Kapan Pakai CRP vs PCT? Panduan Memilih Penanda Infeksi yang Tepat

Table of Contents

 

Kapan Pakai CRP vs PCT? Panduan Memilih Penanda Infeksi yang Tepat

INFOLABMED.COM - Dalam dunia medis, CRP (C-Reactive Protein) dan PCT (Procalcitonin) adalah dua penanda biokimia yang sering digunakan untuk mendeteksi dan memantau infeksi serta inflamasi.

Namun, keduanya memiliki karakteristik dan kegunaan klinis yang berbeda. 

Baca Juga: HS-CRP Adalah: Penanda Radang Sensitif untuk Deteksi Dini Risiko Jantung & Peradangan Kronis

Lalu, kapan kita pakai CRP vs PCT?

Memahami Dasar CRP dan PCT

  • CRP (C-Reactive Protein): Protein yang diproduksi oleh hati sebagai respons terhadap berbagai rangsangan inflamasi, baik akibat infeksi (bakteri, virus, jamur) maupun non-infeksi (trauma, luka bakar, penyakit autoimun, kanker). CRP meningkat dalam 6-12 jam setelah stimulasi dan puncaknya dalam 48 jam.
  • PCT (Procalcitonin): Prekursor hormon kalsitonin. Kadarnya dalam darah orang sehat sangat rendah. PCT secara spesifik meningkat pesat (dalam 2-4 jam) sebagai respons terhadap infeksi bakteri sistemik yang berat, terutama yang berpotensi menjadi sepsis. Respons terhadap infeksi virus atau inflamasi non-infeksi minimal.

Perbandingan Utama: Kapan Pakai CRP vs PCT?

AspekCRP (C-Reactive Protein)PCT (Procalcitonin)
Sumber RangsanganInflamasi luas (infeksi dan non-infeksi).Infeksi bakteri sistemik (terutama sepsis).
Kenaikan Awal6-12 jam setelah onset.Sangat cepat, 2-4 jam setelah onset.
Waktu Puncak48 jam.12-24 jam.
SpesifisitasRendah. Naik pada banyak kondisi.Tinggi untuk infeksi bakteri sistemik.
Utilitas KlinisSkrining inflamasi, pantau aktivitas penyakit (autoimun), infeksi ringan-sedang.Diagnosis & pemantauan sepsis, membedakan infeksi bakteri vs non-bakteri, panduan terapi antibiotik.
Respons terhadap VirusDapat meningkat.Umumnya tidak meningkat atau hanya sedikit.

Panduan Klinis: Kapan Memilih yang Mana?

Gunakan CRP untuk:

  1. Skrining Awal Inflamasi: Pada pasien dengan demam atau nyeri tanpa penyebab jelas.
  2. Memantau Aktivitas Penyakit Kronis: Seperti rheumatoid arthritis atau lupus untuk melihat tingkat peradangan.
  3. Infeksi Lokal Ringan-Sedang: Seperti faringitis, bronkitis, atau infeksi jaringan lunak.
  4. Penanda Risiko Kardiovaskular (hs-CRP).

Gunakan PCT untuk:

  1. Menduga atau Mendiagnosis Sepsis: PCT adalah penanda andalan untuk sepsis. Kadar yang sangat tinggi (>2 ng/mL) sangat sugestif sepsis bakterial.
  2. Membedakan Infeksi Bakteri vs Virus: Pada pasien dengan infeksi saluran napas bawah (pneumonia) atau meningitis, PCT membantu memutuskan perlunya antibiotik. PCT rendah (<0.25 ng/mL) mengarah ke etiologi non-bakteri.
  3. Memandu Durasi Terapi Antibiotik: Pada pasien sepsis, penurunan kadar PCT dapat digunakan sebagai panduan untuk menghentikan antibiotik, mengurangi resistensi.
  4. Memantau Respons Terapi pada Sepsis: Penurunan PCT menunjukkan respons baik terhadap pengobatan.

Interpretasi Hasil (Nilai Pemandu)

  • CRP: Normal <5-10 mg/L (bergantung lab). >100 mg/L sering mengarah ke infeksi bakteri.
  • PCT:
    • <0.05 ng/mL: Normal.
    • <0.25 ng/mL: Kemungkinan rendah infeksi bakteri sistemik/sepsis.
    • 0.25 - 0.5 ng/mL: Risiko moderat.
    • 0.5 ng/mL: Kemungkinan tinggi infeksi bakteri sistemik.

    • 2.0 ng/mL: Sangat sugestif sepsis atau syok septik.

Pertanyaan "kapan pakai CRP vs PCT" memiliki jawaban yang jelas berdasarkan tujuan klinis. 

CRP adalah "alat umum" untuk mendeteksi adanya inflamasi dari berbagai penyebab. 

Baca Juga: Pentingnya Biochemical Tests dalam Diagnosis Infectious dan Tropical Diseases

Sementara PCT adalah "alat spesialis" yang lebih akurat untuk mengonfirmasi infeksi bakteri sistemik berat seperti sepsis dan membimbing terapi antibiotik. 

Pemilihan yang tepat meningkatkan akurasi diagnosis dan efektivitas pengobatan.


Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram Link, Facebook Link, Twitter/X Link. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA Link.



Fitri Aisyah
Fitri Aisyah Selamat datang di my blog! Blog ini membahas dunia laboratorium medik dengan cara yang mudah dipahami. Dari teknik pemeriksaan, interpretasi hasil laboratorium, hingga tips seputar kesehatan, semuanya dikemas simpel, jelas, dan berbasis bukti ilmiah. Yuk, eksplorasi ilmu laboratorium bersama! 🔬🚀

Post a Comment