Hb Tinggi pada Anak: Waspadai Penyebabnya, Jangan Langsung Senang!
INFOLABMED.COM - Saat pemeriksaan darah menunjukkan Hb tinggi pada anak, banyak orang tua mengira ini pertanda anak sehat dan kuat. Namun, dalam dunia medis, kondisi ini yang disebut polisitemia atau eritrositosis perlu dicermati.
Hb tinggi bisa menjadi tanda adaptasi tubuh yang normal, tetapi juga bisa menjadi alarm adanya penyakit serius yang mendasarinya.
Apa Itu Hb Tinggi (Polisitemia) pada Anak?
Kondisi ini terjadi ketika jumlah sel darah merah (dan konsentrasi hemoglobin) dalam darah anak melebihi batas normal untuk usia dan jenis kelaminnya. Penting untuk membandingkan hasil dengan nilai rujukan usia spesifik, karena kadar Hb normal anak berbeda dengan dewasa dan berubah seiring pertumbuhan.
Penyebab Hb Tinggi pada Anak: Dari yang Ringan hingga Serius
Penyebabnya dibagi dua: polisitemia relatif (volume plasma turun) dan polisitemia absolut (massa sel darah merah benar-benar meningkat).
1. Polisitemia Relatif (Paling Sering)
- Dehidrasi: Penyebab tersering. Ketika anak kurang minum, diare, muntah, atau berkeringat banyak, volume cairan (plasma) dalam darah berkurang. Akibatnya, sel darah merah dan Hb tampak "lebih pekat" dan terukur tinggi padahal jumlah sebenarnya normal.
- Diagnosis: Biasanya disertai gejala dehidrasi (lemas, mata cekung, kulit kering, jarang BAK). Setelah kebutuhan cairan terpenuhi, Hb akan kembali normal.
2. Polisitemia Absolut Tubuh benar-benar memproduksi terlalu banyak sel darah merah.
- Sekunder (Respons terhadap Hipoksia/Kekurangan Oksigen):
- Penyakit Jantung Bawaan Sianotik: Misal, Tetralogy of Fallot. Darah yang miskin oksigen memicu tubuh memproduksi lebih banyak Hb untuk mengangkut oksigen.
- Gangguan Paru Kronis: Seperti bronkiektasis atau sleep apnea berat.
- Tinggal di Dataran Tinggi: Adaptasi fisiologis terhadap kadar oksigen rendah.
- Sindrom Hipoventilasi.
- Primer (Kelainan Sumsum Tulang):
- Polisitemia Vera: Penyakit langka di mana sumsum tulang memproduksi sel darah secara berlebihan tanpa sebab eksternal. Sangat jarang pada anak.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Selain gejala penyakit dasarnya (seperti biru pada penyakit jantung), Hb tinggi sendiri dapat menyebabkan:
- Warna kulit kemerahan atau kebiruan (plethora/ sianosis).
- Sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan.
- Mudah lelah.
- Gatal-gatal terutama setelah mandi air hangat.
- Nyeri tulang atau sendi.
- Risiko pembekuan darah (trombosis) yang lebih tinggi karena darah lebih kental.
Langkah Diagnostik yang Dilakukan Dokter
Jika ditemukan Hb tinggi pada anak, dokter akan menelusuri:
- Anamnesis: Riwayat minum, penyakit jantung/paru, tinggal di dataran tinggi, gejala yang dirasakan.
- Pemeriksaan Fisik: Tanda dehidrasi, sianosis, bunyi jantung abnormal, pembesaran limpa.
- Pemeriksaan Penunjang:
- Hitungan Darah Lengkap lengkap dengan hematokrit.
- Saturasi Oksigen (pulse oximetry).
- Gas Darah untuk menilai kadar oksigen secara akurat.
- EKG dan Ekokardiografi jika diduga penyakit jantung.
- Pengukuran Massa Sel Darah Merah dan Volume Plasma (jarang, untuk konfirmasi).
- Tes Genetik atau Biopsi Sumsum Tulang jika polisitemia vera dicurigai.
Penanganan: Fokus pada Penyebab Dasar
Tidak ada obat untuk "menurunkan Hb" secara langsung. Terapi ditujukan pada akar masalah:
- Dehidrasi: Rehidrasi oral atau infus.
- Penyakit Jantung/Paru: Penanganan oleh spesialis jantung anak atau paru anak, mungkin perlu tindakan bedah.
- Polisitemia Vera: Dapat memerlukan flebotomi (pengeluaran darah) untuk mengurangi kekentalan darah, dan/atau obat-obatan.
Kapan Harus Khawatir?
Segera konsultasi ke dokter spesialis anak jika:
- Hb tinggi ditemukan tanpa penyebab dehidrasi yang jelas.
- Disertai gejala seperti biru pada bibir atau kuku (sianosis), sesak napas, atau gangguan tumbuh kembang.
- Ada riwayat penyakit jantung dalam keluarga.
Kesimpulan
Hb tinggi pada anak adalah temuan laboratorium yang tidak boleh diabaikan. Meski sering kali bersifat sementara dan ringan (dehidrasi), kondisi ini dapat menjadi penanda adanya penyakit kronis yang membutuhkan penanganan serius. Orang tua tidak perlu panik, tetapi harus proaktif mencari penyebab pastinya bersama dokter. Pemeriksaan lebih lanjut sangat penting untuk membedakan antara kondisi fisiologis yang tidak berbahaya dengan patologi yang memerlukan intervensi medis spesifik.
Temukan informasi kesehatan anak dan interpretasi hasil lab lainnya dengan mengikuti kami di Telegram, Facebook, dan Twitter/X. Dukung upaya edukasi kesehatan keluarga Indonesia melalui Donasi via DANA.
Post a Comment