LED vs CRP: Mana yang Lebih Cepat Mendeteksi Peradangan? Ini Perbedaan dan Fungsinya
INFOLABMED.COM - Dalam dunia medis, ketika dokter mencurigai adanya peradangan, infeksi, atau penyakit kronis, dua pemeriksaan laboratorium yang sering diminta adalah LED (Laju Endap Darah) dan CRP (C-Reactive Protein).
Meskipun sama-sama dikenal sebagai "penanda inflamasi", keduanya memiliki prinsip, karakteristik, dan kegunaan yang berbeda.
Baca Juga: ESR Tinggi: Penyebab, Gejala, dan Cara Menurunkan Laju Endap Darah
Memahami perbedaan LED dan CRP sangat penting untuk interpretasi hasil yang akurat.
Pengertian Dasar: Apa Itu LED dan CRP?
LED (Laju Endap Darah) atau ESR (Erythrocyte Sedimentation Rate): Adalah tes yang mengukur kecepatan sel darah merah mengendap di dasar tabung khusus dalam waktu satu jam. Peradangan menyebabkan peningkatan protein tertentu (seperti fibrinogen) dalam darah, yang membuat sel darah merah lebih mudah menggumpal dan lebih cepat mengendap. LED adalah tes tidak spesifik dan lebih lambat.
CRP (C-Reactive Protein): Adalah protein yang diproduksi oleh hati dan dikeluarkan langsung ke dalam aliran darah sebagai respons terhadap peradangan akut, terutama yang disebabkan oleh infeksi bakteri atau kerusakan jaringan. CRP adalah penanda yang lebih spesifik dan sangat cepat bereaksi.
Tabel Perbedaan Utama LED dan CRP
| Aspek | LED (Laju Endap Darah) | CRP (C-Reactive Protein) |
|---|---|---|
| Prinsip Tes | Mengukur kecepatan pengendapan sel darah merah. | Mengukur kadar protein C-reaktif dalam plasma. |
| Kecepatan Respons | Lambat (Delay). Meningkat dalam beberapa hari setelah onset peradangan dan turun perlahan setelah sembuh (minggu). | Sangat Cepat (Rapid). Meningkat dalam 4-6 jam, puncak dalam 24-48 jam, dan turun cepat setelah peradangan terkendali (hari). |
| Spesifisitas | Rendah. Dapat meningkat karena banyak kondisi non-inflamasi (anemia, kehamilan, usia lanjut, penyakit ginjal). | Lebih Tinggi. Peningkatan signifikan umumnya terkait langsung dengan proses inflamasi/infeksi akut. |
| Penyebab Peningkatan | Infeksi akut/kronis, penyakit autoimun (Lupus, Rheumatoid Arthritis), kanker, kehamilan, anemia, usia tua. | Infeksi bakteri akut, luka bakar, trauma, serangan jantung, pankreatitis akut, penyakit inflamasi aktif. |
| Penyebab Penurunan | Polisitemia, sel sabit, gagal jantung kongestif. | Tidak ada kondisi yang secara langsung menurunkan CRP secara spesifik. Kadar normal berarti tidak ada inflamasi akut. |
| Kegunaan Klinis Utama | Memantau penyakit kronis dan inflamasi sistemik (misal: artritis, vaskulitis). Kurang akurat untuk infeksi akut. | Mendeteksi dan memantau infeksi/inflamasi akut, menilai respons terapi antibiotik, menilai risiko kardiovaskular (hs-CRP). |
| Pengaruh Faktor Lain | Sangat dipengaruhi usia, jenis kelamin, dan kadar hemoglobin (anemia). | Relatif tidak dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, atau anemia. |
Kapan LED Lebih Baik Digunakan?
Pemeriksaan LED lebih berperan dalam konteks penyakit kronis:
- Diagnosis dan Pemantauan Penyakit Autoimun: Seperti Rheumatoid Arthritis, Giant Cell Arteritis, atau Lupus Erythematosus Sistemik. Peningkatan LED sering berkorelasi dengan aktivitas penyakit.
- Mendeteksi Penyakit Inflamasi Sistemik: Seperti polimialgia reumatika.
- Skrining Awal untuk Keluhan yang Tidak Spesifik, seperti fatigue atau demam yang berkepanjangan.
Kapan CRP Lebih Unggul Digunakan?
Pemeriksaan CRP adalah pilihan utama untuk kondisi akut:
- Membedakan Infeksi Bakteri vs. Virus: Peningkatan CRP yang signifikan (>50-100 mg/L) sangat mengarah ke infeksi bakteri. Pada infeksi virus, CRP biasanya normal atau sedikit meningkat.
- Memantau Keberhasilan Terapi: Misalnya pada pengobatan pneumonia atau sepsis. Penurunan CRP yang cepat menunjukkan respons yang baik terhadap antibiotik.
- Menilai Peradangan Akut Pasca Operasi, Trauma, atau Luka Bakar.
- hs-CRP (High-Sensitivity CRP): Varian tes dengan sensitivitas lebih tinggi, digunakan untuk menilai risiko penyakit kardiovaskular (serangan jantung, stroke) dengan mengukur tingkat peradangan pembuluh darah yang sangat rendah.
Dalam praktik klinis, LED dan CRP sering kali dilengkapi bersama, bukan dipertentangkan.
Baca Juga: HS-CRP Adalah: Penanda Radang Sensitif untuk Deteksi Dini Risiko Jantung & Peradangan Kronis
- LED + CRP meningkat: Menguatkan adanya proses inflamasi/infeksi.
- LED meningkat, CRP normal: Mungkin mengarah ke kondisi kronis, anemia, atau faktor non-inflamasi lain.
- LED normal, CRP meningkat: Sangat konsisten dengan infeksi/inflamasi akut yang baru terjadi.
Dokter akan memilih dan menginterpretasi tes berdasarkan gambaran klinis pasien. CRP adalah "sirene" yang cepat dan lebih spesifik untuk bahaya akut, sedangkan LED lebih seperti "alarm yang terus menyala" untuk mengawasi kondisi peradangan yang berlarut-larut.
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram Link, Facebook Link, Twitter/X Link. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA Link.

Post a Comment