Stop! Jangan Hanya Salahkan Purin Sebagai Penyebab Asam Urat. Faktor Lain Ini Sering Terlupakan.

Table of Contents

Stop! Jangan Hanya Salahkan Purin Sebagai Penyebab Asam Urat. Faktor Lain Ini Sering Terlupakan.


INFOLABMED.COM - Selama ini, anggapan umum menyebut purin sebagai penyebab asam urat tunggal dan utama. Nasihat "jangan makan jeroan, seafood, atau daging merah" sudah sangat akrab di telinga penderita hiperurisemia. 

Namun, apakah dengan hanya membatasi asupan purin, kadar asam urat akan otomatis turun dan terkontrol? Faktanya, tidak selalu. Banyak kasus dimana orang yang sudah sangat ketat dengan diet rendah purin masih mengalami serangan gout atau kadar asam urat yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa ada "aktor lain" di balik peningkatan asam urat yang sering terlupakan.

Memahami Prosesnya: Dari Purin Menjadi Asam Urat 

Memang benar, purin (senyawa yang ditemukan dalam sel tubuh dan beberapa makanan) akan dimetabolisme menjadi asam urat. Namun, tubuh kita sebenarnya sudah memproduksi purin secara alami. Masalah utama terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara produksi dan pembuangan asam urat. Ginjal yang sehat seharusnya membuang kelebihan asam urat melalui urine. Jika proses pembuangan ini terganggu atau produksinya berlebihan, barulah asam urat menumpuk dalam darah.

Faktor Penyebab Asam Urat Tinggi Selain Asupan Purin:

  1. Gangguan Fungsi Ginjal: Ini adalah faktor paling krusial yang terabaikan. Ginjal adalah "pintu keluar" utama asam urat. Kondisi seperti penyakit ginjal kronis, dehidrasi berat, atau konsumsi obat-obat tertentu (seperti diuretik/obat darah tinggi tertentu) dapat mengganggu ekskresi asam urat, sehingga kadarnya melonjak meskipun asupan purin sedikit.
  2. Fruktosa Berlebih: Konsumsi gula tambahan, terutama fruktosa (dalam minuman kemasan, soda, sirup jagung, dan makanan olahan), ternyata menjadi pemicu signifikan. Fruktosa meningkatkan pemecahan purin dalam sel dan menghambat pembuangan asam urat oleh ginjal. Ini menjelaskan mengapa asam urat kini banyak menyerang usia muda yang gemar minuman manis.
  3. Obesitas dan Sindrom Metabolik: Jaringan lemak (terutama lemak visceral) memproduksi senyawa yang menginduksi peradangan dan dapat mengurangi kemampuan ginjal untuk membuang asam urat. Orang dengan obesitas, tekanan darah tinggi, dan resistensi insulin (sindrom metabolik) memiliki risiko asam urat yang jauh lebih tinggi.
  4. Faktor Genetik: Beberapa orang mewarisi gen yang membuat tubuhnya cenderung memproduksi terlalu banyak asam urat atau mengeluarkannya lebih sedikit. Ini faktor bawaan yang tidak bisa diubah, sehingga membutuhkan manajemen yang lebih ketat.
  5. Kondisi Medis Lain dan Obat-obatan: Penyakit seperti psoriasis (yang menyebabkan pergantian sel kulit sangat cepat), hipotiroidisme, dan beberapa jenis kanker dapat meningkatkan produksi asam urat. Obat seperti aspirin dosis rendah dan beberapa obat imunosupresan juga dapat meningkatkan kadarnya.

Dapatkan informasi kesehatan laboratorium yang terpercaya dan mudah dipahami. Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui TelegramFacebook, dan Twitter/X. Dukung kami dalam menyediakan konten edukasi kesehatan gratis dengan memberikan Donasi via DANA. Terima kasih atas dukungannya.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment