Interferon Gamma Release Assay (Igra): Pengertian, Prosedur, Dan Manfaat Di Laboratorium Medik
INFOLABMED - Dunia laboratorium medik terus berkembang dengan berbagai inovasi diagnostik terkini.
Salah satu tes penting yang semakin dikenal dan diandalkan adalah IGRA.
IGRA berperan krusial dalam deteksi infeksi *Mycobacterium tuberculosis*.
Deteksi dini ini sangat penting untuk penanganan dan pengendalian penyakit tuberkulosis (TB).
Artikel ini akan mengupas tuntas tentang IGRA, khususnya dalam konteks di laboratorium medik.
Kami akan menjelaskan singkatan IGRA, prinsip kerja, prosedur pengujian, serta manfaat utamanya.
Pemahaman mendalam tentang IGRA akan memperkaya wawasan kita mengenai diagnosis TB modern.
Apa itu IGRA? Singkatan dan Definisi
IGRA merupakan singkatan dari Interferon Gamma Release Assay.
Ini adalah jenis tes darah yang canggih dan spesifik.
Tes ini dirancang untuk mendiagnosis infeksi *Mycobacterium tuberculosis*.
*Mycobacterium tuberculosis* adalah bakteri yang bertanggung jawab atas penyakit tuberkulosis.
Berbeda dengan tes tuberkulin kulit (TST) yang lama, IGRA mendeteksi respons imun seluler.
Tes ini secara spesifik mencari interferon gamma yang dilepaskan oleh sel T.
Interferon gamma adalah sitokin yang diproduksi sebagai respons terhadap antigen TB spesifik.
Bagaimana IGRA Bekerja? Prinsip Dasar di Laboratorium Medik
Prinsip dasar IGRA adalah mendeteksi respons imun spesifik terhadap antigen TB.
Ketika darah pasien diambil, ia akan diinkubasi dengan peptida sintetis.
Peptida ini meniru protein yang secara eksklusif ditemukan pada *Mycobacterium tuberculosis*.
Jika seseorang pernah terinfeksi bakteri TB, sel T memori mereka akan mengenali antigen ini.
Pengenalan tersebut kemudian akan memicu pelepasan interferon gamma.
Interferon gamma merupakan sitokin kunci dalam respons imun seluler terhadap TB.
Jumlah interferon gamma yang dilepaskan kemudian diukur oleh alat khusus.
Pengukuran ini menentukan apakah ada indikasi infeksi TB atau tidak.
Hasilnya memberikan informasi penting tentang status infeksi TB individu.
Prosedur Pengujian IGRA di Laboratorium Medik
Prosedur pengujian IGRA dimulai dengan pengambilan sampel darah vena.
Sampel darah biasanya dikumpulkan dalam tabung khusus yang telah disiapkan.
Tabung ini mengandung antigen TB spesifik, kontrol positif, dan kontrol negatif.
Darah kemudian diinkubasi pada suhu tubuh sekitar 37°C selama beberapa jam.
Selama inkubasi, sel T yang sensitif akan melepaskan interferon gamma jika ada infeksi TB.
Setelah inkubasi, plasma dipisahkan dari sel darah.
Tingkat interferon gamma dalam plasma diukur menggunakan metode imunoasai seperti ELISA (Enzyme-Linked Immunosorbent Assay).
Hasilnya kemudian diinterpretasikan oleh tenaga ahli laboratorium yang terlatih.
Interpretasi hasil ini memerlukan pemahaman mendalam tentang kriteria diagnostik yang ditetapkan.
Jenis-jenis Tes IGRA yang Tersedia di Pasaran
Ada dua jenis tes IGRA utama yang digunakan secara global.
Jenis pertama adalah QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-Plus).
Jenis kedua adalah T-SPOT.TB.
QFT-Plus mengukur kadar IFN-γ yang dilepaskan ke dalam plasma.
Tes ini menggunakan tabung khusus yang sudah dilapisi antigen.
T-SPOT.TB menghitung jumlah sel T yang memproduksi IFN-γ.
