Bandar Lampung Ungkap Rahasia Sukses Tekan Hiv/aids: Target Melampaui 119%, Bukan Darurat!
Mereka berhasil mengungkap dan mengatasi fenomena penyakit menular ini di tengah masyarakat kota berjuluk Tapis Berseri.
Berbagai strategi proaktif telah diimplementasikan, termasuk pendekatan jemput bola dengan turun langsung ke berbagai lokus yang berpotensi menjadi titik penyebaran HIV/AIDS.
Hasilnya sungguh luar biasa, capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk penapisan atau skrining HIV melampaui target hingga lebih dari 119 persen.
Kepala Dinkes Bandar Lampung, Muhtadi A. Temenggung, menjelaskan kepada awak media pada Selasa, 24 Februari 202, bahwa tingginya angka temuan justru mengindikasikan keberhasilan optimal dalam pelacakan.
“Jika capaian sudah di atas 100 persen, ini menandakan bahwa mitigasi risiko penyebaran lanjutan sudah berhasil kita tangani,” tegasnya.
Ia juga menekankan, “Situasi ini bukan dalam kondisi darurat, melainkan bukti nyata keseriusan kami untuk memutus mata rantai penularan, demi mencapai target Eliminasi HIV pada tahun 2030.”
Strategi Komprehensif Skrining dan Identifikasi Kelompok Rentan
Dalam menjalankan operasional di lapangan, Dinkes memfokuskan skrining terhadap delapan kelompok indikator SPM kunci.
Kelompok-kelompok tersebut meliputi ibu hamil, penderita TBC, serta penderita Infeksi Menular Seksual (IMS).
Skrining juga menyasar Wanita Pekerja Seksual (WPS), Lelaki Seks Lelaki (LSL), waria, Pengguna Narkoba Suntik (Penasun), dan Warga Binaan Pemasyarakatan.
Terkait temuan kasus reaktif, termasuk 227 kasus pada kelompok LSL, dr. Liskha menegaskan bahwa angka tersebut merupakan refleksi dari kerja keras dan keaktifan para petugas di lapangan.
Semakin cepat kasus ditemukan, semakin cepat pula pasien memperoleh akses terhadap pengobatan yang dibutuhkan.
Kondisi ini secara signifikan dapat menekan potensi penularan lebih lanjut di masyarakat.
Program Khusus dan Layanan Pengobatan Terpadu
Khusus bagi ibu hamil, Dinkes Bandar Lampung mengimplementasikan program Triple Eliminasi secara cuma-cuma.
Setiap ibu hamil diwajibkan menjalani skrining HIV, sifilis, dan hepatitis untuk mencegah transmisi dari ibu ke bayi.
Untuk layanan pengobatan, sebanyak 31 puskesmas di seluruh Bandar Lampung telah siap memberikan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) yang komprehensif.
Dinkes juga menerapkan strategi global yang ambisius, yaitu Fast Track 95-95-95.
Strategi ini bertujuan agar 95 persen Orang Dengan HIV (ODHIV) terdiagnosis, 95 persen dari mereka mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV), dan 95 persen pasien yang menjalani terapi mencapai supresi virus.
“Pasien yang patuh dan rutin mengonsumsi obat sesuai dosis dapat secara efektif menekan jumlah virus dalam tubuh mereka,” jelas Muhtadi.
Ia menambahkan, “Dengan kondisi virus yang tersupresi, potensi penularan menjadi sangat rendah, serta harapan hidup pasien tetap panjang dan produktif.”
Kolaborasi Lintas Sektor dan Penjagaan Kerahasiaan
Selain itu, untuk memperluas jangkauan ke lokus khusus seperti tempat hiburan malam, Dinkes menjalin kerja sama lintas sektor yang erat.
Kemitraan ini melibatkan Dinas Pariwisata, Dinas Sosial, Babinkamtibmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga komunitas Indonesia AIDS Coalition (IAC).
Pemerintah Kota Bandar Lampung juga menjamin sepenuhnya kerahasiaan identitas pasien secara by name by address.
Edukasi Publik dan Mitos Penularan HIV
Dinkes secara konsisten mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi hoaks yang beredar.
Penting untuk diingat bahwa HIV tidak menular melalui pelukan, sentuhan fisik, berbagi alat makan, obrolan biasa, maupun penggunaan toilet umum.
“Penularan HIV hanya terjadi melalui kontak darah, hubungan seksual yang tidak aman, serta transmisi dari ibu positif kepada anak yang dikandungnya,” tegas Dinkes Bandar Lampung.
berita ini di sadur dari https://smartnews.id/dinkes-berhasil-lacak-fenomena-hiv-aids-di-bandar-lampung.

Post a Comment