CLIA vs ECLIA: Perbedaan Teknologi Immunoassay untuk Diagnosis yang Lebih Akurat

Table of Contents

 

CLIA vs ECLIA: Perbedaan Teknologi Immunoassay untuk Diagnosis yang Lebih Akurat

INFOLABMED.COM - Dalam diagnostik laboratorium modern, terutama untuk mengukur kadar hormon, penanda tumor, dan penyakit infeksi dengan akurasi tinggi, teknologi immunoassay berkembang pesat. 

Dua metode canggih yang sering dibandingkan adalah CLIA (Chemiluminescence Immunoassay) dan ECLIA (Electrochemiluminescence Immunoassay)

Baca Juga: Anti HAV Total: Penanda Lengkap untuk Deteksi Kekebalan dan Infeksi Hepatitis A

Meski keduanya sama-sama menghasilkan sinyal cahaya untuk pengukuran, prinsip dasar dan performanya memiliki perbedaan signifikan.

Apa Itu CLIA (Chemiluminescence Immunoassay)?

CLIA adalah metode imunokimia yang mendeteksi analit (zat yang diukur) dengan menggunakan reaksi kimia untuk menghasilkan emisi cahaya (luminesensi). 

Prinsip kerjanya melibatkan antibodi yang dilabeli dengan zat pemicu chemiluminescence (contoh: isoluminol, akridinium ester).

Cara Kerja CLIA:

  1. Reaksi Imun: Antibodi berlabel (konjugat) akan berikatan spesifik dengan antigen target dalam sampel.
  2. Reaksi Kimia Pemicu Cahaya: Setelah ikatan imun terbentuk, ditambahkan reagen kimia (misalnya, peroksida dan katalis) untuk memicu reaksi pada label.
  3. Emisi Cahaya: Reaksi kimia ini menghasilkan pancaran cahaya (foton) dengan intensitas tertentu.
  4. Pengukuran: Intensitas cahaya yang dihasilkan diukur oleh alat pembaca (luminometer). Semakin tinggi intensitas cahaya, semakin tinggi konsentrasi analit dalam sampel.

Karakteristik CLIA:

  • Sumber Sinyal: Reaksi kimia murni.
  • Sensitivitas: Sangat tinggi, lebih baik daripada ELISA.
  • Kelebihan: Rentang deteksi linear yang luas, waktu reaksi cepat, stabilitas reagen yang baik.

Apa Itu ECLIA (Electrochemiluminescence Immunoassay)?

ECLIA merupakan pengembangan lebih lanjut dari CLIA yang menggabungkan prinsip elektrokimia dan chemiluminescence. 

Metode ini menggunakan label Ruthenium (II) tris-bipyridyl, yang unik karena dapat mengalami reaksi luminesensi berulang-ulang.

Cara Kerja ECLIA:

  1. Reaksi Imun pada Elektroda: Kompleks imun (antibodi berlabel Ru(bpy)3²⁺ + antigen target) terikat pada permukaan elektroda kerja.
  2. Aplikasi Voltase Listrik: Saat diberikan voltase tertentu ke elektroda, terjadi reaksi redoks. Label Ruthenium dan reagen co-reactant (Tripropylamine - TPA) dioksidasi di permukaan elektroda.
  3. Emisi Cahaya Elektrokimia: Reaksi redoks ini menghasilkan pancaran cahaya. Kunci utamanya adalah, proses ini dapat diulang dengan memberikan siklus voltase, sehingga setiap molekul label dapat memancarkan banyak foton.
  4. Pengukuran: Intensitas cahaya diukur oleh fotodetektor. Proses siklus ini mengamplifikasi sinyal.

Karakteristik ECLIA:

  • Sumber Sinyal: Gabungan reaksi elektrokimia dan kimia.
  • Sensitivitas: Lebih tinggi lagi daripada CLIA, karena fenomena amplifikasi sinyal dari siklus elektrokimia.
  • Kelebihan: Sensitivitas dan spesifisitas ekstrem, rentang deteksi yang sangat luas (hingga >6 log), mengurangi efek interferensi matriks sampel karena reaksi terjadi di permukaan elektroda.

Tabel Perbandingan CLIA vs ECLIA

AspekCLIA (Chemiluminescence Immunoassay)ECLIA (Electrochemiluminescence Immunoassay)
Prinsip DasarChemiluminescence murni (reaksi kimia penghasil cahaya).Electrochemiluminescence (reaksi cahaya yang dipicu oleh stimulasi listrik).
Label yang DigunakanAkridinium ester, isoluminol, dll.Ruthenium kompleks [Ru(bpy)3²⁺].
Proses Pemicu SinyalPenambahan reagen kimia pemicu (H₂O₂ + katalis).Pemberian voltase listrik pada elektroda.
Amplifikasi SinyalSatu molekul label menghasilkan satu kali pancaran cahaya.Satu molekul label dapat memancarkan cahaya berulang kali dalam siklus voltase, mengamplifikasi sinyal.
SensitivitasSangat Tinggi.Lebih Tinggi (Superior).
Rentang PengukuranLuas.Sangat Luas (Lebih Ekstensif).
ReproduktibilitasBaik.Sangat Baik (karena kontrol ketat oleh sistem elektroda).
Efek InterferensiDapat dipengaruhi oleh interferen dalam sampel.Lebih rendah karena reaksi spesifik di permukaan elektroda.
OtomatisasiDapat diotomatisasi sepenuhnya.Dapat diotomatisasi sepenuhnya (contoh platform: Roche Cobas e analyzers).
Pertanyaan "CLIA vs ECLIA, mana yang lebih unggul?" memiliki jawaban kontekstual.
  • ECLIA secara teknologi lebih maju dengan menawarkan sensitivitas, stabilitas, dan rentang dinamis yang lebih tinggi. Ini membuatnya sangat ideal untuk mengukur analit dengan konsentrasi sangat rendah (seperti TSH, Troponin, penanda tumor) atau yang memerlukan ketelitian ekstra.
  • CLIA tetap merupakan teknologi yang sangat andal, akurat, dan lebih terjangkau secara biaya instrumentasi dan operasional. Banyak laboratorium yang masih sangat bergantung pada CLIA dengan hasil yang sangat memuaskan.

Baca Juga: Anti BHC Total: Pemeriksaan Serologis untuk Deteksi Infeksi Hepatitis B Komprehensif

Pemilihan metode di laboratorium tergantung pada berbagai faktor: jenis analit, volume tes, anggaran, dan platform alat yang tersedia. 

Yang pasti, keduanya merupakan lompatan besar dari metode generasi sebelumnya (seperti ELISA) dan memberikan keandalan tinggi untuk diagnosis dan pemantauan penyakit.


Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram Link, Facebook Link, Twitter/X Link. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA Link.


Fitri Aisyah
Fitri Aisyah Selamat datang di my blog! Blog ini membahas dunia laboratorium medik dengan cara yang mudah dipahami. Dari teknik pemeriksaan, interpretasi hasil laboratorium, hingga tips seputar kesehatan, semuanya dikemas simpel, jelas, dan berbasis bukti ilmiah. Yuk, eksplorasi ilmu laboratorium bersama! 🔬🚀

Post a Comment