LED Meningkat? Kenali Perannya sebagai Penanda Infeksi dan Penyakit Autoimun
INFOLABMED.COM - Pemeriksaan Laju Endap Darah (LED) atau Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) adalah salah satu tes laboratorium paling klasik dan sering diminta.
Hasil LED yang tinggi secara konsisten dikaitkan dengan adanya proses peradangan di dalam tubuh.
Baca Juga: Laju Endap Darah (LED): Memahami Makna dan Interpretasinya di Indonesia
Dua penyebab utama peningkatan ini adalah LED pada infeksi dan LED pada penyakit autoimun.
Meski bukan spesifik, memahami konteks kenaikan LED sangat penting dalam membantu diagnosis dan pemantauan penyakit.
Apa Itu LED dan Apa Arti Peningkatannya?
LED mengukur kecepatan sel darah merah mengendap di dasar tabung khusus dalam waktu satu jam. Nilainya dinyatakan dalam mm/jam.
Peningkatan terjadi karena adanya peningkatan protein fase akut (terutama fibrinogen) dalam darah akibat peradangan.
Protein ini membuat sel darah merah saling menempel (rouleaux formation) menjadi lebih berat, sehingga mengendap lebih cepat.
Jadi, LED yang tinggi adalah penanda tidak langsung adanya inflamasi aktif.
LED pada Infeksi
Pada kasus infeksi, terutama infeksi bakteri, LED sering kali meningkat signifikan.
- Mekanisme: Infeksi memicu respons peradangan sistemik. Sitokin yang dilepaskan merangsang hati untuk memproduksi protein fase akut, termasuk fibrinogen, yang kemudian meningkatkan LED.
- Contoh Infeksi yang Meningkatkan LED:
- Infeksi bakteri berat (pneumonia, pielonefritis, sepsis).
- Tuberculosis (TB).
- Infeksi jamur sistemik.
- Abses organ dalam.
- Pemantauan: LED dapat digunakan untuk memantau respons terapi antibiotik. LED yang menurun menunjukkan infeksi sedang terkontrol.
LED pada Penyakit Autoimun
Pada penyakit autoimun, peningkatan LED bahkan lebih menonjol dan sering menjadi salah satu parameter pemantauan utama.
- Mekanisme: Penyakit autoimun seperti Rheumatoid Arthritis (RA) atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) ditandai dengan peradangan kronis dan sistemik. Kondisi ini secara terus-menerus merangsang produksi protein fase akut.
- Contoh Penyakit Autoimun dengan LED Tinggi:
- Rheumatoid Arthritis: LED hampir selalu meningkat dan berkorelasi dengan tingkat aktivitas penyakit dan kerusakan sendi.
- Systemic Lupus Erythematosus (SLE): LED sering meningkat, terutama saat flare (kekambuhan).
- Giant Cell Arteritis & Polymyalgia Rheumatica: LED yang sangat tinggi (bisa >100 mm/jam) adalah temuan khas.
- Vaskulitis lainnya.
- Pemantauan: Pada penyakit autoimun, pemeriksaan LED dilakukan secara rutin bersama penanda lain (seperti CRP) untuk menilai apakah penyakit sedang aktif (flare) atau terkontrol (remisi), serta mengevaluasi efektivitas terapi.
Perbedaan Nuansa dan Keterbatasan LED
- Tingkat Kenaikan: LED pada infeksi bakteri akut biasanya meningkat sangat cepat dan tinggi. LED pada autoimun bisa sangat tinggi dan menetap dalam waktu lama.
- Keterbatasan: LED adalah penanda yang sensitif tetapi tidak spesifik. Artinya, ia bisa meningkat karena banyak hal selain infeksi dan autoimun, seperti: anemia berat, kehamilan, penyakit ginjal kronis, keganasan (kanker), dan usia lanjut. LED yang normal juga tidak selalu menyingkirkan adanya peradangan.
- Kombinasi dengan CRP: Dokter sering meminta LED dan C-Reactive Protein (CRP) bersama-sama. CRP meningkat dan turun lebih cepat, lebih spesifik untuk inflamasi akut (seperti infeksi), sedangkan LED lebih mencerminkan inflamasi kronis (seperti autoimun).
Pemeriksaan LED pada infeksi dan autoimun berperan sebagai "alarm peradangan" yang andal.
Meski tidak bisa mendiagnosis penyakit tertentu sendiri, nilainya yang meningkat memberikan petunjuk berharga untuk dokter melakukan investigasi lebih lanjut.
Baca Juga: Memahami Makna Laju Endap Darah (LED): Indikator Penting Kesehatan Anda
Bagi pasien dengan penyakit autoimun yang sudah terdiagnosis, pemantauan LED secara berkala adalah bagian penting dari tata laksana untuk memastikan penyakit tetap terkontrol.
Hasil LED harus selalu ditafsirkan oleh dokter dengan mempertimbangkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, dan hasil tes penunjang lainnya.
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram [Link: https://t.me/infolabmedcom], Facebook [Link: https://www.facebook.com/infolabmed/], Twitter/X [Link: https://x.com/infolabmed]. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA [Link: https://link.dana.id/minta?full_url=https://qr.dana.id/v1/281012012020092524655592].

Post a Comment