Flower Cells atau Cloverleaf Cells: Penanda Khas HTLV-1 dalam Diagnosis Leukemia/Limfoma Sel T Dewasa
Table of Contents
INFOLABMED.COM – Flower cells atau cloverleaf cells merupakan sel limfosit abnormal berbentuk unik yang menjadi penanda khas infeksi virus HTLV-1 (Human T-lymphotropic virus type 1) dan perkembangan menjadi adult T-cell leukemia/lymphoma (ATLL).
Sel-sel ini mendapatkan nama dari penampakan morfologinya yang menyerupai bunga atau daun semanggi ketika diamati di bawah mikroskop.
Baca juga : Hematologi: Ilmu Kedokteran yang Mempelajari Mengenai Darah dan Kelaianan pada Darah
Apa Itu Flower Cells/Cloverleaf Cells?
Flower cells adalah:
- Sel limfosit T CD4+ yang terinfeksi HTLV-1
- Morfologi nukleus: multilobulated, berlekuk-lekuk dalam
- Bentuk khas: menyerupai bunga atau daun semanggi (3-5 lobus)
- Patognomonik untuk ATLL
- Ditemukan pertama kali oleh peneliti Jepang tahun 1977
Karakteristik Morfologi
1. Ciri-Ciri Nukleus
- Multilobulated (berbilobus banyak)
- Berbentuk cloverleaf (3-4 lobus seperti daun semanggi)
- Kromatin kasar dan menggumpal
- Nukleoli tidak jelas
2. Ciri-Ciri Sitoplasma
- Basofilik (biru gelap dengan pewarnaan Giemsa)
- Vakuola halus terkadang terlihat
- Borders tidak teratur
3. Distribusi
- Darah tepi: 1-10% dari total limfosit
- Sumsum tulang: infiltrasi patchy
- Kelenjar getah bening: infiltrasi difus
Mekanisme Pembentukan
1. Efek Viral HTLV-1
- Transkripsi reverse dan integrasi provirus
- Ekspresi protein Tax dan HBZ
- Gangguan regulasi siklus sel
- Hambatan apoptosis
2. Perubahan Sitokeratin
- Kelainan sitoskeleton
- Restrukturisasi nukleus
- Peningkatan fluiditas membran
Signifikansi Diagnostik
1. Untuk ATLL
- Sensitivitas: 90-95% pada fase akut
- Spesifisitas: hampir 100%
- Nilai prognostik: jumlah sel berkorelasi dengan burden tumor
2. Untuk Carrier HTLV-1
- <1% sel abnormal pada carrier asimtomatik
- Ditemukan secara insidental pada pemeriksaan rutin
Metode Identifikasi
1. Apus Darah Tepi
- Pewarnaan Wright-Giemsa
- Pembesaran 1000x dengan minyak imersi
- Sensitivitas: 70-80%
2. Flow Cytometry
- Immunophenotyping: CD4+, CD25+, CCR4+
- CD7-: loss of pan-T marker
- FoxP3+: regulatory T-cell phenotype
3. Molecular Testing
- PCR untuk HTLV-1 provirus
- Southern blot untuk integrasi klonal
- Viral load quantification
Diagnosis Banding
1. Sel Cerebriform (Mycosis Fungoides)
- Lobulasi lebih halus
- Tidak sebanyak flower cells
2. Sel Reed-Sternberg (Hodgkin Lymphoma)
- Binucleated atau multinucleated
- Nukleoli besar seperti mata burung hantu
3. Sel Sezary (Sezary Syndrome)
- Nukleus cerebriform
- Berbeda immunophenotype
Implikasi Klinis
1. Konfirmasi ATLL
- Fase akut: jumlah sel tinggi (>10%)
- Fase kronis: jumlah sel rendah (1-5%)
2. Monitoring Terapi
- Penurunan jumlah menunjukkan respons
- Peningkatan menunjukkan relapse
3. Skrining Keluarga
- Carrier detection pada keluarga pasien
- Konseling genetik
Pemeriksaan Penunjang
1. Serologi
- Anti-HTLV-1 antibody (ELISA/WB)
- Western blot untuk konfirmasi
2. Pencitraan
- CT scan untuk evaluasi limfadenopati
- PET-CT untuk staging
3. Histopatologi
- Biopsi kelenjar getah bening
- Immunohistochemistry untuk CD4/CD25
Tatalaksana
1. Untuk ATLL
- Kemoterapi intensif (VCAP-AMP-VECP)
- Terapi targeted (mogamulizumab)
- Transplantasi sel punca allogeneic
Baca juga : Pemeriksaan Hitung Jumlah Leukosit: Kunci Diagnosa Akurat Imun dan Infeksi
2. Untuk Carrier
- Monitoring hematologi tahunan
- Edukasi penularan (seksual, darah, ibu-anak)
Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui Telegram, Facebook, Twitter/X. Dukung pengembangan konten kesehatan via Donasi DANA.
.png)
Post a Comment