Tes ini biasanya menggunakan teknik ELISPOT (Enzyme-Linked ImmunoSpot).
Keduanya memiliki akurasi tinggi dalam mendeteksi infeksi *Mycobacterium tuberculosis*.
Pilihan tes seringkali tergantung pada ketersediaan di laboratorium dan preferensi klinis.
Keunggulan Tes IGRA di Laboratorium Medik
Spesifisitas Tinggi.
IGRA tidak dipengaruhi oleh vaksinasi BCG (Bacillus Calmette-Guérin) sebelumnya.
Tes ini juga tidak dipengaruhi oleh sebagian besar infeksi *Mycobacterium* non-tuberkulosis.
Hanya Membutuhkan Satu Kunjungan.
Berbeda dengan TST yang memerlukan dua kali kunjungan untuk pembacaan, IGRA hanya memerlukan satu kali pengambilan darah.
Hasil Objektif.
Interpretasi hasil IGRA lebih objektif karena diukur secara kuantitatif.
Tidak ada efek prozone atau zona tak terbaca seperti yang kadang terjadi pada TST.
Dapat Digunakan pada Populasi Tertentu.
IGRA sangat berguna pada pasien dengan imunosupresi atau mereka yang memiliki riwayat vaksin BCG.
Tes ini juga efektif untuk anak-anak kecil yang seringkali sulit dalam interpretasi TST.
Peran IGRA dalam Diagnosis Tuberkulosis
IGRA memiliki peran vital dalam diagnosis TB modern.
Ini digunakan secara luas untuk mendeteksi infeksi TB laten (LTBI).
LTBI adalah kondisi di mana seseorang terinfeksi bakteri TB tetapi belum sakit atau tidak menunjukkan gejala.
Orang dengan LTBI tidak menularkan penyakit kepada orang lain.
Namun, mereka berisiko tinggi mengembangkan TB aktif di masa depan.
Skrining LTBI sangat penting pada kelompok berisiko tinggi.
Contohnya adalah kontak erat pasien TB aktif, individu dengan HIV, atau penerima transplantasi organ.
IGRA juga dapat mendukung diagnosis TB aktif.
Terutama dalam situasi ketika diagnosis mikrobiologis sulit dilakukan atau memerlukan waktu.
Tes ini membantu mengidentifikasi individu yang memerlukan pengobatan pencegahan TB.
Keterbatasan dan Pertimbangan Penggunaan IGRA
Meskipun memiliki banyak keunggulan, IGRA juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu dipertimbangkan.
Salah satu keterbatasan utama adalah bahwa tes ini tidak dapat membedakan antara TB laten dan TB aktif.
Diagnosis TB aktif tetap memerlukan bukti mikrobiologis, radiologis, atau klinis tambahan.
Faktor lain seperti usia sangat muda atau kondisi imunosupresi berat dapat mempengaruhi hasil tes.
Biaya IGRA umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tes tuberkulin kulit (TST).
Laboratorium harus memastikan kualitas dan kontrol yang ketat untuk mendapatkan hasil akurat dan terpercaya.
Pengambilan sampel dan transportasi harus mengikuti standar yang ditetapkan untuk menghindari hasil yang tidak valid.
IGRA, atau Interferon Gamma Release Assay, merupakan alat diagnostik modern yang sangat berharga di laboratorium medik untuk deteksi infeksi *Mycobacterium tuberculosis*.
Dengan spesifisitas tinggi dan keunggulan dalam deteksi respons imun seluler yang tidak dipengaruhi vaksin BCG, IGRA menawarkan alternatif yang lebih baik daripada tes kulit tuberkulin, terutama bagi individu yang telah divaksinasi atau memiliki kondisi imunosupresi.
Meskipun memiliki keterbatasan dalam membedakan TB laten dan aktif, perannya yang signifikan dalam skrining dan diagnosis awal infeksi TB sangat mendukung upaya global dalam pengendalian penyakit tuberkulosis.
Post a Comment