Krisis Perawatan Paliatif: Prospect Hospice Swindon Terpaksa Tolak Pasien Sekarat Akibat Dana Minim

Table of Contents
Krisis Perawatan Paliatif: Prospect Hospice Swindon Terpaksa Tolak Pasien Sekarat Akibat Dana Minim

INFOLABMED.COM - Sebuah pusat perawatan paliatif di dekat Swindon menghadapi kenyataan pahit.

Mereka terpaksa menolak pasien yang sedang berjuang di ambang kematian setiap minggunya.

Alasan utamanya adalah ketidakmampuan untuk mempertahankan semua tempat tidur khusus mereka tetap beroperasi.

Prospect Hospice secara terang-terangan menyatakan bahwa minimnya pendanaan dari NHS menjadi penyebab.

Faktanya, setengah dari unit rawat inap spesialis mereka kini terpaksa ditutup.

Hal ini berarti, beberapa individu harus melewati hari-hari terakhir mereka di rumah sakit.

Padahal, suasana damai di hospice jauh lebih mereka butuhkan.

Gambaran Sekilas Perawatan di Prospect Hospice

Bagi mereka yang beruntung mendapatkan perawatan, hospice ini adalah tempat idaman.

Banyak orang mungkin berharap menghabiskan sisa hidup mereka di tempat serupa.

Ambil contoh Maggie Mobey, seorang pasien dengan kanker dan penyakit Parkinson.

Ia saat ini dirawat dengan penuh perhatian di Prospect Hospice, Wroughton.

Mrs. Mobey mengungkapkan perasaannya dengan tulus.

"Ini benar-benar menyenangkan," ujarnya.

"Semuanya tenang dan damai di sini."

Ia melanjutkan, "Tidak ada suara mesin berdengung atau berbunyi."

"Tidak banyak troli yang hilir mudik."

"Benar-benar damai," pungkasnya.

Mrs. Mobey didiagnosis di Great Western Hospital, Swindon.

Namun, ia harus menunggu selama dua minggu di sana.

Penantian ini demi mendapatkan tempat di Prospect Hospice.

Keluarganya pun menyadari suatu kebenaran pahit.

Kekurangan tempat tidur di hospice secara langsung berarti kekurangan tempat tidur di rumah sakit.

Dampak Domino Krisis Tempat Tidur

Vincent Mobey, suami Mrs. Mobey, membagikan pengalamannya yang memilukan.

"Saat ini ada banyak orang di rumah sakit," katanya.

"Mereka sangat membutuhkan perawatan di hospice."

Ia menambahkan, "Namun, tidak ada tempat tidur yang tersedia untuk mereka."

"Akhirnya, mereka terpaksa tinggal di rumah sakit," jelas Vincent.

Situasi ini, menurutnya, "memblokir" tempat tidur di rumah sakit.

Vincent mengingat kembali saat Maggie dirawat di rumah sakit.

"Maggie harus berbaring di koridor rumah sakit," ujarnya.

"Karena tidak ada tempat lain baginya," kenang Vincent dengan sedih.

Para pimpinan hospice mengutarakan bahwa masalah ini semakin sering terjadi.

Setengah dari dua belas tempat tidur spesialis di Prospect kini ditutup.

Secara rata-rata, setiap minggu, enam hingga tujuh pasien yang sedang sekarat terpaksa ditolak.

Suara dari Pimpinan: Jeremy Lune, CEO Prospect Hospice

Jeremy Lune, CEO Prospect Hospice, angkat bicara mengenai situasi ini.

"Saat ini, kami hanya memiliki 6 tempat tidur yang beroperasi," jelasnya.

Ia melanjutkan, "Kami tetap memberikan perawatan spesialis terbaik kami."

Namun, Lune menekankan, "Kebutuhan masyarakat kami sangat jelas terdokumentasi."

"Seharusnya, kedua belas tempat tidur tersebut dapat dibuka," tambahnya.

"Saat ini, kami tidak mampu melakukannya," aku Lune dengan nada prihatin.

"Itu berarti orang-orang yang seharusnya bersama kami," lanjutnya.

"Mereka terpaksa menghabiskan waktu di koridor rumah sakit."

"Atau bahkan di tempat tidur yang tidak semestinya di rumah sakit," pungkasnya.

Model Pendanaan yang Tidak Berkelanjutan

Di Inggris, hospices beroperasi sebagai organisasi amal.

Rata-rata, sekitar tiga puluh persen dari pendanaan mereka berasal dari NHS.

Sisanya, bergantung pada upaya penggalangan dana.

Namun, di Prospect Hospice, kontribusi pendanaan pemerintah jauh lebih rendah.

Hanya delapan belas persen dari total pendapatan mereka berasal dari pemerintah.

Sisa pendapatan diperoleh dari toko amal, acara penggalangan dana, dan warisan.

Ironisnya, kekurangan dana justru membuat operasional hospice menjadi lebih mahal.

Dengan hanya enam tempat tidur yang dibuka, biaya perawatan melambung.

Hospice menyatakan bahwa biaya mencapai sekitar £1.500 per pasien per malam.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan £1.100 jika kedua belas tempat tidur beroperasi penuh.

Pemerintah mengklaim telah menyalurkan £125 juta untuk hospices di seluruh Inggris.

Mereka menyebutnya sebagai investasi terbesar dalam satu generasi.

Namun, dana tersebut bersifat sekali pakai.

Bukan merupakan perubahan sistem pendanaan yang berkelanjutan.

Investasi Jangka Panjang yang Terabaikan

Jeremy Lune menambahkan klarifikasi penting mengenai dana tersebut.

"Uang itu adalah pendanaan modal," tegasnya.

Ia menjelaskan, "Dana itu digunakan untuk memperbaiki atap kami yang rusak."

"Atap itu sebagian besar terlepas saat Badai Claudia," lanjut Lune.

"Juga untuk memperbaiki sistem pemanas sentral kami yang rusak," tambahnya.

Namun, Lune menggarisbawahi kekhawatirannya.

"Dana tersebut tidak mencakup kebutuhan hospices mana pun," ujarnya.

"Terutama untuk meningkatkan jumlah staf," jelas Lune.

"Agar dapat memenuhi kebutuhan populasi yang terus bertambah," tambahnya.

"Kami memerlukan model pendanaan yang benar-benar mencerminkan hal tersebut," pinta Lune.

"Jumlah orang yang hidup lebih lama, dan membutuhkan layanan kami, terus meningkat," tutupnya.

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment