Teknik Diagnostik Tradisional untuk Penyakit Menular

 

Mikroskopi Melihat Dunia Mikro Lebih Dekat
Sumber : Canva

INFOLABMED.COM - Dalam dunia medis yang terus berkembang, upaya untuk mengidentifikasi dan mendiagnosis penyakit menular memegang peranan yang sangat penting. 

Salah satu langkah awal yang esensial dalam proses ini adalah melalui penggunaan teknik diagnostik tradisional. 

Teknik-teknik ini telah digunakan secara luas sejak zaman dulu dan tetap menjadi pondasi penting dalam upaya pemberantasan penyakit menular. 

Dalam artikel ini, kami akan membahas secara rinci berbagai teknik diagnostik tradisional yang telah membantu para profesional medis dalam mengidentifikasi agen penyebab penyakit menular. 

Kami akan menjelaskan metode-metode seperti mikroskopi, karakterisasi biokimia, imunodiagnostik, dan tipografi fag yang telah menjadi landasan dalam dunia diagnosis medis. 

Dengan memahami dengan mendalam tentang teknik-teknik ini, para profesional medis akan dapat memberikan pelayanan yang lebih akurat dan efektif kepada pasien mereka. 

Yuk, mari kita mulai menjelajahi dunia teknik diagnostik tradisional untuk penyakit menular yang menarik dan bermanfaat!

Mikroskopi: Melihat Dunia Mikro Lebih Dekat

Mikroskopi melibatkan penggunaan berbagai jenis mikroskop untuk mengamati organisme mikro dalam sampel klinis yang diperbesar. 

Mikroskop adalah instrumen optik dengan daya pisah spesifik, yang merupakan batas dari apa yang bisa dilihat melalui instrumen tersebut, atau resolusi.

 Mata telanjang memiliki resolusi perkiraan sebesar 2mm dibandingkan dengan mikroskop komposit, mikroskop elektron pemindaian, dan mikroskop elektron transmisi dengan resolusi masing-masing 0.2┬Ám, 20nm, dan 0.2nm (Engelgirk dan Duben-Engelkirk, 2008).

Karakterisasi Biokimia: Menggali Informasi Melalui Kultur

Teknik kultur adalah metode tradisional untuk menentukan penyebab bakteri atau jamur penyakit infeksi pasien dengan cara mengembangkan patogen dalam budaya murni dan mengumpulkan informasi tentang fenotipe-nya untuk identifikasi. 

Tes biokimia digunakan untuk identifikasi lebih lanjut patogen dengan mendeteksi kehadiran atau ketidakhadiran enzim tertentu atau menentukan kemampuan organisme untuk mengkatabolisasi berbagai substrat (Cheesbrough, 1991; Engelgirk dan Duben-Engelkirk, 2008). 

Kromatografi Gas-Cair (GLC) sering digunakan di laboratorium referensi sebagai tambahan untuk metode identifikasi lainnya bagi bakteri dan ragi berdasarkan analisis asam dan produk metabolisme serta analisis asam lemak seluler.

Imunodiagnostik: Deteksi Melalui Antigen dan Antibodi

Prosedur imunodiagnostik (IDPs) membantu dalam diagnosis penyakit menular berdasarkan deteksi antigen atau antibodi dalam spesimen klinis. 

Salah satu keuntungan IDPs adalah bahwa hasilnya sering kali tersedia pada hari yang sama dengan pengambilan spesimen klinis dari pasien. 

Deteksi antigen patogen tertentu dalam sampel klinis merupakan indikasi bahwa patogen tersebut hadir dalam pasien, dengan demikian memberikan bukti langsung bahwa pasien terinfeksi oleh patogen tersebut. 

Di sisi lain, mendeteksi antibodi terhadap patogen tertentu adalah bukti tidak langsung infeksi oleh patogen tersebut. 

Namun, kehadiran antibodi terhadap patogen tertentu dapat dikaitkan dengan infeksi saat ini, infeksi masa lalu, atau vaksinasi terhadap organisme tersebut (Engelgirk dan Duben-Engelkirk, 2008).

Tipografi Fag: Mengetahui Lebih Dekat Strain Bakteri

Tipografi Fag melibatkan penggunaan bakteriofag (virus yang menginfeksi dan lisis bakteri) untuk mengetahui jenis strain bakteri dari suatu spesies yang diberikan. 

Bakteriofag seringkali spesifik untuk strain dalam spesies tertentu, sehingga ketika isolat bakteri terpapar pada panel bakteriofag, sebuah profil dihasilkan – daftar bakteriofag mana yang mampu menginfeksi dan melisis bakteri (Pitt dan Gaston, 1995; Bannerman et al., 1995).

 Semakin erat hubungan antara strain bakteri, semakin mirip profil bakteriofag-nya. Profil bakteriofag telah berhasil digunakan untuk mengetahui berbagai organisme yang terkait dengan wabah epidemi (Hickman-Brenner et al., 1991).

Sensitivitas dan Spesifisitas dalam Diagnosis Tradisional

Teknik diagnostik tradisional memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang bervariasi, yang memengaruhi pemilihan dan penerapannya dalam suatu setting tertentu untuk diagnosis penyakit menular. 

Sensitivitas merujuk pada kemampuan suatu prosedur diagnostik untuk memberikan tes positif saat patogen hadir, sedangkan spesifisitas merujuk pada kemampuan suatu prosedur untuk secara tepat mengidentifikasi orang yang tidak terinfeksi.

Dalam dunia yang semakin digital, penting bagi para profesional medis untuk memahami teknik-teknik diagnostik tradisional ini agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas. 

Dengan memahami kelebihan dan keterbatasan dari setiap teknik diagnostik, para dokter dan tenaga medis dapat membuat keputusan yang lebih akurat dalam mendiagnosis penyakit menular pada pasien.***

Sumber : 

  • Sarkinfada, F, dkk. 2014. APPLICATIONS OF MOLECULAR DIAGNOSTIC TECHNIQUES FOR INFECTIOUS DISEASES. Bayero Journal of Pure and Applied Sciences, 7(1): 37 – 45. 



Ikuti berita terkini dengan mengikuti kami di Google News atau klik tautan ini Google News INFOLABMED.



DONASI VIA DANA ke 085862486502 Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda ini akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Donasi klik Love atau dapat secara langsung via Dana melalui : 085862486502. Terima kasih.

Post a Comment

0 Comments