Staphylococcus aureus: Karakteristik dan Faktor Virulensi

Staphylococcus aureus Karakteristik dan Faktor Virulensi
(Gambar : Biomerieux)


INFOLABMED.COM - Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif berbentuk kokus yang memiliki sifat-sifat khusus yang membedakannya dari bakteri lain. 

Dalam artikel ini, kami akan membahas karakteristik Staphylococcus aureus serta faktor-faktor virulensi yang membuatnya menjadi patogen yang potensial.

Karakteristik Staphylococcus aureus

Staphylococcus aureus memiliki beberapa karakteristik unik yang memudahkan pengenalan dan identifikasi mikroorganisme ini. 

Bakteri ini bersifat non-motil dan nonspora, yang berarti tidak memiliki kemampuan untuk bergerak aktif dan tidak membentuk spora saat mengalami kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. 

Staphylococcus aureus juga merupakan anaerob fakultatif, artinya dapat tumbuh baik dalam kehadiran oksigen maupun tanpa oksigen.

Bakteri ini menunjukkan katalase positif dan oksidase negatif dalam tes laboratorium, yang membantu membedakannya dari bakteri lainnya. 

S. aureus juga memiliki preferensi suhu tumbuh antara 6,5 hingga 46 derajat Celsius, dengan kisaran pH optimal sekitar 4,2 hingga 9,3. 

Koloni bakteri ini tumbuh dengan cepat, mencapai diameter sekitar 4 mm dalam waktu 24 jam. Koloni ini berbentuk bundar, halus, menonjol, dan berkilau, dengan warna abu-abu hingga kuning keemasan yang khas.

Pigmen lipochrom yang dihasilkan oleh S. aureus menyebabkan koloninya tampak berwarna kuning keemasan atau kuning jeruk.

Pigmen kuning tersebut membedakannya dari bakteri lain, seperti Staphylococcus epidermidis, yang menghasilkan pigmen putih. Selain itu, pigmen kuning keemasan S. aureus akan terbentuk dengan baik pada suhu kamar (20-25ยบ C).

Faktor Virulensi S. aureus

Staphylococcus aureus adalah patogen yang potensial karena memiliki berbagai faktor virulensi yang memungkinkannya menyebabkan infeksi pada manusia. 

Berikut adalah beberapa faktor virulensi utama dari bakteri ini:

Protein Permukaan: Bakteri ini menghasilkan berbagai jenis protein permukaan, termasuk protein A, adesin, hemaglutinin, glikoprotein, dan fibrionectin, yang membantu dalam kolonisasi dalam jaringan hospes.

Invasin: S. aureus menghasilkan beberapa enzim invasin, seperti leukocidin, kinase, dan hyaluronidase, yang membantu bakteri menyebar dalam jaringan tubuh.

Faktor Permukaan: Beberapa faktor permukaan seperti kapsul dan protein A membantu bakteri menghindari fagositosis, yaitu respons pertahanan sel darah putih terhadap bakteri.

Faktor Biokimia: S. aureus memiliki mekanisme untuk meningkatkan ketahanan terhadap fagosit, misalnya dengan produksi katalase dan carotenoid.

Reaksi Imunologis: Beberapa faktor virulensi, termasuk protein A, coagulase, dan clotting factor, mempengaruhi reaksi sistem imun dalam melawan infeksi.

Toksin Perusak Membran: Bakteri ini menghasilkan berbagai toksin, seperti hemolysin, leukotoxin, dan leukocidin, yang merusak membran sel dan menyebabkan kerusakan jaringan.

Eksotoksin: Beberapa eksotoksin dalam jaringan dapat menyebabkan gejala penyakit, seperti Sindrom Toksik Syok (TSS), Gastroenteritis Staphylococcal (SEA-G), dan Toksin Syok Staphylococcal (TSST).

Penyakit yang Disebabkan oleh S. aureus

Staphylococcus aureus dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia, tergantung pada area tubuh yang terinfeksi dan sistem kekebalan tubuh penderita. 

Berikut adalah beberapa penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini:

Infeksi Tenggorokan: S. aureus dapat menyebabkan infeksi tenggorokan yang menyebabkan gejala seperti sakit tenggorokan, demam, dan pembengkakan kelenjar getah bening.

Pneumonia: Infeksi paru-paru oleh S. aureus dapat menyebabkan pneumonia, yang menimbulkan kesulitan bernapas, batuk, dan demam tinggi.

Meningitis: Bakteri ini dapat menyebabkan meningitis, yaitu infeksi pada membran pelindung otak dan sumsum tulang belakang.

Keracunan Makanan: S. aureus menghasilkan enterotoksin yang dapat menyebabkan keracunan makanan jika tertelan melalui makanan yang terkontaminasi.

