Terbongkar! Intermittent Fasting Tak Lebih Unggul Dari Diet Konvensional Dalam Penurunan Berat Badan
INFOLABMED.COM - Popularitas Intermittent Fasting atau Puasa Intermiten telah melesat tinggi dalam beberapa tahun terakhir, seringkali digadang-gadang sebagai cara revolusioner untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan kesehatan.
Namun, sebuah tinjauan komprehensif terhadap bukti ilmiah terbaru justru mengungkap temuan yang mengejutkan dan mungkin akan mengubah pandangan banyak orang.
Tinjauan besar ini menyimpulkan bahwa Intermittent Fasting ternyata tidak lebih baik untuk menurunkan berat badan dibandingkan diet konvensional.
Bahkan, metode ini hanya sedikit lebih efektif daripada tidak melakukan diet sama sekali.
Penurunan Berat Badan: Mitos vs. Realita Intermittent Fasting
Para peneliti menganalisis data dari 22 studi global yang melibatkan hampir 2.000 orang dewasa.
Mereka menemukan bahwa individu dengan kelebihan berat badan atau obesitas mencapai penurunan berat badan yang sama, baik melalui Intermittent Fasting maupun dengan mengikuti saran diet tradisional.
Pendekatan puasa ini hanya menghasilkan rata-rata penurunan sekitar 3% dari berat badan total.
Angka ini jauh di bawah ambang batas 5% yang dianggap bermakna secara klinis oleh para dokter.
Seluruh studi yang ditinjau bersifat jangka pendek, dengan durasi maksimal 12 bulan.
Dr. Luis Garegnani, penulis utama dan direktur Cochrane Associate Centre di rumah sakit Italia Buenos Aires, Argentina, menegaskan Intermittent Fasting bukanlah "solusi ajaib".
Ia menjelaskan bahwa metode ini bisa menjadi salah satu opsi di antara banyak pilihan lain untuk pengelolaan berat badan.
Menurut Garegnani, Intermittent Fasting kemungkinan besar memberikan hasil yang serupa dengan pendekatan diet tradisional untuk penurunan berat badan.
Ia menambahkan bahwa Intermittent Fasting tidak tampak jelas lebih baik, tetapi juga tidak lebih buruk.
Apa yang Membuat Intermittent Fasting Begitu Populer?
Intermittent Fasting, yang melibatkan pembatasan waktu makan atau berpuasa pada hari-hari tertentu, telah menarik perhatian publik.
Klaimnya bervariasi, mulai dari membantu penurunan berat badan, meningkatkan kesehatan fisik dan kognitif, hingga memperlambat proses penuaan.
Tinjauan Cochrane yang digunakan dalam penelitian ini menerapkan teknik "gold-standard" atau standar emas.
Analisis ini mencakup bukti dari uji klinis acak yang melibatkan 1.995 orang dewasa.
Peserta studi berasal dari berbagai benua, termasuk Eropa, Amerika Utara, Tiongkok, Australia, dan Amerika Selatan.
Penelitian ini menguji berbagai jenis Intermittent Fasting, seperti puasa selang-seling, diet 5:2 (puasa dua hari seminggu), dan makan dengan batasan waktu.
Manfaat Selain Berat Badan? Bukti Masih Lemah
Di luar manfaat minimal untuk penurunan berat badan, para peneliti tidak menemukan bukti kuat bahwa Intermittent Fasting dapat meningkatkan kualitas hidup.
Peningkatan kualitas hidup yang dimaksud adalah jika dibandingkan dengan diet lainnya.
Dr. Garegnani menekankan pentingnya mengklarifikasi bukti seputar diet puasa, mengingat popularitasnya yang sangat besar dan promosi luas di media.
Ia juga menyoroti bahwa banyak studi yang ada bersifat jangka pendek dan berkualitas rendah.
Kondisi ini membuat sulit untuk mencapai kesimpulan yang tegas mengenai potensi manfaatnya.
Secara mengejutkan, tidak satu pun dari 22 studi tersebut menanyakan kepada peserta seberapa puas mereka dengan Intermittent Fasting.
Perspektif Ilmiah Lain: Timing dan Mekanisme Tubuh
Dr. Zhila Semnani-Azad dari National University of Singapore berpendapat bahwa manfaat Intermittent Fasting mungkin dipengaruhi oleh waktu.
Ini karena ritme sirkadian tubuh sangat terhubung dengan metabolisme.
Studi pada hewan menunjukkan bahwa puasa dapat mengubah cara cadangan lemak digunakan dan meningkatkan sensitivitas insulin.
Peningkatan sensitivitas insulin sangat penting untuk penderita diabetes.
Selain itu, puasa pada hewan juga dapat mengurangi peradangan dan stres oksidatif.
Ia menambahkan bahwa puasa mungkin baik untuk penuaan dan umur panjang.
Ini terjadi dengan memicu proses yang disebut autophagy, yaitu mekanisme daur ulang tubuh.
Salah satu masalah utama adalah tidak adanya definisi universal Intermittent Fasting.
Kondisi ini menyulitkan pemahaman tentang efek sebenarnya.
Kehilangan Berat Badan yang Minim: Sebuah Kejutan
Maik Pietzner, seorang profesor pemodelan data kesehatan di Berlin Institute of Health di Charité, mengaku terkejut.
Ia terkejut karena penurunan berat badan dari puasa sangat kecil dibandingkan dengan tidak melakukan apa-apa.
Namun, ia menyatakan temuan ini sesuai dengan bukti bahwa orang cenderung kurang aktif secara fisik saat berpuasa.
Ia juga menyoroti bahwa penurunan berat badan akan sulit tanpa bantuan obat-obatan.
Penemuan ini juga sejalan dengan penelitiannya sendiri.
Studi Pietzner menunjukkan bahwa periode singkat puasa total, bahkan hingga dua hari, hanya memiliki sedikit efek pada tubuh kita.
Ia berpendapat bahwa seseorang perlu berpuasa lebih lama untuk melihat perubahan yang mungkin mendorong manfaat di kemudian hari.
Dalam salah satu studinya, orang hanya mengonsumsi air selama tujuh hari.
Namun, perubahan luas pada protein dalam darah mereka hanya terjadi setelah tiga hari.
Kesimpulan: Intermittent Fasting Bukan Solusi Ajaib
Pietzner menyimpulkan bahwa jika seseorang merasa lebih baik dengan regimen diet seperti itu, ia tidak akan menghentikannya.
Namun, ia menegaskan bahwa penelitian ini, bersama dengan penelitian lain di bidangnya, jelas menunjukkan tidak ada bukti kuat untuk efek positif.
Efek positif yang dimaksud adalah di luar kemungkinan penurunan berat badan yang moderat.
Tubuh kita telah berevolusi di bawah kelangkaan makanan yang konstan.
Oleh karena itu, tubuh dapat mengatasi periode panjang tanpa makanan dengan sangat baik.
Namun, itu tidak berarti bahwa kita akan berkinerja lebih baik setelah program yang dilestarikan secara evolusioner ini dimulai.
Post a Comment