Tahapan Manajemen Resiko Laboratorium

Sumber : https://genecraftlabs.com


Manajemen Resiko

Dalam menjalankan kegiatan di laboratorium, banyak sekali kemungkinan - kemungkinan seorang pekerja terpapar dengan spesimen yang berkemungkinan infeksius. Selain spesimen yang infeksius, pekerja dapat juga terpapar dengan instrumen ataupun pelengkap dari instrumen yang berhubungan dengan pengolahan spesimen itu. Ketika di dalam laboratorium sering terpapar suatu yang dapat menyebabkan kecelakaan dan menganggu kesehatan pekerja. Untuk itu diperlukan suatu tindakan pencegahan. Dalam mencegah kecelakaan dan menjaga kesehatan petugas dalam bekerja, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan. Berikut ini tahapan tersebut.

1. Identifikasi Dan Evaluasi

Bahaya Langkah pertama dalam manajemen risiko adalah mengidentifikasi sumber bahaya dari tempat kerja. Jika ini tidak pernah dilakukan, mungkin ini adalah tugas yang berat bagi anda, terutama jika ada reagen atau bahan kimia yang telah lama di dalam wadah dengan label yang sudah mulai menghilang. Apapun yang tidak dapat diidentifikasikan atau dipertanyakan maka harus harus disisihkan untuk dibuang. 

Identifikasi sumber bahaya dimulai ketika membuat suatu persediaan bahan kimia, dan ini adalah bagian penting dari upaya tersebut. Selain bahaya bahan kimia bahaya listrik, mekanik dan biologis harus juga disertakan. Pada tahap identifikasi awal ini, sertakan sifat bahaya dengan istilahnya, lokasi dan prosedur yang terkait terhadap penggunaannya. Jika tidak ada penemuan tentang penggunaan pada saat ini, maka buang barang tersebut. 

Untuk bahan kimia berbahaya, lembar data inventaris dan pengelolaan telah banyak tersedia baik secara nasional maupun tersedia dari database di Internet. File lembar data harus disimpan di lokasi yang aman dan karyawan harus diberi akses yang mudah dan terjangkau. Sebaiknya simpan file ganda yang mudah untuk diakses di laboratorium jika dalam kondisi darurat. Beberapa lembaran data inventaris mungkin tidak dapat ditemukan untuk reagen sudah usang di area penyimpanan. Ketika Anda menemukan hal ini akan muncul masalah tanpa solusi, hal ini dikarenakan pembuangan yang sah tetap membutuhkan lembar data. Namun jika hal tersebut terjadi maka anda harus membuatnya ulang atau menyewa perusahaan yang berkualifikasi untuk melakukan hal itu. 

Setiap laboratorium memerlukan evaluasi dalam antisipasi tingkat resiko. Evaluasi tingkat keparahan masing - masing bahaya yang ada. Berapakah volume atau besarnya barang berbahaya itu ? Berapa banyak yang digunakan per hari atau beberapa unit yang digunakan dalam periode waktu tertentu ? Sekarang Anda letakkan informasi itu dalam lembar data dalam skala penggunaan di laboratorium. Evaluasi ini harus mencakup risiko yang terkait dengan penggunaan, penghilangan (tumpahan dan penguapan) dan pembuangan secara normal. Anda dilarang meremehkan resiko, tapi tetap perhitungan antara skala besar dan skala penggunaan oleh teknisi.

2. Perencanaan Meminimalkan Resiko

Ketika sumber bahaya telah terdaftar dan dievaluasi, putuskan bagaimana mengurangi risiko. Setiap item harus diteliti, bukan hanya yang menawarkan bahaya terbesar. Lihatkan skala prioritaskan. Tujuan dari perencanaan ini adalah untuk mengurangi risiko pada tingkat yang dapat diterima. Namun sebaiknya melalui rangkaian pilihan yang semakin lama semakin memberatkan dan beresiko. Kontrol praktik kerja adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah. Kontrol praktik kerja melibatkan penghapusan, pengurangan dan daur ulang segala sesuatu yang mungkin terjadi. Jika tidak berhasil, kontrol teknik harus diimplementasikan. 

Hal hal yang berhubungan dengan kontrol teknik ini melibatkan sistem ventilasi, perangkat proteksi kebakaran dan perubahan lainnya yang berhubungan dengan fasilitas ini. Jika semua tindakan ini gagal atau tidak mungkin tercapai, alat peraga pribadi ( APD ) harus digunakan sebagai upaya terakhir. APD tidak boleh menjadi pilihan pertama, meski mungkin ini cara yang paling jelas untuk melindungi pekerja. 

Ada beberapa cara untuk mengurangi risiko, yang pertama harus dilakukan adalah bagaimana menghilangkan bahaya secara bersamaan. Daftar bahan kimia usang di laboratorium Anda segera diinventaris, berapa banyak laboratorium Anda masih menggunakan ? Contoh : masihkan Anda menggunakan benzen dan dioxane? Maka jangan heran dalam beberapa tahun lagi histolog dan ilmuwan biokesehatan tidak lagi akan menggunakan xylene, toluene, chloroform, methacrylate, picric acid, uranyl nitrat dan formaldehida. Secara praktis setiap bahan kimia berbahaya dapat diganti dengan pengganti yang lebih aman dan lebih unggul secara teknis. Jika menghilangkan sumber bahaya tidak dimungkinkan, pertimbangkan bagaimana cara pengurangannya. Ketika ini dilakukan maka akanmelibatkan perubahan prosedural, jadi pastikan untuk memperhitungkan segala resiko manajemen sebelum mengiplementasikan pengurangan untuk waktu ke depan. Salah satu gagasan umum untuk pengurangan faktor resiko dari sumber bahaya adalah dengan menggunakan wadah spesimen yang lebih kecil untuk fiksasi, melakukan daur ulang larutan fiksasi yang disaring dengan filter, mengurangi volume dan waktu paparan bahan kimia. 

Ketika dilakukan perencanaan maka Anda harus memasukkan justifikasi kepada para manajer. Alasan untuk perubahan seharusnya tidak hanya bergantung pada peningkatan keamanan. Pertimbangan keuangan yang bisa menjadi menjadi argumen kuat Anda untuk perubahan. Pada awalnya perubahan akan menghabiskan lebih banyak biaya, namun keuntungan jangka panjang biasanya mudah dihitung pula. Contoh, bahan pengganti formalin dapat lebih mahal daripada formalin yang biasa digunakan, namun penggunaannya akan menjadi penghematan yang signifikan nantinya, baik dari sisi teknis laboratorium atau biaya-biaya yang harus dikeluarkan dalam menanggung keselamatan dan kesehatan kerja. Hal ini diperlukan untuk mendapatkan tenaga kerja yang lebih sehat. Ketika larutan fiksasi tergantikan, maka tempat kerja setiap personil tidak perlu lagi untuk dipantau dari uap yang berbahaya, dan biaya pembuangan biasanya dapat dihilangkan.

3. Terapkan Rencananya

Memiliki rencana tidak akan ada gunanya jika tidak diimplementasikan. Prioritaskan perubahan yang dijelaskan dan terukur dalam rencana. Lakukan perubahan yang mudah ditangani dengan segera, jangan menunda resiko yang membawa dampak negatif bagi kesehatan atau lingkungan.


Sumber : Bancroft J.D , Gamble M. ( 2008 ). Theory and Practice of Histological Techniques. Philadelphia : Elsevier & Bahan Ajar Teknologi Laboratorium Medik

Post a Comment

0 Comments