkok, juga menemukan tingkat plastik yang lebih tinggi di tumor dibandingkan dengan jaringan di sekitarnya.
Dr. Loeb menjelaskan bahwa studi barunya menggunakan teknik yang lebih presisi untuk mengukur berbagai jenis plastik yang ditemukan dalam sampel.
Para peneliti juga mengambil langkah-langkah ekstensif untuk menghindari kontaminasi yang dapat memengaruhi hasil.
Keberadaan plastik yang sangat meluas di lingkungan membuat studi tentang mikroplastik dalam jaringan manusia menjadi sangat menantang.
Seringkali muncul pertanyaan apakah plastik benar-benar ditemukan di dalam tubuh atau justru masuk melalui peralatan plastik yang digunakan dalam penelitian.
Studi-studi sebelumnya yang mengidentifikasi mikroplastik di jaringan otak postmortem dan plak arteri karotis telah dikritik karena metodologinya.
Kritik tersebut termasuk dugaan bahwa pengukuran mungkin telah dipengaruhi oleh kontaminasi laboratorium.
Dengan mempertimbangkan hal ini, Dr. Loeb dan timnya menerapkan tindakan pencegahan yang sangat ketat dalam studi mereka.
Proses perencanaan untuk studi ini bahkan memakan waktu hingga satu tahun.
Selama prosedur pengangkatan prostat secara bedah, penggunaan plastik di ruang operasi dieliminasi sebanyak mungkin.
Tim peneliti juga secara sengaja memperhitungkan potensi kontaminasi dalam analisis mereka.
"Saya akan mengatakan, jika ada, ini mungkin terlalu konservatif," kata Dr. Loeb.
"Karena sampel yang kami ambil berasal dari jauh di tengah prostat, jadi tidak jelas seberapa banyak sesuatu dapat benar-benar menyentuh sampel ini."
Ia menambahkan bahwa sampel tumor dan jaringan jinak berasal dari pasien yang sama dan menjalani penanganan yang persis serupa.
"Fakta bahwa kami melihat konsentrasi plastik yang tinggi dalam tumor tidak dapat dengan mudah dijelaskan oleh kontaminasi," pungkas Dr. Loeb.

Post a Comment