Infeksi Kulit: Berbagai infeksi kulit, seperti impetigo, furunkel, dan selulitis, dapat disebabkan oleh bakteri ini.

Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS): Penyakit ini umumnya terjadi pada anak-anak usia kurang dari enam tahun dan ditandai dengan lepuh dan kemerahan pada kulit.

Osteomielitis: Infeksi tulang dan sumsum tulang dapat disebabkan oleh S. aureus dan biasanya membutuhkan pengobatan intensif.

Bakteremia: Infeksi S. aureus dapat menyebar ke aliran darah dan menyebabkan bakteremia, yang merupakan kondisi serius yang memerlukan perawatan medis sebagai berlangsung. Bakteriemi ini bisa menyebabkan infeksi serius pada organ tubuh lainnya.

Pencegahan dan Diagnosa Infeksi Staphylococcus aureus

Untuk mencegah infeksi oleh Staphylococcus aureus, diperlukan langkah-langkah pencegahan yang tepat, terutama di lingkungan yang rawan infeksi, seperti rumah sakit atau fasilitas perawatan kesehatan. 

Beberapa tindakan pencegahan yang dapat diambil meliputi:

Higienitas: Menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar sangat penting untuk mencegah penyebaran bakteri ini. 

Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir adalah langkah yang sederhana namun efektif.

Kontrol Infeksi: Fasilitas kesehatan harus mematuhi protokol kontrol infeksi yang ketat untuk mencegah penyebaran S. aureus antara pasien.

Vaksinasi: Beberapa vaksin telah dikembangkan untuk mencegah infeksi S. aureus, terutama pada populasi yang berisiko tinggi, seperti orang dengan kondisi medis tertentu.

Antibiotik yang Tepat: Penggunaan antibiotik yang tepat dan rasional harus diterapkan untuk mengatasi infeksi bakteri ini dan mencegah resistensi antibiotik.

Untuk mendiagnosis infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus, dilakukan langkah-langkah diagnostik seperti isolasi dan identifikasi bakteri dari sampel klinis. 

Identifikasi bakteri dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti mengamati morfologi koloni bakteri, penganalisaan mikroskopis melalui pewarnaan bakteri, dan uji biokimia. 

Uji biokimia dilakukan berdasarkan hasil metabolisme yang disebabkan oleh aktivitas enzim bakteri.

Uji Biokimia dalam Identifikasi Staphylococcus aureus

Salah satu uji biokimia yang sering digunakan dalam identifikasi Staphylococcus aureus adalah Uji Katalase. 

Uji ini dilakukan dengan meneteskan hidrogen peroksida pada preparat bakteri. Jika bakteri menghasilkan enzim katalase, maka akan terbentuk gelembung-gelembung udara, menunjukkan hasil positif.

Selanjutnya, Pewarnaan Gram juga merupakan uji penting dalam mengamati morfologi sel bakteri. Bakteri S. aureus akan muncul sebagai gram positif, dengan selnya terwarnai keunguan setelah diwarnai dengan gentian violet dan iodin.

Untuk membedakan Staphylococcus aureus dari bakteri lain, seperti Staphylococcus epidermidis, digunakan Mannitol Salt Agar (MSA). 

Staphylococcus aureus dapat mengfermentasi mannitol dan menyebabkan zona kuning di sekitar koloninya pada MSA.

Mengatasi Infeksi Staphylococcus aureus

Penting untuk diingat bahwa resistensi antibiotik telah menjadi masalah serius dalam pengobatan infeksi bakteri, termasuk oleh Staphylococcus aureus.

 Oleh karena itu, penggunaan antibiotik harus sesuai dengan panduan medis dan hanya diberikan oleh tenaga kesehatan yang kompeten.

Antibiotik yang digunakan untuk mengatasi infeksi Staphylococcus aureus biasanya termasuk penicillin dan cefalosporin untuk mengganggu sintesis dinding sel bakteri, serta chloramphenicol, tetracycline, aminoglikosida, dan makrolida untuk mengganggu sintesis protein bakteri.

Pemilihan antibiotik harus didasarkan pada hasil uji sensitivitas bakteri terhadap antibiotik tertentu. Penting juga untuk mengikuti dosis dan durasi pengobatan yang ditentukan oleh dokter.***


Ikuti berita terkini dengan mengikuti kami di Google News atau klik tautan ini Google News INFOLABMED.


DONASI VIA DANA ke 085862486502 Bantu berikan donasi jika artikelnya dirasa bermanfaat. Donasi Anda ini akan digunakan untuk memperpanjang domain www.infolabmed.com. Donasi klik Love atau dapat secara langsung via Dana melalui : 085862486502. Terima kasih.

Post a Comment

0 Comments