BSC Tipe 2 untuk BTA: Protokol Standar Emas dalam Pemeriksaan Darah Rutin

Table of Contents

BSC Tipe 2 untuk BTA: Protokol Standar Emas dalam Pemeriksaan Darah Rutin

INFOLABMED.COM - Dalam dunia laboratorium kesehatan, khususnya mikrobiologi, pemilihan alat yang tepat sangat menentukan akurasi hasil dan keselamatan petugas. Salah satu kombinasi kritis adalah penggunaan Biological Safety Cabinet (BSC) Tipe 2 untuk pemeriksaan BTA (Basil Tahan Asam). 

Pemeriksaan BTA, yang bertujuan mendeteksi bakteri Mycobacterium tuberculosis penyebab Tuberkulosis (TBC), mengharuskan tingkat keamanan biologis yang tinggi mengingat patogen tersebut dapat menyebar melalui udara (airborne). Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa BSC Tipe 2 menjadi pilihan standar untuk prosedur vital ini.

Baca juga : Alat Biosafety Cabinet (BSC): Pilar Keamanan dalam Laboratorium Biologi

Mengenal BSC Tipe 2 dan Prinsip Kerjanya

BSC Tipe 2 adalah lemari keselamatan biologis yang memberikan perlindungan ganda: bagi operator, lingkungan laboratorium, dan juga spesimen yang sedang dikerjakan. Prinsip kerjanya menggabungkan aliran udara HEPA (High-Efficiency Particulate Air) yang tersusun dalam pola tertentu.

Secara sederhana, cara kerjanya adalah:

  1. Inflow: Udara dari ruangan laboratorium dihisap ke dalam kabinet melalui bagian depan (openings).
  2. Downflow: Udara tersebut kemudian dicampur dengan udara bersih yang telah disaring oleh filter HEPA, dan dihembuskan secara vertikal ke bawah (laminar flow) ke atas area kerja. Ini melindungi spesimen dari kontaminasi.
  3. Exhaust: Sebagian udara di dalam kabinet kemudian dihisap dan disaring sekali lagi oleh filter HEPA kedua sebelum akhirnya dibuang kembali ke lingkungan laboratorium atau ke luar. Proses inilah yang melindungi operator dan lingkungan dari paparan aerosol berbahaya.

Mengapa BSC Tipe 2 Sangat Direkomendasikan untuk Pemeriksaan BTA?

Pemeriksaan BTA, terutama pada tahap pembuatan sediaan apus dahak, berisiko tinggi menciptakan aerosol yang mengandung basil. Jika terhirup, petugas laboratorium sangat rentan tertular. BSC Tipe 2 dirancang khusus untuk menangani agen biologis dengan risiko kelompok 2 dan 3, di mana Mycobacterium tuberculosis termasuk dalam risiko kelompok 3. Berikut keunggulannya:

  • Perlindungan Maksimal untuk Petugas: Filter HEPA pada exhaust menjamin bahwa partikel berbahaya, termasuk basil TBC, tertahan dan tidak terlepas ke ruang kerja operator.
  • Melindungi Spesimen: Aliran udara laminar downward flow menciptakan lingkungan kerja yang steril, sehingga mengurangi risiko kontaminasi silang pada spesimen pasien.
  • Sesuai dengan Protokol Keselamatan: Penggunaan BSC Tipe 2 untuk BTA telah menjadi standar internasional (seperti dari CDC dan WHO) dan diwajibkan oleh Permenkes RI tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Laboratorium.

Perbedaan Utama BSC Tipe 2 dengan Tipe 1

Penting untuk membedakan BSC Tipe 2 dengan pendahulunya, BSC Tipe 1.

  • BSC Tipe 1: Hanya melindungi operator dan lingkungan, tetapi TIDAK melindungi spesimen. Udara dari ruangan langsung mengalir di atas spesimen, sehingga berisiko menyebabkan kontaminasi. BSC Tipe 1 tidak lagi direkomendasikan untuk pekerjaan dengan kultur mikroorganisme.
  • BSC Tipe 2: Seperti yang telah dijelaskan, memberikan perlindungan tiga arah (operator, lingkungan, dan spesimen) berkat sistem downflow yang disaring HEPA. Inilah yang membuatnya jauh lebih unggul dan aman untuk pemeriksaan BTA.

Baca juga : Biosafety Levels: Tingkat Keamanan Biologis untuk Laboratorium dan Penanganan Mikroorganisme Berbahaya

Protokol Kerja yang Benar di Dalam BSC Tipe 2 untuk BTA

Memiliki alat yang tepat saja tidak cukup. Protokol operasional yang ketat harus diterapkan:

  1. Pastikan Sertifikasi: BSC Tipe 2 harus disertifikasi secara berkala (biasanya setiap tahun) untuk memastikan kinerja dan integritas filter HEPA.
  2. Panaskan Alat: Nyalakan BSC dan biarkan selama 15-30 menit sebelum digunakan untuk memastikan sirkulasi udara sudah stabil.
  3. Atur Posisi Bahan: Letakkan semua bahan dan alat yang diperlukan di dalam kabinet sebelum memulai pekerjaan. Hindari penumpukan yang dapat mengganggu aliran udara.
  4. Kerja dengan Aseptik: Lakukan semua teknik bekerja secara aseptik di dalam area kerja yang telah ditandai. Minimalkan pergerakan tangan yang cepat yang dapat mengacaukan aliran udara.
  5. Dekontaminasi: Setelah selesai, permukaan interior BSC harus didekontaminasi dengan disinfektan yang sesuai (misalnya larutan klorin).

Follow Media Sosial Infolabmed.com melalui chanel Telegram di sini, Facebook di sini, dan Twitter/X di sini. Berikan DONASI terbaikmu untuk perkembangan website infolabmed.com melalui Donasi via DANA.

Rachma Amalia Maharani
Rachma Amalia Maharani Halo saya lulusan Teknologi Laboratorium Medik yang memiliki ketertarikan besar pada dunia kesehatan dan laboratorium klinik. Berpengalaman dalam praktik laboratorium selama masa studi dan magang, terbiasa bekerja secara teliti, disiplin, dan bertanggung jawab. Saya juga aktif mengembangkan diri melalui pembelajaran mandiri. I am looking for opportunities to contribute further to the health industry to be able to apply the knowledge and interests that I have. Let's connect on Linkedin in my Portfolio https://rachma-mlt.framer.website/

Post a Comment