Penanganan Feses: Protokol Aman dari Pengambilan Sampel hingga Pembuangan di Laboratorium
INFOLABMED.COM - Penanganan feses atau tinja sebagai spesimen medis memerlukan protokol yang ketat dan hati-hati.
Proses ini tidak hanya menentukan akurasi hasil pemeriksaan laboratorium (seperti analisis parasit, biakan bakteri, atau tes darah samar) tetapi juga sangat vital untuk mencegah infeksi silang dan melindungi petugas kesehatan dari paparan patogen berbahaya.
Artikel ini akan membahas protokol standar penanganan feses dalam konteks laboratorium medis, yang terdiri dari beberapa tahapan penting.
1. Tahap Persiapan dan Pengambilan Sampel (Pre-Analitik)
Kualitas hasil diawali dari pengambilan sampel yang benar.
- Alat Steril: Gunakan wadah steril yang bertutup rapat (pot feses) yang disediakan laboratorium. Jangan gunakan wadah bekas.
- Teknik Pengambilan: Ambil sampel dari beberapa bagian feses yang tampak abnormal (berlendir, berdarah) menggunakan spatula yang tersedia. Kebutuhan volume biasanya sebesar kacang kenari.
- Hindari Kontaminasi: Feses tidak boleh tercampur urine, air, atau darah haid. Untuk bayi, gunakan kolektor spesial yang diletakkan di popok.
- Labeling: Segera tulis nama lengkap, tanggal, dan waktu pengambilan pada wadah.
2. Tahap Transport ke Laboratorium
Sampel feses harus segera dikirim ke laboratorium.
- "Rule of 60": Idealnya, sampel tiba di lab dalam waktu 60 menit setelah pengeluaran. Jika pemeriksaan untuk parasit, semakin cepat semakin baik.
- Jika Terlambat: Untuk beberapa pemeriksaan tertentu, sampel dapat disimpan di lemari pendingin (2-8°C) untuk maksimal 24 jam. Namun, ini dapat mematikan trophozoit parasit. Konsultasikan dengan lab.
- Transport Media: Untuk pemeriksaan biakan bakteri tertentu (seperti Salmonella atau Shigella), sampel mungkin perlu dimasukkan ke dalam media transport khusus (seperti Cary-Blair) untuk menjaga viabilitas bakteri.
3. Tahap Pemeriksaan di Laboratorium (Analitik)
Di laboratorium, penanganan feses dilakukan dengan standar keamanan biologi (biosafety level 2).
- Ruang Biosafety Cabinet (BSC): Semua proses pembukaan wadah, pencampuran, dan pembuatan sediaan apus dilakukan di dalam BSC untuk melindungi petugas dari aerosol.
- Alat Pelindung Diri (APD): Petugas wajib menggunakan jas laboratorium, sarung tangan sekali pakai, dan masker.
- Pemeriksaan Makroskopis: Dilakukan pertama kali untuk mencatat konsistensi, warna, ada tidaknya darah, lendir, atau parasit besar.
- Pemeriksaan Mikroskopis & Biakan: Dilakukan sesuai permintaan dokter. Sisa sampel yang tidak digunakan disimpan di lemari pendingin untuk waktu tertentu.
4. Tahap Pembuangan Sampel (Pasca-Analitik)
Ini adalah tahap kritis untuk mencegah penyebaran infeksi.
- Dekontaminasi: Semua sisa sampel feses, alat sekali pakai (spatula, slide), dan sarung tangan harus dibuang ke dalam kantong biohazard (kantong plastik kuning) khusus limbah infeksius.
- Sterilisasi: Wadah feses yang dapat digunakan kembali (jika ada) harus melalui proses autoklaf (sterilisasi dengan uap panas bertekanan) sebelum dicuci.
- Disinfeksi: Meja kerja di dalam BSC dan permukaan yang berpotensi terkontaminasi dibersihkan dengan desinfektan yang sesuai (seperti larutan hipoklorit).
Prinsip Utama: Setiap Sampel adalah Potensi Infeksi
Patogen seperti E. coli patogen, Salmonella typhi, Shigella, virus Hepatitis A, dan telur cacing dapat dengan mudah menular melalui penanganan feses yang salah. Oleh karena itu, prinsip universal precaution (kewaspadaan universal) harus diterapkan, dengan menganggap setiap spesimen feses berpotensi menularkan penyakit.
Dengan menerapkan protokol penanganan feses yang aman dan benar, akurasi diagnosis dapat ditingkatkan dan rantai penularan penyakit fecal-oral dapat diputus, baik di lingkungan laboratorium maupun rumah sakit.
Temukan artikel informatif lainnya seputar prosedur laboratorium dan interpretasi hasil hanya di Infolabmed.com. Ikuti kami di Telegram di sini, Facebook di sini, dan Twitter/X di sini. Dukung riset dan edukasi medis kami dengan memberikan donasi via DANA.
Post a Comment