Peran Vital Uji Igra Dalam Penegakan Diagnosis Tuberkulosis Di Laboratorium Medik
INFOLABMED - Tuberkulosis atau TBC tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat global yang signifikan.
Diagnosis dini dan akurat adalah kunci utama untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini.
Di antara berbagai metode diagnostik yang tersedia, Uji Interferon-Gamma Release Assay (IGRA) telah muncul sebagai alat penting.
IGRA menawarkan pendekatan yang lebih canggih dan spesifik dibandingkan tes tuberkulin kulit (TST) tradisional.
Pemeriksaan ini sangat relevan untuk identifikasi infeksi Mycobacterium tuberculosis di laboratorium medik.
Memahami Uji IGRA: Definisi dan Mekanisme
Uji IGRA adalah tes darah in vitro yang mendeteksi respons imun seluler terhadap antigen spesifik Mycobacterium tuberculosis.
Prinsip dasarnya adalah mengukur pelepasan interferon-gamma (IFN-γ) oleh sel T.
Sel T dari individu yang terinfeksi akan memproduksi IFN-γ saat terpapar antigen M. tuberculosis tertentu.
Antigen yang digunakan dalam IGRA tidak ditemukan pada strain vaksin BCG.
Antigen ini juga tidak ada pada sebagian besar spesies mikobakteri nontuberkulosis (NTM).
Hal ini memberikan spesifisitas yang lebih tinggi dibandingkan TST.
Ada dua jenis IGRA yang paling umum digunakan yaitu QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-Plus) dan T-SPOT.TB.
Kedua tes ini memiliki karakteristik dan prosedur yang sedikit berbeda di laboratorium medik.
Prosedur Uji IGRA di Laboratorium Medik
Pelaksanaan uji IGRA memerlukan serangkaian langkah yang presisi di laboratorium medik.
Pengambilan Sampel Darah: Tahap awal adalah pengambilan darah vena dari pasien.
Inkubasi: Sampel darah kemudian diinkubasi dengan antigen spesifik M. tuberculosis.
Stimulasi Sel T: Jika pasien terinfeksi, sel T memori akan mengenali antigen dan terstimulasi.
Pelepasan Interferon-Gamma: Sel T yang terstimulasi akan melepaskan interferon-gamma ke dalam medium.
Deteksi IFN-γ: Kadar IFN-γ yang dilepaskan diukur menggunakan metode ELISA (untuk QFT-Plus) atau ELISPOT (untuk T-SPOT.TB).
Interpretasi Hasil: Hasil kemudian diinterpretasikan sebagai positif, negatif, atau indeterminate.
Waktu pengerjaan uji IGRA relatif cepat dibandingkan dengan kultur bakteri.
Hasilnya biasanya dapat diperoleh dalam waktu 24 hingga 48 jam.
Keunggulan Uji IGRA Dibandingkan Tes Tradisional
Uji IGRA menawarkan beberapa keuntungan signifikan dibandingkan tes kulit tuberkulin (TST) yang telah lama digunakan.
IGRA memiliki spesifisitas yang lebih tinggi karena tidak dipengaruhi oleh vaksinasi BCG sebelumnya.
Hal ini mengurangi hasil positif palsu pada individu yang telah menerima vaksin BCG.
Uji IGRA hanya memerlukan satu kali kunjungan ke fasilitas kesehatan.
TST memerlukan dua kali kunjungan, yaitu untuk penyuntikan dan pembacaan.
Pembacaan IGRA bersifat objektif karena mengukur kadar IFN-γ secara kuantitatif.
Pembacaan TST bersifat subjektif dan bergantung pada interpretasi petugas kesehatan.
IGRA tidak memiliki risiko reaksi anafilaksis atau efek samping sistemik.
Pengujian ini juga kurang rentan terhadap faktor non-spesifik.
Aplikasi Klinis Uji IGRA di Laboratorium Medik
Uji IGRA memiliki aplikasi klinis yang luas dalam diagnosis tuberkulosis di laboratorium medik.
Ini sangat berguna untuk mendeteksi infeksi TBC laten (LTBI).
Pemeriksaan IGRA direkomendasikan untuk skrining LTBI pada populasi berisiko tinggi.
Contohnya adalah kontak erat pasien TBC aktif, individu dengan imunosupresi, dan petugas kesehatan.
IGRA juga dapat membantu diagnosis TBC aktif, terutama pada kasus yang sulit didiagnosis secara mikrobiologis.
Tes ini menjadi pelengkap penting bagi diagnosis konvensional seperti mikroskopis dahak dan kultur.
Kemampuannya untuk membedakan antara infeksi M. tuberculosis dan paparan NTM sangat berharga.
Penggunaan IGRA meningkatkan akurasi diagnostik TBC secara keseluruhan di laboratorium medik.
Keterbatasan dan Pertimbangan Penggunaan IGRA
Meskipun memiliki banyak keunggulan, IGRA juga memiliki beberapa keterbatasan.
Uji ini tidak dapat membedakan antara infeksi TBC laten dan TBC aktif.
Keputusan klinis akhir harus selalu diintegrasikan dengan riwayat pasien, pemeriksaan fisik, dan pencitraan.
Beberapa kondisi imunosupresi parah dapat menyebabkan hasil IGRA indeterminate atau negatif palsu.
Biaya uji IGRA umumnya lebih tinggi daripada TST.
Hal ini menjadi pertimbangan di beberapa daerah dengan sumber daya terbatas.
Sampel darah harus diproses dalam waktu tertentu setelah pengambilan.
Kondisi ini memerlukan logistik yang baik di laboratorium medik.
Uji IGRA telah merevolusi cara diagnosis tuberkulosis di laboratorium medik.
Dengan spesifisitas yang tinggi dan proses yang efisien, IGRA adalah alat yang sangat berharga.
Pemeriksaan ini mendukung deteksi infeksi M. tuberculosis, terutama pada populasi yang divaksinasi BCG.
Integrasi IGRA dengan metode diagnostik lain meningkatkan akurasi dan kecepatan penegakan diagnosis.
Pada akhirnya, hal ini berkontribusi signifikan terhadap upaya global dalam mengendalikan dan memberantas TBC.
Post a Comment