Manajemen Risiko dalam Laboratorium Klinis: Sebuah Alat Praktis

Table of Contents

 

Manajemen Risiko dalam Laboratorium Klinis: Sebuah Alat Praktis
Foto : Clinical laboratory

INFOLABMED.COM - Dalam dunia laboratorium klinis, keakuratan dan keandalan hasil uji sangatlah penting karena hasil tersebut memengaruhi diagnosis dan pengobatan pasien secara langsung.

 Meskipun banyak proses laboratorium yang sudah otomatis, risiko-risiko tetap ada dan jika tidak dikelola dengan baik, dapat mengakibatkan diagnosis yang salah, pengobatan yang tidak tepat, bahkan hingga kematian pasien.

 Oleh karena itu, manajemen risiko dalam laboratorium klinis menjadi sangat penting.

Hasil uji laboratorium memiliki peran penting dalam diagnosis dan pengobatan pasien. Seiring dengan kemajuan teknologi, banyak proses laboratorium yang mengalami otomatisasi. Namun, risiko-risiko masih tetap ada. 

Dalam sebuah laporan teknis, penekanan diberikan pada keselamatan pasien, yang harus diutamakan dalam manajemen risiko.

Manajemen Risiko dan Standar Internal

ISO 15189:2012 menekankan evaluasi risiko terhadap proses kerja laboratorium dan dampaknya terhadap keselamatan pasien. 

Risiko manajemen dalam laboratorium klinis meliputi lima langkah utama: identifikasi risiko, kuantifikasi, prioritisasi, mitigasi, dan surveilans.

Identifikasi Risiko

Langkah pertama dalam manajemen risiko adalah identifikasi risiko potensial. Dalam laboratorium klinis, terdapat tiga proses utama: pra-pemeriksaan, pemeriksaan, dan pasca-pemeriksaan. 

Risiko-risiko ini dapat diidentifikasi dengan mengevaluasi langkah-langkah dalam proses yang sudah ada. 

Sebuah alat praktis dikembangkan dengan mengevaluasi lima komponen utama proses laboratorium, yaitu Spesimen, Sistem Uji, Reagen, Lingkungan, dan Personel Pengujian.

Kuantifikasi Risiko

Setelah risiko diidentifikasi, langkah selanjutnya adalah mengukur risiko-risiko tersebut. Risiko-risiko ini dapat dikuantifikasi menggunakan alat FMEA (Failure Modes and Effects Analysis) dengan menghitung Risk Priority Number (RPN). 

RPN merupakan hasil perkalian dari tingkat keparahan (S), kemungkinan terjadinya (O), dan kemungkinan deteksi (D).

Prioritisasi Risiko

Prioritisasi risiko dilakukan untuk menentukan urutan tindakan yang akan diambil. Prioritas ini didasarkan pada sejumlah pertanyaan, seperti seberapa kritis risiko tersebut dalam mengganggu keselamatan pasien, seberapa dekat risiko tersebut dengan kejadian yang akan terjadi, dan seberapa besar dampaknya terhadap reputasi laboratorium.

Mitigasi Risiko

Langkah mitigasi risiko melibatkan perencanaan dan pengembangan metode untuk mengurangi risiko dan kesalahan yang mungkin terjadi.

 Strategi mitigasi risiko dalam setting kesehatan mencakup menghindari (avoid), mengendalikan (control), dan memantau (watch/monitor) risiko.

Surveilans Risiko

Surveilans risiko melibatkan serangkaian aktivitas jaminan kualitas yang dilakukan secara terjadwal untuk terus mengevaluasi efektivitas manajemen risiko yang telah dilakukan.

Manajemen risiko dalam laboratorium klinis merupakan langkah yang penting untuk memastikan keakuratan dan keselamatan pasien. 

Dengan menggunakan alat praktis yang telah dikembangkan, laboratorium dapat mengidentifikasi, mengukur, dan mengelola risiko dengan lebih efektif.***

Infolabmed
Infolabmed infolabmed.com merupakan kanal informasi tentang Teknologi Laboratorium Medik meliputi Materi Kuliah D3 dan D4, Informasi Seminar ATLM, Lowongan Kerja. Untuk dukung website infolabmed tetap aktif silahkan ikut berdonasi melalui DANA = 085862486502.

Post a Comment