DIC adalah: Koagulasi Intravaskular Diseminata, Gangguan Pembekuan Darah yang Mengancam Nyawa

Table of Contents

DIC adalah: Koagulasi Intravaskular Diseminata, Gangguan Pembekuan Darah yang Mengancam Nyawa

INFOLABMED.COM - Dalam dunia medis, terutama di unit perawatan intensif, DIC adalah singkatan yang ditakuti karena menggambarkan suatu kondisi darurat yang mengancam nyawa. 

DIC adalah kepanjangan dari Disseminated Intravascular Coagulation, atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Koagulasi Intravaskular Diseminata (KID). Kondisi ini merupakan gangguan kompleks pada sistem pembekuan darah yang ditandai dengan dua fase yang tampak bertolak belakang: pembentukan gumpalan darah kecil di seluruh tubuh dan sekaligus perdarahan yang tidak terkendali.

Apa Itu DIC? Memahami Pengertian Dasar

DIC adalah suatu sindrom, bukan penyakit itu sendiri, yang dipicu oleh kondisi medis lain yang mendasarinya. Pada DIC adalah, mekanisme pembekuan darah dalam tubuh menjadi hiperaktif dan tidak terkendali. Hal ini menyebabkan:

  1. Pembentukan Mikrotrombus: Terbentuknya gumpalan-gumpalan darah (trombus) yang sangat kecil di dalam pembuluh darah di seluruh tubuh. Gumpalan ini dapat menyumbat aliran darah ke organ-organ vital seperti ginjal, otak, dan paru-paru, menyebabkan kerusakan organ.
  2. Konsumsi Faktor Pembekuan: Karena proses pembekuan yang masif tersebut, tubuh dengan cepat menggunakan hampir semua trombosit dan faktor pembekuan yang tersedia.
  3. Perdarahan: Akibat habisnya trombosit dan faktor pembekuan, darah tidak dapat membeku dengan normal. Ini menyebabkan pasien mengalami perdarahan spontan dari berbagai tempat, seperti di bawah kulit (memar, petekie), gusi, hidung (mimisan), saluran cerna, atau luka bekas operasi.

Penyebab Umum DIC

DIC adalah kondisi sekunder yang selalu dipicu oleh penyakit atau keadaan lain. Beberapa pemicu paling umum adalah:

  • Infeksi Berat (Sepsis): Penyebab tersering dari DIC adalah infeksi bakteri gram-negatif yang memasuki aliran darah.
  • Komplikasi Kebidanan: Seperti solusio plasenta (plasenta lepas sebelum waktunya), emboli cairan ketuban, atau pre-eklampsia berat.
  • Keganasan (Kanker): Kanker stadium lanjut, terutama leukemia promielositik akut, kanker pankreas, atau paru-paru.
  • Trauma Berat dan Luka Bakar Luas: Jaringan yang rusak parah dapat memicu reaksi pembekuan yang masif.
  • Pankreatitis Akut Nekrotikan.
  • Reaksi Transfusi Darah yang Parah.

Gejala dan Tanda Klinis DIC

Gejala DIC adalah sangat bervariasi, tergantung pada organ mana yang terkena dan apakah fase pembekuan atau perdarahan yang lebih dominan.

  • Gejala Akibat Mikrotrombus:
    • Gagal ginjal akut (berkurangnya produksi urine).
    • Gangguan pernapasan.
    • Kebingungan atau kejang.
    • Sianosis (kulit membiru) pada ujung jari kaki dan tangan.
  • Gejala Akibat Perdarahan:
    • Perdarahan dari berbagai tempat tanpa sebab yang jelas.
    • Bintik-bintik merah keunguan di kulit (petekie) yang tidak hilang saat ditekan.
    • Memar besar (ekimosis).
    • Darah dalam urine atau feses.

Diagnosis DIC di Laboratorium

Diagnosis DIC adalah ditegakkan berdasarkan kombinasi antara kecurigaan klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium yang khas:

  • Penurunan Jumlah Trombosit (Trombositopenia).
  • Pemanjangan Waktu Pembekuan: seperti PT (Prothrombin Time) dan aPTT (activated Partial Thromboplastin Time).
  • Peningkatan D-Dimer atau FDP (Fibrin Degradation Products): Ini adalah penanda kunci yang menunjukkan bahwa telah terjadi pemecahan gumpalan fibrin di dalam tubuh.
  • Penurunan Fibrinogen (pada tahap lanjut).

Penanganan DIC

Penanganan utama DIC adalah dengan mengobati penyebab yang mendasarinya (misalnya, memberikan antibiotik untuk sepsis). Sementara itu, terapi suportif dapat diberikan, seperti transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan berat atau transfusi plasma beku segar untuk mengganti faktor pembekuan. Dalam kasus tertentu dimana trombosis sangat dominan, heparin dosis rendah dapat dipertimbangkan.

Kesimpulannya, DIC adalah komplikasi serius yang membutuhkan penanganan cepat dan agresif di rumah sakit. Prognosisnya sangat bergantung pada keberhasilan mengatasi penyakit pemicunya.

Dapatkan informasi kesehatan dan laboratorium terkini dengan mengikuti media sosial Infolabmed.com. Bergabunglah di channel Telegram, like halaman Facebook kami, dan ikuti update di Twitter/X. Jika artikel ini bermanfaat, dukung perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment