Reaksi Transfusi: Jenis, Penyebab, dan Tatalaksana yang Wajib Dipahami
INFOLABMED.COM - Reaksi transfusi merupakan respon yang tidak diinginkan pada pasien akibat pemberian darah atau komponen darah.
Reaksi ini dapat muncul selama transfusi berlangsung maupun beberapa jam hingga hari setelah transfusi selesai, dengan tingkat keparahan yang bervariasi dari ringan hingga mengancam jiwa.
Baca juga: Prosedur Pemeriksaan GTT: Tahapan Penting Menilai Toleransi Glukosa Tubuh
Apa Itu Reaksi Transfusi?
Reaksi transfusi adalah reaksi imunologis maupun non-imunologis yang terjadi akibat ketidakcocokan darah, kontaminasi, atau respon tubuh terhadap komponen darah yang ditransfusikan.
Klasifikasi Reaksi Transfusi
Reaksi transfusi secara umum dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu reaksi transfusi akut dan reaksi transfusi tertunda.
Reaksi Transfusi Akut
Reaksi ini terjadi selama atau dalam waktu 24 jam setelah transfusi.
- Reaksi transfusi hemolitik akut
- Reaksi demam non-hemolitik
- Reaksi alergi
- Anafilaksis
- Transfusion Related Acute Lung Injury (TRALI)
- Transfusion Associated Circulatory Overload (TACO)
- Kontaminasi bakteri
Reaksi Transfusi Tertunda
Reaksi ini muncul lebih dari 24 jam setelah transfusi.
- Reaksi transfusi hemolitik tertunda
- Alloimunisasi
- Purpura pascatransfusi
- Transfusion Associated Graft Versus Host Disease (TA-GVHD)
- Penumpukan zat besi (iron overload)
Tanda dan Gejala Reaksi Transfusi
Gejala reaksi transfusi dapat berupa:
- Demam dan menggigil
- Gatal, urtikaria, atau ruam
- Sesak napas
- Nyeri dada atau punggung
- Hipotensi atau hipertensi
- Mual dan muntah
- Urin berwarna gelap
Penyebab Reaksi Transfusi
Beberapa faktor penyebab reaksi transfusi antara lain:
- Ketidakcocokan golongan darah ABO atau Rh
- Adanya antibodi terhadap antigen sel darah
- Kontaminasi mikroorganisme
- Kecepatan transfusi yang terlalu cepat
- Volume transfusi berlebihan
Tatalaksana Reaksi Transfusi
Jika dicurigai terjadi reaksi transfusi, langkah yang harus dilakukan adalah:
- Segera hentikan transfusi
- Pertahankan jalur intravena dengan cairan normal saline
- Evaluasi tanda vital pasien
- Laporkan kejadian ke bank darah
- Kirim ulang sampel darah dan kantong darah untuk investigasi
Pencegahan Reaksi Transfusi
Upaya pencegahan meliputi:
- Pemeriksaan kecocokan darah (crossmatch) yang ketat
- Identifikasi pasien yang akurat
- Penggunaan komponen darah sesuai indikasi
- Pemantauan ketat selama transfusi
.png)
Post a Comment