Deteksi Dini Tbc: Panduan Lengkap Pemeriksaan Tuberkulosis
INFOLABMED.COM - Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular serius yang disebabkan oleh bakteri *Mycobacterium tuberculosis*.
Penyakit ini terutama menyerang paru-paru, namun bisa juga memengaruhi organ lain seperti otak, tulang belakang, dan ginjal.
Deteksi dini melalui pemeriksaan tuberkulosis merupakan langkah krusial untuk mencegah penyebaran dan memastikan pengobatan yang efektif.
Memahami berbagai jenis pemeriksaan TBC dapat membantu kita mengambil keputusan kesehatan yang tepat.
Mengapa Pemeriksaan Tuberkulosis Penting?
Pemeriksaan TBC sangat vital untuk mengidentifikasi infeksi baik yang aktif maupun laten.
Infeksi TBC laten berarti bakteri berada dalam tubuh namun belum menyebabkan gejala penyakit aktif.
Orang dengan TBC laten tidak menularkan penyakit, tetapi mereka berisiko tinggi mengembangkan TBC aktif di masa depan.
Mendeteksi TBC aktif secara cepat memungkinkan pasien mendapatkan pengobatan segera.
Ini juga mencegah penularan bakteri ke orang lain di lingkungan sekitar mereka.
Siapa yang Seharusnya Menjalani Pemeriksaan TBC?
Beberapa kelompok individu memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi TBC.
Pemeriksaan rutin disarankan bagi kelompok-kelompok ini.
Kelompok Berisiko Tinggi Meliputi:
Orang yang memiliki kontak erat dengan penderita TBC aktif.
Individu yang tinggal di daerah dengan prevalensi TBC tinggi.
Petugas kesehatan yang sering berinteraksi dengan pasien TBC.
Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita HIV/AIDS, diabetes, atau yang menjalani pengobatan imunosupresif.
Bayi dan anak-anak kecil yang terpapar TBC.
Penyalahguna narkoba suntik dan tunawisma.
Narapidana dan penghuni fasilitas umum lainnya.
Jenis-Jenis Pemeriksaan Tuberkulosis
Ada beberapa metode pemeriksaan yang digunakan untuk mendeteksi TBC.
Setiap metode memiliki kelebihan dan keterbatasan tersendiri.
1. Tes Kulit Tuberkulin (TST) atau Uji Mantoux
Tes TST adalah metode skrining yang paling umum digunakan untuk mendeteksi infeksi TBC laten.
Prosedur ini melibatkan penyuntikan sejumlah kecil cairan protein tuberkulin (PPD) di bawah lapisan atas kulit lengan bawah.
Pasien diminta kembali ke klinik dalam waktu 48 hingga 72 jam untuk pemeriksaan hasil.
Perawat atau dokter akan mengukur diameter benjolan merah yang terbentuk pada kulit.
Ukuran benjolan ini menunjukkan apakah seseorang terpapar bakteri TBC atau tidak, dengan mempertimbangkan faktor risiko.
Hasil positif mengindikasikan kemungkinan infeksi TBC, tetapi tidak dapat membedakan antara TBC aktif dan laten.
2. Tes Darah IGRA (Interferon-Gamma Release Assays)
Tes IGRA adalah alternatif untuk TST dan sering digunakan untuk mendeteksi infeksi TBC laten.
Dua jenis tes IGRA yang umum adalah QuantiFERON-TB Gold Plus (QFT-Plus) dan T-SPOT.TB.
Tes ini mengukur respons kekebalan tubuh terhadap bakteri TBC dengan menganalisis sampel darah.
IGRA kurang rentan terhadap hasil positif palsu yang disebabkan oleh vaksin BCG atau infeksi mikobakteri non-tuberkulosis.
Hasil tes IGRA biasanya tersedia dalam 24 jam.
Sama seperti TST, tes IGRA tidak dapat membedakan infeksi TBC laten dari penyakit TBC aktif.
3. Rontgen Dada (X-ray Toraks)
Rontgen dada sering digunakan sebagai pemeriksaan lanjutan setelah hasil TST atau IGRA positif.
Tes ini dapat menunjukkan adanya perubahan atau lesi pada paru-paru yang mengindikasikan TBC aktif.
Ciri-ciri TBC pada rontgen dada meliputi infiltrat, kavitas, atau nodul.
Namun, rontgen dada saja tidak cukup untuk mendiagnosis TBC secara pasti.
Kelainan pada rontgen dada juga bisa disebabkan oleh kondisi paru-paru lainnya.
4. Pemeriksaan Dahak (Sputum Test)
Pemeriksaan dahak adalah standar emas untuk mendiagnosis TBC aktif pada paru-paru.
Pasien diminta untuk mengumpulkan sampel dahak mereka.
Sampel dahak kemudian diperiksa di laboratorium untuk mencari bakteri *Mycobacterium tuberculosis*.
Metode yang digunakan meliputi mikroskopis langsung (pewarnaan Ziehl-Neelsen), kultur, dan tes cepat molekuler seperti GeneXpert.
Kultur dahak membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mendapatkan hasil, tetapi sangat sensitif.
Tes cepat molekuler dapat memberikan hasil dalam hitungan jam dan juga mendeteksi resistensi obat.
Pemeriksaan dahak penting untuk mengkonfirmasi diagnosis dan menentukan jenis pengobatan yang tepat.
Memahami Hasil Pemeriksaan
Hasil pemeriksaan TBC harus selalu diinterpretasikan oleh tenaga medis profesional.
Hasil positif pada TST atau IGRA menunjukkan adanya infeksi, baik laten maupun aktif.
Dibutuhkan pemeriksaan tambahan seperti rontgen dada dan pemeriksaan dahak untuk menentukan apakah penyakit tersebut aktif.
Hasil negatif biasanya berarti tidak ada infeksi TBC, namun tidak selalu mutlak.
Terutama jika seseorang baru saja terpapar atau memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat lemah.
Langkah Selanjutnya Setelah Hasil Positif
Jika hasil pemeriksaan awal positif, dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut.
Ini mungkin melibatkan pemeriksaan fisik menyeluruh dan tes diagnostik tambahan.
Apabila didiagnosis TBC laten, dokter mungkin merekomendasikan pengobatan pencegahan.
Pengobatan ini bertujuan untuk membunuh bakteri laten dan mencegah perkembangan menjadi TBC aktif.
Untuk TBC aktif, pengobatan akan segera dimulai dengan kombinasi antibiotik selama beberapa bulan.
Penting sekali untuk mengikuti rejimen pengobatan sesuai anjuran dokter hingga tuntas.
Penghentian pengobatan sebelum waktunya dapat menyebabkan resistensi obat dan kekambuhan penyakit.
Pemeriksaan tuberkulosis adalah komponen esensial dalam upaya global memberantas TBC, memungkinkan deteksi dini infeksi laten maupun aktif.
Dengan berbagai metode seperti TST, IGRA, rontgen dada, dan pemeriksaan dahak, individu berisiko dapat diidentifikasi dan diberikan penanganan yang tepat, sehingga melindungi diri sendiri dan komunitas dari penyebaran penyakit serius ini.

Post a Comment