Memahami Konteks Manajemen Risiko di Laboratorium Klinis

Table of Contents

 

Memahami Konteks Manajemen Risiko di Laboratorium Klinis
Foto : Blog-qhse

INFOLABMED.COM - Dalam sebuah sistem manajemen kualitas, semua aspek operasional laboratorium, termasuk struktur organisasi, proses, dan prosedur, harus ditangani untuk menjamin kualitas. 

Namun, untuk mencapai sistem manajemen kualitas yang baik, diperlukan penerapan tindakan preventif guna mengurangi kesempatan terjadinya kesalahan yang signifikan. 

Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengevaluasi kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan kesalahan dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mendeteksi serta mencegah kesalahan sebelum menyebabkan kerugian pasien adalah melalui praktik manajemen risiko.

Menurut  International Organization for Standardization (ISO), risiko adalah 'efek ketidakpastian terhadap tujuan'. 

Dalam definisi ini, ketidakpastian mencakup peristiwa-peristiwa yang mungkin atau mungkin tidak terjadi, serta ketidakpastian yang disebabkan oleh keambiguan atau kurangnya informasi. 

Risiko merupakan kombinasi dari kemungkinan terjadinya suatu peristiwa berbahaya dan tingkat keparahan cedera atau kerugian.

Dulu, laboratorium klinis melakukan banyak aktivitas setiap hari untuk mengurangi risiko kesalahan, tetapi kebanyakan dilakukan secara reaktif. 

Namun, panduan baru telah diterbitkan untuk memperkenalkan prinsip-prinsip manajemen risiko ke laboratorium klinis, termasuk panduan dari International Organization for Standardization (ISO seperti ISO/TS 22367, ISO 22870, ISO 14791, serta panduan dari Clinical and Laboratory Standards Institute (CLSI) seperti EP18-A2, EP22-A, dan EP23-A.

Panduan-panduan ini meminjam konsep-konsep dari industri manufaktur dan mendorong laboratorium untuk mengembangkan rencana manajemen risiko yang mengatasi risiko-risiko khusus yang melekat pada masing-masing laboratorium setelah melakukan penilaian dan analisis risiko formal.

 Setelah risiko-risiko teridentifikasi, laboratorium harus menerapkan proses pengendalian dan terus-menerus memantau serta memodifikasinya untuk memastikan bahwa risiko tetap pada tingkat yang dapat diterima secara klinis, sehingga meminimalkan kemungkinan kesalahan dan menjamin keandalan hasil tes.

Manajemen risiko bukan lagi dianggap sebagai hal yang negatif; proses manajemen risiko menjadi alat untuk mengidentifikasi peluang-peluang perbaikan dan mencegah hasil-hasil negatif. 

Prinsip-prinsip manajemen risiko oleh karena itu harus dipertimbangkan sebagai bagian integral dari laboratorium dalam menjamin kualitas dan keamanan, sehingga mereka telah menjadi persyaratan aktual dari Organisasi Internasional untuk Standardisasi.

Standar ISO 15189:2012 termasuk klausa mengenai manajemen risiko. Teksnya berbunyi: "Laboratorium harus mengevaluasi dampak proses kerja dan kegagalan potensial terhadap hasil pemeriksaan karena pengaruhnya terhadap keselamatan pasien, dan harus memodifikasi proses untuk mengurangi atau menghilangkan risiko yang teridentifikasi dan mendokumentasikan keputusan dan tindakan yang diambil."***


Sumber :  Wong, W. 2018. Risk management in clinical laboratories ; Journal of Hong Kong Institute of Medical Laboratory Sciences Vol. 15 

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment