UJI KUALITAS AIR LABORATORIUM

(Img : https://usfhealthonline.com)

Uji Kualitas Air di Laboratorium

Air di dalam laboratorium digunakan untuk berbagai keperluan, antara lain pengenceran reagen (air derajat reagen), analisa blanko, pencucian dan lain - lain. Kebutuhan mutu air berbeda - beda tergantung dari tujuan air tersebut akan digunakan, misalnya air derajat reagen harus bebas dari zat - zat yang mengganggu analisa, sedangkan bila untuk pencucian hanya dibutuhkan air yang bersih saja. Laboratorium harus memeriksa apakah telah terjadi perubahan selama pembuatan sampai penggunaannya, untuk itu perlu dilakukan pengujian kualitas air. Untuk air yang dibuat sendiri, uji kualitas dilakukan setiap kali pembuatan, sedangkan untuk air yang dibeli, uji kualitas dilakukan setiap kemasan. Apabila hasil pengujian tidak memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan, maka dilakukan destilasi atau demineralisasi ulang. Pemeriksaan uji kualitas air berbeda - beda sesuai dengan jenis airnya.

1. Air Suling 

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi : 

  • Pemberian / Pemeriksaan Fisik Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tersebut jernih, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa.
  • Pemeriksaan Keasaman Kebasaan caranya Pada 10 ml air tambahkan 2 tetes larutan merah metil atau 5 tetes larutan biru bromtimol. Air tersebut memenuhi syarat bila tidak berwarna. Bila berwarna merah dengan larutan merah metil berarti air tersebut bersifat asam, sedangkan bila berwarna biru dengan larutan biru brom timol berarti bersifat basa.
  • Pemeriksaan Amonium Cara : Pada 50 ml air tambahkan 2 ml larutan kalium tetraiodohidrargirat ( II ) basa.  Buat larutan pembanding dengan mencampur 50 ml air bebas amoniak dengan 2 ml amonium klorida encer. Bandingkan warna air yang diperiksa dengan warna air dalam tabung pembanding di atas dasar putih. Air tersebut memenuhi syarat bila warnanya tidak lebih tua dari larutan pembanding.
  • Pemeriksaan Besi, Tembaga, Timbal Cara : Pada 100 ml air tambahkan 1 tetes larutan natrium sulfida 10,0% b/v. Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih dan tidak berwarna.
  • Pemeriksaan Kalsium Cara : Pada 100 ml air tambahkan 2 ml amonium oksalat 2,5% b/v Air tersebut memenuhi syarat bila tidak terjadi kekeruhan.
  • Pemeriksaan Klorida Cara : Pada 10 ml air tambahkan 1 ml larutan perak nitrat 5,0% b/v. Biarkan selama 5 menit, Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih dan tidak berwarna.
  • Pemeriksaan Nitrat Cara : Masukkan sejumlah air dalam sebuah tabung. Tuangkan dengan hati - hati 5 ml larutan difenilamin di atas air. Perhatikan warna pada bidang atas Air tersebut memenuhi syarat bila tidak terjadi warna biru pada bidang batas. 
  • Pemeriksaan Sulfat Cara : Pada 10 ml air tambahkan larutan harium klorida 12,0% b/v. Biarkan selama 5 menit. Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih dan tidak berwarna.
  • Pemeriksaan Karbondioksida cara : Pada 25 ml air tambahkan 25 ml larutan kalsium hidroksida 0,04 N. Biarkan selama 5 menit, Air tersebut memenuhi syarat bila cairan tetap jernih.
  • Pemeriksaan Zat Teroksidasi Cara : Pada 100 ml air tambahkan 10 ml asam sulfat encer (104 gram asam sulfat dan 896 gram air) dan 0,5 ml kalium permanganat 0,01 N. Kemudian didihkan. Air tersebut memenuhi syarat bila cairan berwarna merah ungu.
  • Pemeriksaan Sisa Penguapan Cara : Lakukan penguapan 100 ml air di atas penangas air hingga kering. Hasilnya tidaklebih dari 0,01 gr. 

2. Demineralisasi 

Pengujian air demineralisasi sama seperti pengujian yang dilakukan untuk air suling ditambah dengan pemeriksaan dibawah ini 

  • Pemeriksaan Amonia albuminoid Cara : Pada 500 ml air tambahkan 200 mg magnesium karbonat. Suling sebanyak 200 ml dan buang sulingan tersebut, Tambahkan 25 ml larutan kalium permanganat basa. Suling lagi sebanyak 100 ml dan buang sulingan tersebut. Tambahkan lagi 25 ml larutan kalium permanganat basa. Suling sebanyak 100 ml, Pada sulingan tersebut tambahkan 4 ml larutan kalium tetraiodohidrargirat (II) basa. Buat larutan pembanding dengan menambahkan 4 ml larutan kalium tetraiodohidrargirat (II) basa pada campuran 100 ml air bebas amoniak dan 4 ml larutan amonium klorida encer. Bandingkan warna air yang diperiksa dengan larutan pembanding. Air tersebut memenuhi syarat bila warna yang terjadi tidak lebih tua dari warna larutan pembanding.
  • Pemeriksaan daya tahan listrik (resistivitas) Cara : Ukur daya tahan listrik air demineral segar dengan alat penukar ion. Air tersebut memenuhi syarat bila hasilnya tidak kurang dari 1 megaohm cm. 

3. Air Bersih 

Pemeriksaan air bersih mencakup peme1riksaan fisika, kimia dan mikrobiologi seperti dalam contoh gambar di bawah ini. 


Gambar : Good Laboratory Practice 

Sumber : Pedoman Praktik Laboratorium Yang Benar (Good Laboratory Practice) 

Post a Comment

0 Comments