Prosedur Standar Laboratorium: Kriteria dan Alur Penerimaan Spesimen M.TBC yang Valid

Table of Contents

 

Prosedur Standar Laboratorium: Kriteria dan Alur Penerimaan Spesimen M.TBC yang Valid

INFOLABMED.COM - Tahap penerimaan specimen M.TBC di laboratorium adalah garda terdepan yang menentukan keabsahan seluruh proses diagnosis tuberkulosis.  

Prosedur ini tidak sekadar menerima kiriman, melainkan proses skrining dan validasi ketat berdasarkan Standar Operasional Prosedur (SOP) laboratorium. 

Baca Juga: Presiden Terpilih Prabowo Siap Skrining Tuberkulosis untuk 52 Juta Penduduk di Tahun 2025

Artikel ini menguraikan alur dan kriteria kritis dalam penerimaan specimen M.TBC yang wajib diketahui oleh petugas pengirim dan penerima.

Alur Penerimaan Spesimen di Meja Registrasi Setiap spesimen yang masuk harus melalui tahapan berikut:

  1. Pengecekan Identitas: Petugas memverifikasi kesesuaian antara label pada wadah spesimen dengan formulir permintaan pemeriksaan (laboratory requisition form). Nama, nomor ID, tanggal pengambilan, dan jenis spesimen harus sama persis.
  2. Pengecekan Kondisi Spesimen dan Wadah: Dilakukan inspeksi visual terhadap:
    • Jenis Wadah: Harus sesuai (pot dahak steril, wadah sterile leak-proof).
    • Integritas Wadah: Tidak boleh retak, bocor, atau terbuka.
    • Volume Spesimen: Cukup (minimal 3-5 ml untuk dahak).
    • Kualitas Spesimen: Dahak harus purulen/mukopurulen, bukan saliva (ludah).
  3. Pengecekan Ketepatan Pengawet dan Transport: Spesimen harus dikirim dengan suhu yang sesuai (biasanya 2-8°C) dan dalam waktu yang tidak melebihi batas maksimal (biasanya 72 jam sejak pengambilan).

Kriteria Penolakan Spesimen M.TBC Spesimen akan ditolak dan tidak diproses jika ditemukan kondisi berikut:

  • Ketidaksesuaian Identitas antara label dan formulir.
  • Spesimen Tumpah atau Wadah Rusak yang membahayakan petugas dan lingkungan.
  • Kesalahan Jenis Wadah (misal, wadah non-steril untuk kultur).
  • Kuantitas Tidak Cukup untuk melakukan semua tes yang diminta.
  • Spesimen Kering atau sudah kadaluarsa (terlalu lama dalam transport).
  • Formulir Permintaan Tidak Lengkap (tanpa diagnosis klinis, tanpa nama dokter pengirim).
  • Spesimen berupa saliva murni, bukan dahak.

Dokumentasi dan Komunikasi Setiap penerimaan specimen M.TBC wajib dicatat secara elektronik atau manual. 

Jika spesimen ditolak, bagian penerimaan harus segera menginformasikan kepada unit pengirim (puskesmas, klinik, rumah sakit) dengan menyertakan alasan penolakan yang jelas dan rekomendasi pengambilan ulang jika memungkinkan. 

Komunikasi ini vital untuk memperbaiki proses pra-analitik.

Dampak Penerimaan yang Tidak Tepat Penerimaan specimen M.TBC yang tidak memenuhi standar dapat berakibat fatal:

Baca Juga: Efek Samping Obat TBC: Kenali Gejala dan Cara Mengatasinya | Hello Sehat

  • Hasil Negatif Palsu: Gagal mendeteksi bakteri, pasien tidak mendapat pengobatan.
  • Risiko Penularan: Petugas lab dan lingkungan terpapar bakteri.
  • Pemborosan Biaya: Spesimen diproses tetapi hasil tidak valid.
  • Delay Diagnosis: Penundaan pengobatan memperburuk prognosis pasien.

Oleh karena itu, kolaborasi dan pemahaman yang sama antara klinisi, petugas pengambil sampel, dan petugas laboratorium mengenai prosedur penerimaan specimen M.TBC mutlak diperlukan untuk mendukung program penanggulangan TBC yang efektif.

Dapatkan informasi terkini seputar mikrobiologi dan tata kelola laboratorium hanya dari sumber terpercaya. Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui TelegramFacebook, dan Twitter/X. Bantu kami terus berkontribusi dalam dunia kesehatan. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA.



Fitri Aisyah
Fitri Aisyah Selamat datang di my blog! Blog ini membahas dunia laboratorium medik dengan cara yang mudah dipahami. Dari teknik pemeriksaan, interpretasi hasil laboratorium, hingga tips seputar kesehatan, semuanya dikemas simpel, jelas, dan berbasis bukti ilmiah. Yuk, eksplorasi ilmu laboratorium bersama! 🔬🚀

Post a Comment