Mengenal Uji Biokimia dalam Mikrobiologi: Cara Pintar Mengidentifikasi Bakteri
INFOLABMED.COM - Dalam dunia mikrobiologi klinis, mengidentifikasi bakteri yang diisolasi dari spesimen pasien adalah langkah kritis untuk menentukan diagnosis dan terapi yang tepat. Salah satu pilar utama identifikasi ini adalah Uji Biokimia.
Metode ini memanfaatkan "sidik jari" metabolik yang unik dari setiap spesies bakteri, memungkinkan kita membedakan satu bakteri dengan bakteri lainnya berdasarkan reaksi kimia yang mereka hasilkan.
Apa Itu Uji Biokimia dalam Mikrobiologi?
Uji biokimia adalah serangkaian tes yang dirancang untuk menguji kemampuan metabolik dan enzimatik suatu bakteri. Prinsip dasarnya sederhana: bakteri yang berbeda memiliki enzim yang berbeda, sehingga mereka akan memetabolisme substrat (bahan makanan) tertentu dengan cara yang berbeda, menghasilkan produk akhir yang dapat diamati, seperti perubahan warna, pembentukan gas, atau produksi asam.
Dengan menganalisis profil reaksi biokimia dari suatu isolat bakteri yang tidak diketahui, mikrobiolog dapat mencocokkannya dengan profil bakteri yang sudah dikenal, sehingga mencapai identifikasi yang akurat.
Uji Biokimia Utama yang Paling Sering Digunakan
Berikut adalah beberapa uji biokimia klasik dan fundamental yang menjadi tulang punggung identifikasi bakteri di laboratorium mikrobiologi.
1. Uji Katalase
- Prinsip: Mengidentifikasi bakteri yang menghasilkan enzim katalase. Enzim ini mengurai hidrogen peroksida (H₂O₂) yang bersifat toksik menjadi air (H₂O) dan gelembung oksigen (O₂).
- Cara: Sejumlah kecil koloni bakteri dicampur dengan setetes larutan H₂O₂ 3%.
- Hasil Positif: Terbentuknya gelembung gas dengan cepat (contoh: Staphylococcus).
- Hasil Negatif: Tidak ada gelembung (contoh: Streptococcus).
- Kegunaan: Dasar untuk membedakan antara genus Staphylococcus dan Streptococcus.
2. Uji Oksidase
- Prinsip: Mendeteksi adanya enzim sitokrom c oksidase, yang berperan dalam rantai transpor elektron.
- Cara: Koloni bakteri diusap dengan kertas saring yang telah dibasahi reagen tetramethyl-p-phenylenediamine.
- Hasil Positif: Warna biru keunguan muncul dalam 10-30 detik (contoh: Pseudomonas aeruginosa, Neisseria).
- Hasil Negatif: Tidak ada perubahan warna (contoh: Enterobacteriaceae).
- Kegunaan: Membantu mengidentifikasi bakteri Gram-negatif.
3. Uji Fermentasi Karbohidrat (Media MIO, TSI, atau LDF)
- Prinsip: Mengamati kemampuan bakteri untuk memfermentasi gula tertentu (seperti glukosa, laktosa, manitol) dengan menghasilkan asam dan/atau gas.
- Media: Menggunakan media yang mengandung gula tertentu dan indikator pH.
- Hasil:
- Fermentasi Asam: Media berubah warna kuning (karena penurunan pH).
- Fermentasi Asam dan Gas: Media kuning disertai gelembung atau pecahnya media agar di dasar tabung.
- Tidak Fermentasi: Tidak ada perubahan warna (merah/oranye).
- Kegunaan: Diferensiasi utama dalam keluarga Enterobacteriaceae (contoh: E. coli fermentasi laktosa, Salmonella tidak).
4. Uji IMViC (Seri Indol, Methyl Red, Voges-Proskauer, Citrat)
Seri IMViC adalah kombinasi empat uji yang sangat penting untuk membedakan bakteri dalam kelompok Enterobacteriaceae, terutama antara E. coli dan Enterobacter/Klebsiella.
- Indol: Mendeteksi produksi indol dari pemecahan asam amino triptofan. Positif: cincin merah setelah penambahan reagen Kovac's (E. coli positif).
- Methyl Red (MR): Menguji produksi asam campuran dalam jumlah besar dari fermentasi glukosa. Positif: warna merah setelah penambahan metil merah (E. coli positif).
- Voges-Proskauer (VP): Menguji produksi prekursor netral, asetoin, dari fermentasi glukosa. Positif: warna merah muda setelah penambahan reagen Barritt's (Klebsiella positif).
- Citrat: Menguji kemampuan menggunakan sitrat sebagai satu-satunya sumber karbon. Positif: media berubah dari hijau menjadi biru (Klebsiella positif).
Profil IMViC untuk E. coli adalah ++-- (Indol+, MR+, VP-, Citrat-), sedangkan Klebsiella cenderung --++.
5. Uji Urease
- Prinsip: Mendeteksi enzim urease yang mengurai urea menjadi amonia dan CO₂, yang menyebabkan peningkatan pH.
- Media: Media urea cair atau padat.
- Hasil Positif: Perubahan warna media menjadi merah muda terang atau merah (karena pH basa). Contoh: Helicobacter pylori, Proteus.
- Kegunaan: Identifikasi cepat untuk bakteri penghasil urease.
Perkembangan Modern: Sistem Identifikasi Terotomasi
Meskipun uji-uji manual di atas masih sangat relevan, banyak laboratorium modern kini menggunakan sistem terotomasi yang berbasis kartu atau panel mikro yang berisi puluhan uji biokimia sekaligus. Sistem ini lebih cepat, akurat, dan terkomputerisasi, tetapi prinsip dasarnya tetaplah sama: mengamati reaksi metabolik bakteri untuk membedakan identitasnya.
Kesimpulan
Uji biokimia dalam mikrobiologi tetap menjadi fondasi yang kokoh dalam identifikasi bakteri. Metode ini adalah bukti bahwa dengan memahami "kebiasaan makan" dan metabolisme mikroba, kita dapat mengungkap jati diri mereka, yang pada akhirnya berkontribusi langsung pada penegakan diagnosis dan tata laksana penyakit infeksi yang lebih baik.
Dapatkan informasi terbaru seputar dunia laboratorium medis dengan mengikuti media sosial Infolabmed.com. Ikuti update kami di Telegram, Facebook, dan Twitter/X. Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat, dukung pengembangan website ini melalui Donasi via DANA. Kontribusi Anda sangat berarti untuk kemajuan pendidikan kesehatan.
Post a Comment