Lepra (Morbus Hansen): Memahami Penyakit Kusta dari Klasifikasi, Diagnosis, hingga Penatalaksanaan Modern
INFOLABMED.COM - Lepra, atau yang dalam dunia medis lebih dikenal sebagai Morbus Hansen, adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Meski sudah dapat diobati, penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan di beberapa wilayah, termasuk Indonesia.
Nama "Morbus Hansen" diberikan untuk menghormati penemunya, Gerhard Armauer Hansen, yang berhasil mengidentifikasi bakteri penyebabnya pada tahun 1873. Memahami penyakit ini adalah kunci untuk menghilangkan stigma dan mencapai eliminasi.
Apa Itu Lepra (Morbus Hansen)?
Lepra adalah penyakit granulomatosa yang terutama menyerang kulit, saraf perifer, selaput lendir saluran pernapasan atas, dan mata. Bakteri M. leprae memiliki masa inkubasi yang sangat panjang (rata-rata 5 tahun), dan dapat bermanifestasi dalam spektrum klinis yang luas, tergantung pada respons imun seluler penderitanya.
Klasifikasi Spektrum Lepra: Sistem Ridley-Jopling
Kusta tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah spektrum penyakit. Klasifikasi Ridley-Jopling membaginya berdasarkan gambaran klinis, histopatologi, dan imunologi:
- Tuberkuloid (TT): Bentuk paucibacillary (sedikit bakteri). Respons imun penderita kuat, sehingga lesi sedikit, asimetris, dengan tepi menonjol dan bagian tengah hipopigmentasi/kering. Kerusakan saraf terjadi lebih dini. Bakteri sulit ditemukan.
- Borderline Tuberkuloid (BT): Mirip TT tetapi lesi lebih banyak dan lebih kecil.
- Borderline (BB): Bentuk intermediate. Lesi bervariasi (plak, papul) dengan distribusi relatif simetris.
- Borderline Lepromatous (BL): Cenderung ke bentuk multibasiler.
- Lepromatous (LL): Bentuk multibacillary (banyak bakteri). Respons imun lemah, sehingga bakteri berkembang biak banyak. Lesi banyak, simetris, berupa makula, papul, nodul, atau infiltrat difus (wajah seperti singa/ facies leonina). Dapat mengenai hidung, mata, testis, dan organ dalam.
Gejala dan Tanda Klinis Utama
Gejala sangat bervariasi, tetapi yang khas adalah:
- Lesi kulit: Bercak hipopigmentasi (lebih pucat) atau kemerahan yang mati rasa terhadap rasa sentuh, panas, atau sakit.
- Gangguan saraf: Mati rasa (anestesi) di tangan/kaki, kelemahan otot (misal: tangan menjuntai/ wrist drop, foot drop), pembesaran saraf (biasanya saraf ulnaris, aurikularis magna, peroneal).
- Komplikasi: Luka/ulkus di area yang mati rasa, penipisan jari (resorpsi tulang), buta, dan deformitas.
Diagnosis Lepra di Laboratorium
Diagnosis ditegakkan secara klinis, tetapi pemeriksaan penunjang laboratorium sangat penting:
- Pemeriksaan BTA (Bakteri Tahan Asam): Mengambil sediaan kerokan kulit (slit skin smear) dari beberapa tempat (cuping telinga, lesi aktif). Bakteri M. leprae akan tampak sebagai batang merah di bawah mikroskop setelah diwarnai Ziehl-Neelsen. Indeks Bakteri (BI) menentukan kepadatan bakteri.
- Uji Lepromin (Mitsuda): Tes kulit untuk menilai respons imun seluler, membantu klasifikasi tetapi tidak untuk diagnosis.
- Biopsi Kulit: Untuk pemeriksaan histopatologi, melihat gambaran granuloma dan keberadaan bakteri di jaringan.
Penatalaksanaan: Multi-Drug Therapy (MDT)
Kunci pengobatan adalah Multi-Drug Therapy (MDT) sesuai rekomendasi WHO untuk mencegah resistensi:
- Kusta Paucibacillary (PB): Rifampisin + Dapson selama 6 bulan.
- Kusta Multibacillary (MB): Rifampisin + Dapson + Klofazimin selama 12 bulan. Pengobatan harus tuntas dan diawasi langsung (DOT). Selain MDT, penanganan juga mencakup pencegahan dan penanganan disabilitas, edukasi perawatan diri, serta terapi rekonstruksi untuk deformitas.
Pencegahan dan Pentingnya Deteksi Dini
Pencegahan terbaik adalah deteksi dini dan pengobatan tepat untuk memutus rantai penularan. Meski penularannya tidak mudah (memerlukan kontak erat dan lama), penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak ada lagi stigma yang membuat penderita takut berobat.
Kesimpulan
Lepra (Morbus Hansen) adalah penyakit yang dapat disembuhkan. Dengan pemahaman yang baik tentang spektrum klinisnya, diagnosis yang tepat (klinis dan laboratorium), serta komitmen untuk menyelesaikan terapi MDT, beban penyakit dan disabilitas yang ditimbulkannya dapat dicegah. Eliminasi kusta bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran serta seluruh masyarakat untuk mendukung penderita agar segera berobat dan hidup bermartabat.
Dukung upaya edukasi kesehatan masyarakat dengan mengikuti informasi terkini seputar penyakit tropis dan laboratorium di media sosial kami: Telegram, Facebook, dan Twitter/X. Kontribusi Anda sangat berarti melalui Donasi via DANA.
Post a Comment