Pengawet Feses: Jenis, Fungsi, dan Pentingnya untuk Pemeriksaan Laboratorium yang Akurat
INFOLABMED.COM - Dalam pemeriksaan tinja, terutama untuk deteksi parasit usus, sampel yang segar adalah yang terbaik. Namun, seringkali terdapat jeda waktu antara pengambilan sampel dan pemeriksaan di laboratorium.
Di sinilah peran pengawet feses menjadi sangat krusial. Larutan ini berfungsi untuk mengawetkan sampel tinja sehingga morfologi parasit, telur, maupun kista tetap utuh dan dapat diidentifikasi dengan akurat, meskipun pemeriksaan dilakukan beberapa jam atau bahkan hari kemudian.
Apa Itu Pengawet Feses dan Mengapa Diperlukan?
Pengawet feses adalah larutan kimia khusus yang dicampur dengan sampel tinja untuk mencegah kerusakan sel, menghambat pertumbuhan bakteri, dan mempertahankan struktur parasit serta telurnya. Penggunaannya sangat penting karena:
- Menjaga Morfologi Parasit: Mencegah telur, kista, atau parasit dewasa mengalami lisis (pecah) atau deformasi, yang dapat menyulitkan identifikasi.
- Menghentikan Perkembangan Bakteri: Menghambat pertumbuhan bakteri pengurai yang dapat merusak sampel dan mengganggu pemeriksaan.
- Memperpanjang Masa Simpan: Memungkinkan sampel dikirim ke laboratorium yang letaknya jauh tanpa kehilangan nilai diagnostik.
- Meningkatkan Keamanan: Menginaktivasi patogen berbahaya, sehingga mengurangi risiko penularan bagi petugas laboratorium.
Jenis-Jenis Pengawet Feses dan Fungsinya
Berikut adalah beberapa jenis pengawet feses yang umum digunakan di laboratorium:
1. Larutan Sodium Acetate-Acetic Acid-Formalin (SAF)
Larutan SAF adalah salah satu pengawet feses yang paling populer dan serbaguna.
- Komposisi: Sodium asetat, asam asetat, dan formalin.
- Kelebihan:
- Dapat digunakan untuk pemeriksaan sediaan basah langsung dan metode konsentrasi (sedimentasi).
- Dapat juga untuk pewarnaan permanen (seperti trichrome).
- Tidak mengandung merkuri, sehingga lebih ramah lingkungan.
- Kekurangan: Hasil pewarnaan mungkin tidak sebaik menggunakan pengawet yang mengandung merkuri.
2. Larutan Merthiolate-Iodine-Formalin (MIF)
Larutan MIF adalah pengawet feses yang unik karena sekaligus berfungsi sebagai zat warna.
- Komposisi: Merthiolate (pengawet berbasis merkuri), yodium, dan formalin.
- Kelebihan:
- Langsung mewarnai sampel, sehingga kista dan trofozoit lebih mudah dilihat di sediaan basah.
- Sangat baik untuk mengawetkan trofozoit parasit yang rentan.
- Kekurangan: Mengandung merkuri yang beracun, sehingga penanganannya harus lebih hati-hati.
3. Larutan Formalin 5% atau 10%
Formalin adalah pengawet feses yang paling tradisional dan masih banyak digunakan.
- Komposisi: Formaldehid yang dilarutkan dalam air.
- Kelebihan:
- Sangat efektif mengawetkan telur dan kista parasit.
- Murah dan mudah didapat.
- Ideal untuk metode konsentrasi formalin-eter.
- Kekurangan:
- Tidak baik untuk mengawetkan trofozoit karena menyebabkan kontraksi dan distorsi.
- Uap formalin berbahaya jika terhirup.
4. Larutan Polyvinyl Alcohol (PVA)
PVA biasanya digunakan bersamaan dengan pengawet lain (seperti Schaudinn's fluid) dan berfungsi sebagai zat pembentuk film.
- Kelebihan: Sangat baik untuk membuat sediaan apus permanen yang diwarnai (contoh: trichrome), karena parasit menempel dengan baik pada kaca objek.
- Kekurangan: Hanya untuk pembuatan sediaan apus, tidak untuk sediaan basah atau konsentrasi.
Cara Penggunaan Pengawet Feses yang Tepat
Agar pengawet feses bekerja optimal, perhatikan hal berikut:
- Perbandingan yang Tepat: Ikuti petunjuk perbandingan volume tinja dan larutan pengawet (biasanya 1:3 atau 1 bagian tinja dengan 3 bagian pengawet).
- Pencampuran yang Merata: Campur sampel dan pengawet hingga homogen segera setelah pengambilan sampel untuk mencegah kerusakan.
- Pemilihan Pengawet yang Sesuai: Pilih pengawet berdasarkan jenis pemeriksaan yang diminta (apakah untuk sediaan basah, konsentrasi, atau pewarnaan permanen).
Pemilihan dan penggunaan pengawet feses yang tepat merupakan langkah pertama yang kritis dalam rantai diagnosis parasitologi. Kesalahan pada tahap ini dapat menyebabkan hasil negatif palsu, yang berujung pada diagnosis dan penanganan yang tidak tepat.
Dapatkan informasi kesehatan dan laboratorium terkini dengan mengikuti media sosial Infolabmed.com. Bergabunglah di channel Telegram, like halaman Facebook kami, dan ikuti update di Twitter/X. Jika artikel ini bermanfaat, dukung perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA.
Post a Comment