Reaksi Leulemoid: Fenomena Leukositosis Ekstrem yang Menyerupai Leukemia
INFOLABMED.COM - Dalam dunia hematologi, terdapat suatu kondisi di mana hasil pemeriksaan darah menunjukkan jumlah sel darah putih (leukosit) yang sangat tinggi, bahkan mencapai puluhan ribu hingga lebih dari 50.000 sel/µL, yang secara sekilas mengkhawatirkan dan menyerupai leukemia.
Kondisi ini dikenal sebagai Reaksi Leulemoid (Leukemoid Reaction). Penting untuk dipahami bahwa ini bukan kanker darah, melainkan respons tubuh yang berlebihan terhadap suatu rangsangan.
Apa Itu Reaksi Leulemoid?
Reaksi Leulemoid adalah suatu keadaan di mana terjadi peningkatan jumlah leukosit dalam darah perifer yang sangat signifikan (>50.000/µL), disertai dengan adanya sel-sel darah putih yang belum matang (seperti mielosit, promielosit, atau bahkan mieloblas) di dalam sirkulasi, sehingga menyerupai gambaran leukemia mieloid kronis (CML) atau akut (AML). Namun, reaksi ini bersifat reaktif dan reversibel, artinya akan membaik jika penyebab dasarnya diatasi.
Penyebab Umum Reaksi Leulemoid
Reaksi ini merupakan respons sumsum tulang yang hiperaktif terhadap berbagai stimulus, antara lain:
Infeksi Bakteri Berat:
- Tuberkulosis (TB) milier/disseminata
- Sepsis atau bakteremia berat
- Infeksi Clostridium difficile dengan kolitis pseudomembran
- Pneumonia berat
- Difteri
Kondisi Non-Infeksi yang Menyebabkan Stres Fisik Berat:
- Keracunan (toksisitas) berat
- Sindrom Distres Pernapasan Akut (ARDS)
- Luka bakar luas
- Perdarahan besar atau hemolisis masif
- Kejang-kejang
- Pembedahan besar
Keganasan (Malignansi):
- Metastasis kanker ke sumsum tulang (terutama kanker paru, payudara, lambung)
- Tumor ganas yang mengalami nekrosis
Kondisi Lain:
- Eklampsia
- Trauma jaringan yang sangat luas
Bagaimana Membedakan Reaksi Leulemoid dengan Leukemia Sejati?
Ini adalah tantangan diagnostik yang kritis. Pembedaan dilakukan melalui evaluasi menyeluruh:
| Parameter Pembeda | Reaksi Leulemoid | Leukemia Mieloid Kronis (CML) |
|---|---|---|
| Penyebab | Reaktif (infeksi, stres, keganasan lain). | Neoplasma klonal primer sumsum tulang. |
| Sel Darah Putih | Peningkatan neutrofil predominan dengan "shift to left". | Peningkatan semua deretan mieloid, termasuk basofil & eosinofil. |
| Tanda Döhle Bodies | Sering ada (inklusi sitoplasma). | Jarang. |
| Toksisitas Granular | Sering ada pada neutrofil. | Tidak ada. |
| Leukosit Alkaline Phosphatase (LAP) Score | TINGGI atau normal. | RENDAH (khas untuk CML). |
| Splenomegali (Pembesaran Limpa) | Mungkin ada ringan terkait infeksi. | Besar dan signifikan (khas untuk CML). |
| Kromosom Philadelphia & BCR-ABL | TIDAK ADA. | ADA (khas untuk >95% kasus CML). |
| Respon terhadap Terapi | Membaik jika penyebab dasar diatasi. | Membutuhkan terapi kanker (TKI, kemoterapi). |
Pemeriksaan Penunjang yang Penting
- Hitung Darah Lengkap (HDL) & Apusan Darah Tepi: Menunjukkan leukositosis ekstrem dengan neutrofilia dan adanya sel muda. Tanda Döhle Bodies dan granula toksik adalah petunjuk ke arah reaksi leulemoid.
- Skor LAP (Leukocyte Alkaline Phosphatase): Tes klasik yang sangat membantu. Skor tinggi mendukung reaksi leulemoid, skor rendah mendukung CML.
- Pemeriksaan Sumsum Tulang (Aspirasi/Biopsi): Pada reaksi leulemoid, sumsum tulang menunjukkan hiperplasia (peningkatan produksi) garis mieloid tanpa displasia atau ledakan yang masif seperti pada leukemia akut. Tidak ada kromosom Philadelphia.
- Tes PCR untuk BCR-ABL: Untuk menyingkirkan CML secara definitif.
- Pencarian Penyebab Dasar: Kultur darah, rontgen thorax, dan pencarian sumber infeksi atau keganasan lain.
Penatalaksanaan
Prinsip utama penanganan reaksi leulemoid adalah mengidentifikasi dan mengobati penyebab dasarnya. Tidak ada terapi spesifik untuk reaksi leulemoid itu sendiri. Setelah infeksi diatasi atau kondisi stres berat terlewati, jumlah leukosit akan perlahan kembali normal. Terapi sitotoksik/kemoterapi TIDAK diperlukan dan justru berbahaya.
Kesimpulan
Reaksi Leulemoid merupakan suatu respons fisiologis tubuh yang dramatis terhadap stres berat, paling sering akibat infeksi. Meski gambaran darahnya mirip leukemia, kondisi ini bersifat jinak dan reversible. Kunci utama adalah tidak terjebak pada angka leukosit yang tinggi, tetapi melakukan investigasi hematologi yang cermat untuk membedakannya dari leukemia sejati, sehingga pasien mendapatkan penanganan yang tepat sesuai dengan penyebab mendasarnya.
Untuk informasi hematologi dan interpretasi hasil laboratorium lainnya, ikuti kami di Telegram, Facebook, dan Twitter/X. Dukung pengembangan edukasi medis melalui Donasi via DANA.
Post a Comment