Rapid Diagnosis of Malaria – Metode Cepat untuk Mendeteksi Penyakit Malaria

Rapid Diagnosis of Malaria – Metode Cepat untuk Mendeteksi Penyakit Malaria

INFOLABMED.COM - Penyakit malaria tetap menjadi perhatian global karena dampaknya yang signifikan terhadap kesehatan masyarakat. 

Saat ini, terdapat berbagai metode diagnostik untuk mendeteksi penyakit ini. Salah satu pendekatan yang terus dikembangkan dan memberikan dampak positif adalah metode cepat untuk diagnosis malaria.

Meskipun pemeriksaan smear darah tepi masih dianggap sebagai standar emas untuk diagnosis malaria, metode tes imunokromatografi untuk mendeteksi antigen malaria, yang dikembangkan dalam dekade terakhir, membuka jalan baru dan menarik dalam diagnosis malaria. 

Pada artikel ini, penulis dapat mencermati informasi dari penelitian yang dilakukan oleh Kakkilaya BS pada tahun 2003 dan mengulas lebih lanjut tentang tes imunokromatografi untuk antigen malaria.

Tes Imunokromatografi untuk Antigen Malaria Tes imunokromatografi didasarkan pada penangkapan antigen parasit dari darah tepi menggunakan antibodi monoklonal atau poliklonal terhadap target antigen parasit.

 Saat ini, tes imunokromatografi dapat menargetkan protein kaya histidin 2 dari P. falciparum (PfHRP2), Plasmodium aldolase, dan enzim lactate dehydrogenase yang spesifik pada parasit. Tes ini tidak memerlukan laboratorium, listrik, atau peralatan khusus.

Tes cepat malaria dikembangkan dalam berbagai format seperti strip, kartu, dan kaset.

Prosedur pemeriksaan yang pada umumnya dilakukan, melibatkan spesimen darah (2 hingga 50µL), yang dapat berupa darah jari, darah yang diantikoagulasi, atau plasma. 

Jika antigen target terdeteksi didalam darah, kompleks antigen/antibodi yang diberi label akan terbentuk dan bermigrasi ke atas pita uji untuk ditangkap oleh antibodi penyaring yang terdeposit sebelumnya.

Kemudian, larutan buffer ditambahkan untuk menghilangkan hemoglobin dan memungkinkan visualisasi garis berwarna yang terbentuk oleh kompleks antigen-antibodi yang terimobilisasi.

Namun, artikel juga mencatat beberapa masalah yang dihadapi tes cepat malaria, termasuk reaksi silang dengan autoantibodi, sensitivitas yang bervariasi, dan masalah identifikasi spesies Plasmodium yang benar.

 Reaksi palsu positif dan negatif, serta ketidakmampuan untuk membedakan infeksi campuran, menjadi tantangan utama.

Meskipun tes cepat malaria dianggap dapat dilakukan oleh individu dengan pelatihan minimal, artikel menyoroti bahwa hasil tes perlu diinterpretasikan dengan hati-hati. 

Pada artikel ini menekankan pentingnya konfirmasi melalui mikroskopi jika hasil tes RDT negatif. Tes ini memiliki keuntungan, tetapi juga keterbatasan yang perlu diperhitungkan.

Penting untuk dicatat bahwa FDA Amerika Serikat telah menyetujui penggunaan tes cepat malaria pada tahun 2007 untuk digunakan di laboratorium rumah sakit dan komersial. 

Namun, tantangan masa depan termasuk perbaikan sensitivitas dan spesifisitas tes serta penanganan masalah yang berkaitan dengan antigen persisten dan ketidakmampuan untuk membedakan antara parasitemia seksual dan aseksual.

Metode cepat untuk mendiagnosis malaria memberikan kontribusi signifikan dalam upaya pengendalian penyakit ini. 

Namun, pemahaman yang mendalam tentang kelebihan dan keterbatasan tes ini penting agar hasil diagnosis tidak menimbulkan kebingungan. 

Artinya, sambil mengambil keuntungan dari perkembangan teknologi ini, para profesional kesehatan dan peneliti perlu tetap waspada terhadap aspek-aspek kritis yang mempengaruhi keakuratan hasil tes.***

DONASI VIA DANA ke 085862486502 Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda ini akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Donasi klik Love atau dapat secara langsung via Dana melalui : 085862486502. Terima kasih.

Post a Comment

0 Comments