Pengertian dan Prosedur Kerja Tes Tourniquet (Rumple-Leede Test)

 

Pengertian dan Prosedur Kerja Tes Tourniquet (Rumple-Leede Test)
Ilustrasi Pemeriksaan Rumple Leede (Tes Torniquet). (Foto : wsimg.com)

INFOLABMED.COM - Tes Tourniquet (Rumple-Leede Test) bukan hanya terkait dengan urusan infus, tetapi juga memiliki peran penting dalam pemeriksaan kemampuan pembekuan darah dan identifikasi potensi infeksi demam berdarah. 

Oleh karena itu, Infolabmed akan menjabarkan tentang pengertian, prosedur kerja, dan pentingnya Tes Tourniquet (Rumple-Leede Test) yang harus rekan ATLM ketahui dan fahami.

Apa itu Tes Tourniquet (Rumple-Leede Test)?

Tes Tourniquet, meskipun awalnya terkait dengan penggunaan tourniquet dalam terapi intravena, ternyata memiliki aplikasi lebih luas. 

Tes ini dilakukan dengan memasang alat pengikat elastis pada lengan atau tungkai pasien dan menggembungkan manset selama lima menit untuk membatasi aliran darah.

 Dokter kemudian memeriksa kulit di bawah manset untuk menilai adanya petekie, bintik-bintik perdarahan kecil yang bisa menjadi petunjuk terhadap masalah pembekuan darah atau infeksi demam berdarah.

Keuntungan dan Ruang Lingkup Penggunaan Tourniquet Test

Tes ini bukan hanya untuk skrining infeksi dengue, tetapi juga berguna dalam kondisi seperti trombositopenia, Rocky Mountain spotted fever, meningococcemia, disseminated intravascular coagulation (DIC), immune thrombocytopenic purpura, embolisme lemak, hingga sindrom Cushing.

 Petekie yang dihasilkan dapat memberikan petunjuk awal terhadap gangguan pembekuan darah, infeksi, atau reaksi obat-obatan.

Perbedaan Petekie, Purpura, dan Ekimosis

  1. Petekie: Bintik-bintik kecil berwarna merah atau ungu, ukuran kurang dari 3 mm, muncul karena perdarahan di bawah kulit. Tidak menimbulkan rasa sakit atau gatal.

  2. Purpura: Bercak merah ungu atau kebiruan, ukuran lebih dari 3 mm, bisa menyebar ke seluruh tubuh. Dapat disebabkan oleh infeksi, obat-obatan, atau penyakit autoimun.

  3. Ekimosis: Perubahan warna kulit lebih besar dari purpura, ukuran lebih dari 1 cm, muncul akibat cedera atau trauma.

Alat yang Digunakan dalam Tes Tourniquet

  1. Sphygmomanometer
  2. Stetoskop
  3. Stopwatch

Rumus Perhitungan

Perhitungan tekanan yang akan dilakukan menggunakan sphygmomanometer adalah: TD Sistol + TD Diastol / 2. Ini penting untuk hasil yang akurat.

Prosedur Tes Tourniquet

  1. Siapkan alat-alat yang diperlukan.
  2. Jelaskan kepada pasien tujuan tes.
  3. Pasang manset sphygmomanometer pada lengan.
  4. Pompa udara ke dalam manset pada tekanan yang telah dihitung.
  5. Biarkan manset tetap terpasang selama 10 menit.
  6. Lepaskan pompa udara secara perlahan-lahan.
  7. Catat tekanan darah ketika petekie pertama kali terlihat.
  8. Hitung banyaknya petekie dalam lingkaran berdiameter 5 cm pada volar lengan bawah.

Pentingnya Tes Tourniquet untuk Perawat

Tes Tourniquet memegang peran vital dalam pemeriksaan pasien dengan penyakit infeksi, terutama demam berdarah. 

Perawat, sebagai pelaksana utama tes ini, perlu memahami prosedur dan tanda-tanda komplikasi yang mungkin terjadi. Pengetahuan yang tepat akan memastikan pemberian perawatan yang optimal.

Dengan memahami konsep Tes Tourniquet, perawat dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pemeriksaan dan perawatan pasien.

 Tes ini bukan hanya sekadar alat diagnostik, tetapi juga jendela untuk mendeteksi dini masalah pembekuan darah dan potensi infeksi. 

Dengan begitu, kualitas perawatan pasien dapat ditingkatkan secara keseluruhan.

Semoga penjelasan ini membantu memahami lebih dalam tentang Tes Tourniquet (Rumple-Leede Test). ***

DONASI VIA DANA ke 085862486502 Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda ini akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Donasi klik Love atau dapat secara langsung via Dana melalui : 085862486502. Terima kasih.

Post a Comment

0 Comments